Jambu monyet: Perbedaan revisi

14.836 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
Dilakukan penambahan konten mengenai penjelasan umum jambu mete, potensi jambu mete di indonesia, kondisi optimum pertumbuhan, penanaman, Produk utama, produk sekunder, dan kajian metabolomik
k (Bot: Perubahan kosmetika)
(Dilakukan penambahan konten mengenai penjelasan umum jambu mete, potensi jambu mete di indonesia, kondisi optimum pertumbuhan, penanaman, Produk utama, produk sekunder, dan kajian metabolomik)
 
Dalam [[bahasa Inggris]] dinamakan ''cashew (tree)'', yang diturunkan dari perkataan [[bahasa Portugis|Portugis]] untuk menamai buahnya, ''caju'', yang sebetulnya juga merupakan pinjaman dari nama dalam [[bahasa Tupi]], ''acajú''. Sementara nama [[genus|marganya]] (''Anacardium'') merujuk pada bentuk buah semunya yang seperti jantung terbalik.
 
Mete merupakan biji yang memiliki karakteristik dengan bentuk melengkung dan dapat dimakan. Biji jambu mete tinggi akan kandungan minyak dan memiliki rasa yang khas, serta kaya akan kandungan protein yang berkualitas premium. Biji mete ini banyak dikonsumsi sebagai makanan, baik dikonsumsi secara langsung maupun diaplikasikan dengan produk makanan lainnya. Disamping bagian biji dari tanaman mete merupakan bagian yang banyak digunakan serta dikonsumsi, tanaman ini menghasilkan kayu yang berguna dalam ekonomi lokal untuk barang-barang praktis seperti karang dan arang. Disamping itu, biji kacang mete juga diaplikasikan dalam pembuatan permen karet <ref name=":0">{{Cite web|url=https://www.britannica.com/plant/cashew|title=cashew {{!}} Description, Poison, & Processing|website=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2019-04-25}}</ref>
 
== Kondisi Pertumbuhan ==
Jambu mete merupakan tanaman asli dari timur laut Brasil. Kemudian, pada misionaris Portugis membawanya ke Afrika Timur dan India selama akhir abad ke-16, sehingga tanaman ini menjadi berlimpah di daratan rendah dekat pantai laut. Di dunia, jambu mete banyak dikultivasi di wilayah sekitar Brazil dan India. Disamping itu, banyak juga dikonsumsi pada wilayah asia selatan dan asia tenggara. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 12 meter di tanah subur dengan kelembaban yang tinggi <ref>{{Cite web|url=https://www.britannica.com/plant/cashew|title=cashew {{!}} Description, Poison, & Processing|website=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2019-04-25}}</ref>. Jambu mete tumbuh baik pada wilayah dengan temperature yang cukup hangat yaitu sekitar 25-40<sup>o</sup>C. Jambu mete ditanam dengan menanam biji segar dari jambu mete pada tanah yang lembab dan kaya akan nutrisi. Kemudian, biji dari jambu mete akan tumbuh pada 4-5 hari. Penanaman pohon dilakukan dengan jarak sekitar 10 meter antar pohon, serta dilakukan pada tanah yang memiliki banyak kandungan pasirnya <ref>{{Cite web|url=https://www.tropicalpermaculture.com/growing-cashews.html|title=Growing Cashews, How To Grow Cashew Trees, Nuts And Apples|website=www.tropicalpermaculture.com|access-date=2019-04-25}}</ref>. Disamping itu, jambu mete dapat tumbuh pada ketinggian 1-1.200 mdpl dengan optimum pada ketinggian 700 mdpl. Jambu mete juga cocok dikembangkan pada wilayah dengan kelembaban yang cukup tinggi yaitu sekitar 70-80%, tetapi memiliki toleransi untuk dapat tetap tumbuh pada suhu 60-70%. Daerah yang paling sesuai untuk budidaya jambu mete, berdasarkan curah hujannya yaitu daerah dengan curah hujan rata-rata 1.000-2.000 mm/tahun dengan 4-6 bulan kering (<60 mm). Berdasarkan jenis tanahnya, jenis tanah yang paling cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu mete yaitu tanah berpasir, tanah lempung berpasir, dan tanah ringan berpasir dengan pH sekitar 6,3-7,3 dan dapat tetap hidup pada pH 5,5-6,3 <ref name=":1">{{Cite web|url=http://disbun.jabarprov.go.id/page/view/59-id-jambu-mete|title=Jambu Mete|last=Media|first=4 Vision|website=Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat|access-date=2019-04-25}}</ref>.
 
== Penanaman ==
Penanaman jambu mete depat dilakukan dengan du acara pembibitan yaitu dengan cara generatif menggunakan biji dan cara vegetative menggunakan cangkok, stek, dan temple. Sejauh ini, metode yang banyak digunakan adalah dengan cara vegetatif atau menggunakan bibit vegetatif. Bibit vegetatif tersebut akan menghasilkan buah yang sangat identik dengan induknya. Tanah yang akan digunakan untuk budidaya terlebih dahulu dibajak atau dicangkul supaya lebih gembur. Kemudian dibuat lubang tanam dengan kedalaman 50cm dan memiliki lebar 35-40cm dengan jarak tanam sekitar 5m. Karena kacang mete merupakan tanaman yang optimum tumbuh pada kondisi lingkungan lembab, maka harus dilakukan proses penyiraman secara teratur hingga usia satu bulan. Tanaman jambu mete tersebut juga harus diberi pupuk agar pertumbuhannya lebih maksimal <ref>{{Cite web|url=http://www.agrowindo.com/peluang-usaha-budidaya-jambu-mete-dan-analisa-usahanya.htm|title=Peluang Usaha Budidaya Jambu Mete dan Analisa Usahanya|date=2017-06-09|website=Agrowindo|access-date=2019-04-25}}</ref>.
 
== Potensi di Indonesia ==
Jambu mete merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai penting dalam perekonomian Indonesia. Saat ini, jambu mete menjadi andalan bagi perkonomian masyarakat Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur. Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak mengekspor jambu mete dalam bentuk gelondong. Namun, Indonesia belum dapat mengembangkan jambu mete dari bentuk gelondong menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti kandungan biji mete murni, minyak mete yang banyak dimanfaatkan dalam industri kimia, serta produk bernilai ekonomi lainnya. Saat ini luas kawasan yang memanfaatkan jambu mete ada sekitar yang tersebar di 21 provinsi, terutama di propinsi Sulawesi Tenggara (138.830 ha), Nusa Tenggara Timur (126.828 ha), Sulawesi Selatan (70.467 ha), Jawa Timur (57.794 ha), Nusa Tenggara Barat (46.196 ha), dan Jawa Tengah (30.815 ha) (Listya dan Sudjarmoko, 2011). Untuk wilayah Provinsi Jawa Barat, terdapat empat kota yang memiliki perkebunan jambu mete dengan total produksi biji mete rata-rata (Kg/Ha) tertinggi di Kota Garut, diikuti oleh Subang, Sukabumi, dan Sumedang. Berdasarkan data statistik perkembangan luas dan produksi perkebunan jambu mete Provinsi Jawa Barat tahun 2013-2017 memiliki luas lahan perkebunan yang cenderung menurun secara terus menerus untuk setiap tahunnya. Disamping itu, untuk produksi biji mete yang dihasilkan, cenderung mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan untuk setiap tahunnya <ref name=":1" />
 
== Produk yang Dihasilkan ==
Produk utama dari tanaman jambu mete adalah bagian bijinya. Saat ini sudah ada standar internasional terhadap biji mete yaitu memiliki warna coklat terang, ''light ivory,'' kuning, keabuan, serta memiliki ukuran yang beragam. Disamping itu, biji mete yang baik hanya memiliki ''aperture'' sekitar 4,75 mm, serta dikemas dalam kemasan yang layak serta steril. Standar yang dicantumkan disini merupakan standar pemenuhan kualitas untuk biji dari jambu mete atau biasa juga disebut sebagai kacang mete sebagai produk utama dari jambu mete. Varietas jambu mete yang digunakan dalam standar ini adalah ''Anacardium occidentale'' yang berasal dari family Anacardiaceae dan biasa ditemukan pada wilayah Asia Tenggara. Oleh karena komoditas tersebut banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, ASEAN membuat standar mutu terhadap kacang mete yang diproduksi pada masing-masing negara di bawahnya. Terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam mengklasifikasikan standar dari kacang mete, yaitu ''whole'' dan ''broken''. ''Whole'' merupakan keseluruhan bentuk dari kacang mete. Keberadaan lubang kecil pada bagian ujung proksimal atau bagian sentral ''crack'' dari kacang mete tidak termasuk ke dalam produk cacat. Sedangkan, yang dimaksud dengan ''broken'' disini adalah terbaginya kacang mete ke dalam beberapa bagian. ''Broken'' disini dikelompokkan lagi ke dalam ''butts'' (tidak kurang dari 3/8 dari seluruh kacang mete yang telah dipecah melintang tetapi kotiledonnya masih melekat secara alami), ''splits'' (kacang mete terbelah memanjang secara alami), dan ''pieces'' (biji yang telah dipecah menjadi lebih dari dua bagian) <ref name=":2">{{Cite web|url=https://atr.asean.org/standards/detail/224/asean-standard-for-cashew-kernels|title=ASEAN Trade Repository|website=atr.asean.org|access-date=2019-04-25}}</ref>
 
Dalam pemenuhan standarnya, kualitas kacang mete diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas. Namun, untuk semua kelas dari kualitas kacang mete, terdapat standar minimum yang harus dimiliki oleh kacang mete pada kelas manapun. Standar minimum tersebut yaitu kacang mete yang akan dikonsumsi harus berada dalam keadaan bersih dan bebas dari semua bahan yang berbahaya apabila dikonsumsi, memiliki karakteristik rasa dan aroma dari varietas tertentu maupun tipe komersial, bebas pestisida, bebas jamur yang rumbuh pada kacang tersebut, bebas dari bau atau rasa yang tidak enak, bebas dari testa atau cairan ''shell,'' bebas dari anyir, dan berada dalam keadaan kering. Kualitas kacang mete dibagi ke dalam tiga bagian yaitu kelas ekstra, kelas I, dan kelas II. Kelas ekstra merupakan kualitas paling tinggi dari kacang mete dengan warna putih hingga ''pale ivory, pale ash-grey'' atau kuning terang. Kacang harus berada dalam keadaan utuh, tidak ada kacang yang layu, serta memiliki ukuran dan bentuk yang seragam. Kacang mete tersebut harus terbebas dari cacat, kecuali cacat yang sangat sedikit dan tidak mempengaruhi penampilan umum dari produk dan kualitas dari kacang mete. Kacang mete kelas I merupakan kacang mete dengan kualitas yang baik dan memiliki warna coklat terang, ''light ivory,'' kuning, ''light ash-grey'' atau ''deep ivory'' sebagai hasil dari pemanasan yang terlalu lama dalam proses pengolahannya. Kacang mete kelas II merupakan kelompok kacang mete yang tidak termasuk ke dalam klasifikasi dua kelas sebelumnya, tetapi tetap harus bebas dari insektisida dan pestisida. Warna dari kacang mete kelas II yaitu cokla tua, kuning, atau biru tua <ref name=":2" />.
 
Disamping standarsisasi tersebut, terdapat juga standarisasi kualitas kacang mete berdasarkan pada keseragaman, pengemasan, dan kontainer yang digunakan. Berdasarkan pada keseragamannya, isi setiap paket kacang mete harus seragam dan hanya berisi biji mete dengan asal, varietas dan / atau jenis komersial yang sama, serta kualitas dan ukuran yang sama. Berdasarkan pada pengemasannya, biji mete harus dikemas sedemikian rupa untuk melindungi produk dengan benar. Bahan-bahan yang digunakan di dalam kemasan tersebut harus bersih dan berkualitas baik, sehingga tidak akan menimbulkan kerusakan pada produk. Tinta dan lem yang digunakan dalam kemasan untuk bahan kemasan berupa kertas diharuskan tidak berasal dari bahan yang beracun <ref name=":2" />.
 
== Produk Sekunder yang Dihasilkan ==
Produk sekunder dari jambu mete merupakan produk yang dihasilkan selain dari bagian biji jambu mete. Hal tersebut dikarenakan produk utama yang banyak dimanfaatkan dan diaplikasikan dari jambu mete adalah bagian bijinya yang memiliki rasa serta kaya akan kandungan nutrisi. Bagian dari buah kacang mete banyak digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan ''gum'' dari pohon jambu mete. Disamping itu, banyak juga dikembangkan untuk menghasilkan jus, selai, dan pengembagan bahan baku indusri donat sebagai bahan pengganti lemak, sehingga dihasilkan produk donut dengan kandungan rendah lemak <ref>{{Cite journal|last=Gyedu‐Akoto|first=Esther|date=2011-11|title=Utilization of some cashew by‐products|url=https://www.emeraldinsight.com/doi/10.1108/00346651111181949|journal=Nutrition & Food Science|language=en|volume=41|issue=6|pages=393–400|doi=10.1108/00346651111181949|issn=0034-6659}}</ref>. Kandungan damar di dalam cangkang buah digunakan sebagai insektisida dan digunakan juga dalam produksi plastik. Disamping itu, kandungan damar tersebut juga banyak digunakan dan diaplikasikan dalam obat-obatan tradisional. Disamping itu, bagian buah dari tanaman jambu mete digunakan secara lokal untuk minuman, selai, dan juga jeli. Sedangkan, bagian bijinya memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga proses penanganannya harus sangat dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan alergi pada beberapa orang. Alergi tersebut dikarenakan jambu mete mengandung resin kaustik yang dapat bersifat beracun apabila proses pemanggangan dalam penangannya tidak dilakukan dengan benar <ref name=":0" />. Disamping itu, akar jambu mete dapat menjadi pencuci perut serta kulit batang pohon jambu mete dapat berperan sebagai obat kumur atau obat sariawan. Daun jambu mete juga banyak dikonsumsi secara langsung sebagai lalap dan dapat digunakan untuk obat luka bakar. Kulit kayu jambu mete juga mengandung cairan berwarna coklat yang apabila terkena udara, cairan tersebut dapat berubah menjadi hitam dan digunakan sebagai bahan tinta, pencelup, dan pewarna <ref name=":1" />.
 
== Kajian Metabolomik ==
Kajian metabolomik yang dilakukan pada jambu mete yaitu menganalisis manfaat kandungan fiber dalam jambu mete yang mencegah kandungan lemak tinggi yang dapat memicu terjadi obesitas baik pada hewan maupun pada manusia. Analisis metabolomik ini tidak dilakukan secara langsung pada jambu mete, melainkan dilakukan analisis terhadap serum dan feses dari hewan dalam hal ini mencit untuk dianalisis kandungan komponen-komponen yang dapat memicu terjadinya diabetes setelah diberi perlakuan dengan diberi jambu mete untuk kurun waktu tertentu serta diamati perubahannya dengan menggunakan ''Nuclear Magnetic Resonance'' (NMR). Saat ini, belum banyak analisis metabolomik secara langsung terhadap kandungan dari jambu mete. Komponen dalam makanan merupakan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan untuk mencegah terjadinya penyakit kronis. Komponen-komponen dalam makanan yang mengandung fiber dapat mencegah beberapa penyakit. Salah satu komponen yang kaya akan kandungan fiber adalah jambu mete yang banyak menjadi limbah dalam produksi biji mete. Oleh karena itu, dengan melakukan analisis metabolomik terhadap serum atau feses dari mencit yang telah mengkonsumsi fober dari jambu mete dapat meningkatkan produksi serta kualitas dari jambu mete selain bagian bijinya yang memang memiiliki kandungan nutrisi yang tinggi serta banyak dikonsumsi sebagai bahan makanan. Berdasarkan hasil NMR dengan menggunakan analisis PCA, serum dan feses dari mencit yang telah mengonsumsi fiber dari jambu mete untuk kurun waktu tertentu mengandung hiperglusemia, hyperinsulinemia, dan hipertrigliseridemia untuk mencegah proses inflamatori dan reduksi dari ''liver injury'' yang disebabkan oleh ''high fat diet'' (HFD). Disamping itu, mencit yang telah mengonsumsi fiber dari jambu mete tersebut mengalami perbaikan dalam metabolisme glikosa serta lipid. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa konsumsi kandungan ''fiber'' dari jambu mete dapat memberikan efek yang mencegah obesitas <ref name=":3">Calvalho, Diana Valesca., Silca, Lorena Mara., Filho, Elenilson., Santos Flavia. 2019. Cashew apple fiber prevents high fat diet-induced obesity in mice: an NMR metabolomic evaluation. ''The Royal Society of Chemistry.'' DOI: 10.1039/x0xx00000x</ref>.
 
Kajian metabolomik yang dapat dilakukan untuk penentuan kulaitas serta peningkatan produksi dari makanan yang dapat mencegah terjadinya obesitas dapat dilakukan dengan melakukan analisis khasiat dari kandungan fiber tersebut pada manusia. Disamping itu, berdasarkan analisis metabolomik, kandungan fiber yang diperoleh dari jambu mete dapat digunakan sebagai ''fingerprint'' untuk produksi kandungan serupa baik secara sintesis maupun dengan melakukan modifikasi dari kandungan lain <ref name=":3" />.
 
== Pemerian ==
1

suntingan