Buka menu utama

Perubahan

5.020 bita dihapus, 3 bulan yang lalu
 
=== Pendidikan di Belanda ===
Tidak di ketahui
Meskipun diangkat menjadi ''datuk'', pada bulan Oktober 1913, ia meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), dengan bantuan dana oleh para ''engku'' dari desanya. Sesampainya di Belanda, Malaka mengalami [[kejutan budaya]] dan pada tahun 1915, ia menderita [[pleuritis]].{{sfn|Syaifudin|2012|p=56}} Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai muncul dan meningkat setelah membaca buku ''de Fransche Revolutie'' yang ia dapatkan dari seseorang sebelum keberangkatannya ke Belanda oleh Horensma.{{sfn|Syaifudin|2012|p=57}} Setelah [[Revolusi Rusia]] pada Oktober 1917, ia mulai tertarik mempelajari paham [[Sosialisme]] dan [[Komunisme]]. Sejak saat itu, ia sering membaca buku-buku karya [[Karl Marx]], [[Friedrich Engels]], dan [[Vladimir Lenin]].{{sfn|Syaifudin|2012|pp=57–58}} [[Friedrich Nietzsche]] juga menjadi salah satu panutannya. Saat itulah ia mulai membenci budaya Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Karena banyaknya pengetahuan yang ia dapat tentang Jerman, ia terobsesi menjadi salah satu angkatan perang Jerman. Dia kemudian mendaftar ke militer Jerman, namun ia ditolak karena [[Angkatan Darat Jerman]] tidak menerima orang asing.{{sfn|Mrázek|1972|p=7}} Setelah beberapa waktu kemudian, ia bertemu [[Henk Sneevliet]], salah satu pendiri [[Indische Sociaal Democratische Vereeniging]] (ISDV, yakni organisasi yang menjadi cikal bakal [[Partai Komunis Indonesia]]).{{sfn|Jarvis|1987|p=41}} Ia lalu tertarik dengan tawaran Sneevliet yang mengajaknya bergabung dengan ''Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging'' (SDOV, atau Asosiasi Demokratik Sosial Guru).{{sfn|Syaifudin|2012|p=182}} Lalu pada bulan November 1919, ia lulus dan menerima ijazahnya yang disebut ''hulpactie''.{{efn|Sebenarnya Tan Malaka menginginkan ''hoofdacte'', yang statusnya setingkat lebih tinggi dari ''hulpactie''. Meskipun begitu, kesehatannya yang buruk membuatnya hanya bisa mendapat ijazah ''hulpactie''.}}{{sfn|Syaifudin|2012|p=58}}
 
Makanya jadi manusia jangan kepo tetang hidup orang lain
==== Mengajar ====
Setelah lulus dari SDOV, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatra Utara.{{sfn|Syaifudin|2012|p=58}}{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Ia tiba di sana pada Desember 1919 dan mulai mengajar anak-anak itu ber[[bahasa Melayu]] pada Januari 1920.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}}{{sfn|Poeze|2008|p=xvi}} Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai ''Deli Spoor''.{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Selama masa ini, ia mengamati dan memahami penderitaan serta keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatra.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}} Ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa.{{sfn|Jarvis|1987|p=41}} Salah satu karya awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di ''Het Vrije Woord'' edisi Maret 1920.{{sfn|Jarvis|1987|pp=41–42}} Ia juga menulis mengenai penderitaan para kuli kebun teh di ''Sumatra Post''.{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Selanjutnya, Tan Malaka menjadi calon anggota [[Volksraad]] dalam pemilihan tahun 1920 mewakili kaum [[Sayap kiri|kiri]].{{sfn|Jarvis|1987|p=42}} Namun ia akhirnya mengundurkan diri pada 23 Februari 1921 tanpa sebab yang jelas.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}} Ia lalu membuka sekolah di Semarang atas bantuan Darsono, tokoh Sarekat Islam (SI) Merah. Sekolah itu disebut Sekolah Rakyat. Sekolah itu memiliki kurikulum seperti sekolah di Uni Sovyet, dimana setiap pagi murid-murid menyanyikan lagu ''Internasionale". Tan juga pernah bertemu dengan banyak tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Dalam otobiografinya, Tan menganggap bahwa SI di bawah Tjokroaminoto adalah satu-satunya partai massa terbaik yang ia ketahui. Tapi, Tan mengkritik saat terjadi perpecahan di SI, organisasi SI tidak memiliki tujuan dan taktik sehingga terpecah.
 
==== Hidup Membujang ====
 
Hingga akhir hayatnya, Tan Malaka dikabarkan tidak penah menikah, tetapi ia mengakui pernah tiga kali jatuh cinta, yaitu ketika ia berada di Belanda, Filipina, dan Indonesia.<ref>http://www.merdeka.com/peristiwa/melajang-seumur-hidup-tan-malaka-hanya-3-kali-jatuh-cinta.html</ref> Di Belanda, Tan Malaka dikabarkan pernah menjalin hubungan dengan gadis Belanda bernama Fenny Struyvenberg, mahasiswi kedokteran yang kerap datang ke kosnya. Sementara di Filipina, ia jatuh hati kepada seorang gadis bernama Carmen, puteri bekas pemberontak di Filipina dan Rektor [[Universitas Manila]]. Sedangkan saat ia masih di Indonesia, Tan pernah jatuh cinta kepada satu-satunya siswi perempuan di sekolahnya saat itu, yakni [[Syarifah Nawawi]].<ref>http://historia.id/persona/kisah-asmara-tan-malaka-antara-petualangan-dan-revolusi</ref> Alasan Tan Malaka tidak menikah adalah karena perhatiannya terlalu besar untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.<ref>http://www.merdeka.com/peristiwa/melajang-seumur-hidup-tan-malaka-hanya-3-kali-jatuh-cinta.html</ref>
 
== Madilog dan Gerpolek ==
Pengguna anonim