Jarak (tumbuhan): Perbedaan revisi

13 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
(potensi tanaman di Indonesia, produk utama, produk sekunder, kajian metabolomik yang telah dan akan dilakukan)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
==== 1.2 Jarak kepyar ====
[[Berkas:Ricinus communis002.JPG|jmpl|152x152px|Jarak Kepyar]]
Pohon jarak kepyar sangat berbeda dengan jarak pagar. Dari sisi batang, daun, bunga hingga buahnya lebih mirip seperti tumbuhan singkong. Buah jarak kepyar hampir mirip seperti buah rambutan kecil. Pohon jarak kepyar banyak ditemukan di pinggiran pantai atau hutan liar. Jarak ini banyak ditemukan di daerah pantai yang masih asri, terutama pada daerah pedesaan yang lingkungannya masih belum terjamah.
 
==== 1.3 Jarak wulung ====
 
=== 3. Persyaratan Tumbuh ===
Tanaman jarak termasuk tanaman yang mudah adaptasi dengan lingkungan baru, namun alangkah baiknya jika tanaman jarak tumbuh dengan lingkungan yang optimal, dengan ketinggian tempat 0-1000 m Dpl, suhu berkisar antara 18 derajat celcius – 30 derajat celcius, curah hujan 300 mm – 1200 mm per tahun, drainase baik, tidak tergenang, dan pH tanah 5.0 – 6.5.
 
==== 3.1 Tanah ====
2)     Proses Pembuatan Biodiesel
 
- Reaksi Esterifikasi : CJO mempunyai komponen utama berupa trigliserida dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas harus dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu reaksi pembuatan biodiesel (reaksi transesterifikasi). Penghilangan asam lemak bebas ini dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi.
 
Pada reaksi ini asam lemak bebas direaksikan dengan metanol menjadi biodiesel sehingga tidak mengurangi perolehan biodiesel. Tahap ini menghasilkan ''Jatropa Oil'' (JO) yang sudah tidak mengandung asam lemak bebas, sehingga dapat dikonversi menjadi biodiesel melalui reaksi transesterifikasi.
 
== Potensi Tanaman Jarak di Indonesia ==
Tanaman jarak sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia didukung oleh ketersediaan lahan untuk pengembangan  jarak  pagar di  Indonesia  yang sangat  sesuai  mencapai 14,2  juta  hektar dengan  ketersediaan  saat   ini    sekitar    5   juta    hektar.    Untuk mengimbangi ketersediaan lahan yang telah ada juga dilakukan penyediaan benih unggul untuk pengembangan  jarak  pagar seluas  2,4  juta ha  tahun 2025 dan telah diperoleh  tanaman  superior dari  aksesi- aksesi  yang dikoleksi.  Budidaya  tanaman jarak  relatif masih  baru  dan teknologi  budidayanya  terus dikembangkan   seperti  halnya,   komponen   teknologi pengendalian hama dan penyakit, pola tanam, pemupukan  serta  teknologi pengolahannya.  Saat  ini total   produksi   biji  jarak   seluruh   Indonesia  masih sangat rendah hanya sebesar 7.852 ton pada tahun 2007 dari luas areal 68.200 ha, meningkat menjadi 7.925 ton tahun 2008 dari areal 69.221 ha dan tahun 2009 menjadi 8.013  dari  luas areal  69.315  ha. Masalah  utama  dalam membantu   percepatan  pengembangan   jarak   pagar selain pengembangan  komponen  teknologi budidaya adalah  mencari  terobosan baru  untuk  meningkatkan produktivitas tanaman.  Hal ini bisa  ditempuh  melalui bioteknologi   dan  rekayasa genetika   serta   mencari sumber  keragaman baru  genetika  dari negara  asal, termasuk dari negara-negara Amerika Latin <ref name=":1" />
 
Saat ini terdapat beberapa daerah di Indonesia yang telah digalakkan untuk mengembangkan penanaman jarak seperti daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Beberapa tahun ke depan, NTB diharapkan menuju sebagai salah satu daerah penghasil minyak jarak terbesar di Indonesia. NTB dijadikan lokasi uji coba penanaman jarak nasional dan diyakini dalam waktu relatif tidak lama menjadi daerah penghasil minyak jarak terbesar. Pengolahan minyak jarak sebagai pengganti BBM alternatif juga menjadi lapangan kerja baru bagi masyarakat di daerah itu<ref name=":1" />
 
=== 1. Potensi Tanaman Jarak di Jawa Barat ===
Petani Jabar sebenarnya masih trauma untuk menanam jarak karena sebelumnya sempat mengalami kegagalan dalam pengembangan. Pengembangan tersebut tidak berlanjut karena gagal dalam hal teknologi, pasar, dan sumber daya manusia. Dahulu pemerintah sudah mencoba mengembangkan tanaman jarak dengan melibatkan banyak pihak termasuk BUMN tapi gagal karena tidak ada pasar yang mau menampung. Harganya sangat rendah yaitu hanya Rp 700 per kg. Pengembangan jarak di Jabar sudah terhenti sejak 2010. Salah satu permasalahannya adalah hasil produksinya belum memiliki nilai ekonomis. Melalui anggaran  APBN Dinas Perkebunan Jabar, pengembangan jarak pagar dilakukan selama 2006 – 2009. Saat itu lokasinya meliputi Subang, Cirebon, dan  Kota Banjar. Pengembangannya seluas 630 ha dan ada 54 kebun bibit yang tersebar di beberapa wilayah di Jabar<ref name=":1" />
 
Padahal dalam analisis finansial usaha tani jarak hasil penelitian Indrawanto et al. (2009) untuk luasan areal 10 ha dengan asumsi; populasi tanaman 2.500 pohon/ha, produktivitas maksimum sebesar 7 ton biji kering dicapai umur 5 tahun, periode analisis selama 30 tahun dan nilai discount factor sebesar 12 % dengan harga Rp.1.200,-/kg biji kering menunjukkan usahatani jarak pagar ini layak diusahakan. Hasil analisis sensitivitas ternyata break event point finansial usahatani terjadi apabila harga biji kering jarak Rp.1.000,-. Dari segi analisis finansial agroindustri biodiesel ternyata prospek agroindustri biodiesel dalam skala kecil hasil 100 l minyak jarak kasar (''crude jatropha oil'') selama 5 jam juga layak dilaksanakan dengan kondisi break event point harga biodiesel sebesar Rp.6.540,-/l dengan asumsi kondisi lainnya tetap. Namun demikian, perkembangan produksi yang terjadi di tingkat petani tidak sesuai dengan yang diprediksi oleh karena berbagai masalah dan kendala sebagai berikut :
 
a. Komponen teknologi seperti: varietas, budidaya, pasca panen dan alat pengolahan yang masih dalam taraf penelitian. Sebagai contoh, varietas yang dihasilkan ternyata produktivitas per hektar masih rendah dengan kesesuaian lahan yang belum jelas, sehingga apa yang dihasilkan saat ini belum layak untuk diolah menjadi biodiesel.
 
b. Dari segi sosial dan ekonomi masyarakat belum mengetahui budidaya dan pengolahan jarak pagar, disamping itu nilai keekonomian minyak jarak belum jelas dibandingkan dengan minyak tanah. Kejelasan dari pengembangan jarak pagar hanya dapat dilaksanakan di daerah pedalaman atau pada daerah perbatasan yang jauh dari pusat-pusat bisnis.
 
c. Dalam hal kelembagaan dan managemen belum terlihat adanya kelembagaan di tingkat kelompok tani maupun kelembagaan penanganan pasca panen dan jaminan pasar terutama pembeli produk biji kering, biodiesel dan hasil ikutannya.
 
d. Koordinasi antar lembaga dalam hal pengembangan jarak pagar belum tertata dengan baik seperti adanya pasar, lahan untuk kebun, pembiayaan, insentif untuk industri biodiesel, penelitian yang terintegrasi dan teknologi benih sampai industri bibit, dan kegiatan penyuluhan (pelatihan, bimbingan dan pengawalan).
 
=== 1.1   Material Polimer ===
Turunan dari minyak jarak dapat digunakan untuk sintesis monomer terbarukan dan polimer. Salah satunya adalah polyester biodegradable yang ramah lingkungan dan banyak diaplikasikan pada biomedis.
[[Berkas:FTIR spectrum.jpg|jmpl|Contoh analisis karakterisasi]]
 
Selanjutnya, pendekatan proteomik menghasilkan wawasan besar ke biologi sistem tanaman secara umum dan dapat mengeksplorasi jalur metabolisme jarak. Pengetahuan tentang kandungan protein dan pola distribusi dalam mengembangkan benih sebagai jaringan harus mendapat perhatian khusus, dan akan memberikan rincian mekanisme pengaturan di Jatropha [8]. Oleh karena itu, teknologi penting untuk meningkatkan deteksi protein yang berlimpah, serta anotasi protein seperti analisis protein target dan non-target. Bertentangan dengan proteomik, yang analisisnya dapat dimulai dari urutan genomik, untuk metabolomik tidak ada referensi inisiasi. Meskipun 164 senyawa dan beberapa jalur metabolisme penting di ''Jatropha'' telah dikenali, pemahaman kita tentang jalur kompleks dan bagaimana mereka diatur dalam kondisi tekanan yang berbeda masih jauh dari lengkap<ref name=":6" />
 
Proses pembentukan biodiesel yang berasal dari tanaman jarak juga dapat dilakukan analisis metabolomik lebih lanjut yaitu dengan menganalisis kandungan metabolit yang ada pada metil ester yang dihasilkan dari proses ekstraksi minyak dari biji jarak. Untuk membuat biodiesel dari minyak jarak maka harus melalui tahap transesterifikasi, namun proses ini biasanya dilakukan masih secara fisika dan kimia, yaitu dengan melakukan pengepresan kemudian minyak jarak diproses lebih lanjut dengan metode esterifikasi-transesterifikasi untuk menurunkan kandungan asam lemak bebas yang dapat menurunkan kualitas dari minyak jarak sebagai bahan baku biodiesel. Tetapi transesterifikasi secara kimia memiliki kekurangan yaitu ''yield'' yang tidak begitu tinggi dan sulit untuk melakukan pemulihan gliserol. Cara enzimatis untuk transesterifikasi dapat dilakukan menggunakan bakteri dapat melakukan transesterifikasi lebih spesifik, pemulihan gliserol serta ''yield'' metil ester yang lebih tinggi sebagai bahan baku biodiesel. Untuk menguji dan membandingkan hasil antara proses transesterifikasi antara keduanya, maka dapat dilakukan analisis metabolomik untuk melihat pengaruh dari proses transesterifikasi bakteri tersebut. Hasil yang ada dibandingkan dengan standar mutu biodiesel yang ada. Dengan analisis metabolomik ini maka akan turut mengembangkan kualitas dari minyak jarak sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Oleh karena itu, analisis metabolomik penting akan mendukung pemahaman dan peningkatan tanaman jarak sebagai sumber biofuel. Ketika akan lebih banyak senyawa berupa metabolit-metabolit baru yang akan diketahui dari pendekatan metabolomik serta fungsinya secara jelas dan peranan dalam metabolisme jarak diketahui dengan baik, harga tanaman jarak akan dapat meningkat karena nilai yang terkandung didalamnya juga semakin tinggi. Diharapkan kajian metabolit pada pengembangan benih jarak dapat menaikkan harga jarak hingga Rp 1200/kg, dan analisis metabolit secara keseluruhan dari setiap bagian tanaman jarak untuk keperluan farmasi dapat meningkatkan harga tanaman jarak yang semula hanya Rp 700/kg menjadi Rp 1000/kg atau lebih<ref name=":6" />
 
== Referensi ==