Buka menu utama

Perubahan

34 bita dihapus ,  8 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Perpustakaan Agung Aleksandria''' di kota [[Aleksandria]], [[Mesir]], merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, [[Musaeum|Mouseion]], yang dipersembahkan untuk para [[Musai]] (sembilan dewi yang melambangkan seni). Gagasan mengenai sebuah perpustakaan untuk segala bidang di Aleksandria mungkin diusulkan oleh [[Demetrios dari Phaleron|Demetrios dari Faleron]] (seorang negarawan asal [[Athena (kota)|Athena]] yang menjalani pengasingannya di Aleksandria) kepada Raja [[Ptolemaios I Soter]] pada zaman [[Mesir Hellenistik|Helenistik]]. Rancangan untuk mendirikan perpustakaan ini mungkin sudah disusun pada masanya, tetapi perpustakaan ini kemungkinan baru dibangun pada masa pemerintahan anaknya, yaitu [[Ptolemaios II Filadelfos]]. Berkat dukungan dari raja-raja [[Wangsa Ptolemaios]], perpustakaan ini dengan segera memperoleh banyak sekali gulungan [[papirus]]. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah gulungan papirus yang disimpan di perpustakaan ini, tetapi perkiraannya berkisar antara 40.000 hingga 400.000 gulungan.
 
Salah satu alasan mengapa Aleksandria dianggap sebagai pusat pembelajaran dan pengetahuan adalah keberadaan perpustakaan ini. Banyak cendekiawan terkenal yang bekerja di perpustakaan ini pada abad ketiga dan kedua SM, seperti [[Zenodotos|Zenodotos dari Efesos]] yang berupaya menstandardisasi naskah [[Homeros|puisi-puisi Homeros]], [[Kallimakhos|Kalimakos]] yang menulis ''[[Pinakes]]'' (kadang-kadang dianggap sebagai [[katalog perpustakaan]] pertama di dunia), [[Apollonios dari Rodos|Apolonios dari Rodos]] yang menyusun puisi [[wiracarita]] ''[[Argonautika]]''; [[Eratosthenes|Eratostenes dari Kirene]] yang menghitung [[keliling Bumi]] dengan keakuratan yang hanya meleset sedikit, [[Aristofanes dari Bizantium|Aristofanes dari Bizantion]] yang menciptakan sistem [[diakritik Yunani]] dan adalah orang pertama yang membagi naskah-naskah puisi menjadi baris-baris, serta [[Aristarkos dari Samotrakia]] yang membuat naskah definitif puisi-puisi Homeros dan menulis komentartafsir-komentartafsir panjang untuk puisi-puisi tersebut. Pada masa kekuasaan [[Ptolemaios III Euergetes]], sebuah cabang perpustakaan didirikan di [[Serapeum]], yang merupakan sebuah kuil yang dipersembahkan untuk dewa [[Serapis]] dalam kepercayaan Yunani-Mesir.
 
Walaupun pada masa modern terdapat anggapan bahwa perpustakaan ini pernah "dibakar" dan dihancurkan, perpustakaan ini sebenarnya sudah mengalami kemunduran secara bertahap dalam kurun waktu beberapa abad, dimulai dari pengusiran pada cendekiawan dari Aleksandria pada tahun 145 SM atas perintah dari [[Ptolemaios VIII Physkon|Ptolemaios VIII Fiskon]], yang berujung pada keputusan Aristarkos dari Samotrakia yang menjabat sebagai kepala perpustakaan untuk mengundurkan diri dan kemudian mengasingkan dirinya ke [[Siprus]]. Banyak cendekiawan lain yang juga melarikan diri ke kota lain (seperti [[Dionisios Traks]] dan [[Apollodoros dari Athena|Apolodoros dari Athena]]). Perpustakaan ini atau sebagian dari koleksinya terbakar secara tidak sengaja oleh [[Yulius Kaisar]] selama peristiwa [[Perang Saudara Caesar|perang saudara]] pada tahun 48 SM, tetap tidak diketahui secara pasti seberapa banyak gulungan yang hancur. Tampaknya perpustakaan ini masih dapat bertahan atau dibangun kembali tidak lama sesudahnya; pakar geografi kuno yang bernama [[Strabo]] menulis bahwa ia pernah mengunjungi Mouseion sekitar tahun 20 SM, sementara karya cendekiawan [[Didimos Kalkenteros]] di Aleksandria dari masa ini menunjukkan bahwa ia mungkin dapat mengakses paling tidak sebagian dari koleksi di perpustakaan ini.
Perpustakaan Aleksandria tidak menjadikan mazhab filsafat tertentu sebagai mazhab resmi, sehingga para cendekiawan di lembaga ini memiliki kebebasan akademik.{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} Namun, mereka masih harus tunduk kepada raja.{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} Terdapat sebuah kisah yang diragukan kebenarannya mengenai seorang penyair bernama [[Sotades]] yang menulis sebuah epigram cabul yang mengolok-olok Ptolemaios II karena telah menikahi saudara perempuannya, [[Arsinoe II]].{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} Ptolemaios II konon menjebloskannya ke penjara, dan setelah ia lolos, sang raja memerintahkan agar ia dimasukkan ke dalam sebuah guci [[timbal]] dan lalu dilempar ke laut.{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} Sebagai sebuah pusat keagamaan, Mouseion dipimpin oleh seorang imam [[Musai]] yang dikenal dengan sebutan ''epistates'', dan imam ini diangkat oleh raja seperti para imam di [[kuil-kuil Mesir]].{{sfn|MacLeod|2000|pages=3–4}} Perpustakaan ini sendiri dipimpin oleh seorang cendekiawan yang menjabat sebagai kepala perpustakaan sekaligus guru untuk anak lelaki raja.{{sfn|MacLeod|2000|page=4}}{{sfn|Staikos|2000|page=66}}{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Casson|2001|page=37}}
 
Kepala perpustakaan Aleksandria pertama yang tercatat dalam sejarah adalah [[Zenodotos dari Efesos]] (hidup sekitar tahun 325–270 SM).{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Casson|2001|page=37}} Pencapaian terbesarnya adalah dalam menyusun naskah puisi-puisi Homeros dan penyair-penyair [[sajak lira|lira]] Yunani lainnya.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Casson|2001|page=37}} Keterangan-keterangan mengenai Zenodotos diperoleh dari komentartafsir-komentartafsir yang dibuat pada masa sesudahnya yang menyebutkan tafsiran yang lebih ia sukai untuk bagian-bagian tertentu.{{sfn|Dickey|2007|page=5}} Zenodotos pernah menulis sebuah glosarium kata-kata yang jarang ditemui atau tidak lazim. Glosarium ini disusun secara alfabetik, sehingga ia adalah orang pertama yang diketahui menggunakan alfabet sebagai metode penyusunan.{{sfn|Casson|2001|page=37}} Mengingat koleksi Perpustakaan Aleksandria tampaknya disusun berdasarkan huruf pertama nama penulisnya sedari awal, Casson menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Zenodotos adalah orang yang memulai kebiasaan ini.{{sfn|Casson|2001|page=37}} Namun, sistem yang diberlakukan oleh Zenodotos hanya menggunakan huruf pertama suatu kata,{{sfn|Casson|2001|page=37}} dan baru pada abad kedua Masehi orang mulai menggunakan metode yang sama untuk huruf-huruf lain yang tersisa dalam suatu kata.{{sfn|Casson|2001|page=37}}
 
Sementara itu, seorang cendekiwan dan penyair yang bernama [[Kalimakos]] menyusun ''[[Pinakes]]'', sebuah katalog yang terdiri dari 120 buku mengenai para penulis dan karya-karya mereka.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Staikos|2000|page=66}}{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} ''Pinakes'' sudah hilang ditelan zaman, tetapi penggalan-penggalannya dan juga penyebutan katalog ini dalam sumber-sumber lain memungkinkan para ahli untuk merekonstruksi struktur dasarnya.{{sfn|Casson|2001|pages=39–40}} ''Pinakes'' terbagi menjadi beberapa bagian, masing-masing berisikan lema untuk penulis dari ragam sastra tertentu.{{sfn|MacLeod|2000|page=5}}{{sfn|Casson|2001|pages=39–40}} Pembagian yang paling dasar dilakukan antara penulis puisi dan prosa, dan setiap bagian terbagi menjadi beberapa subbagian.{{sfn|Casson|2001|pages=39–40}} Di setiap bagian, nama penulis disusun secara alfabetik.{{sfn|Casson|2001|page=40}} Di setiap lema terdapat nama penulis, nama ayah, tempat lahir, dan keterangan biografi singkat lainnya, kadang-kadang juga mencakup julukan si penulis dan daftar lengkap karya penulis tersebut.{{sfn|Casson|2001|page=40}} Lema untuk penulis-penulis tersohor seperti [[Aiskhilos|Aiskilos]], [[Euripides]], [[Sophokles|Sofokles]], dan [[Theophrastus|Teofrastos]] kemungkinan amatlah panjang.{{sfn|Casson|2001|page=40}} Walaupun Kalimakos mengerjakan karyanya yang paling terkenal di Perpustakaan Aleksandria, ia tidak pernah menjabat sebagai kepala perpustakaan di lembaga tersebut.{{sfn|Staikos|2000|page=66}}{{sfn|MacLeod|2000|page=5}} Kalimakos sendiri memiliki beberapa murid dengan kiprahnya masing-masing, seperti [[Hermipos dari Smirna]] yang menulis biografi-biografi, [[Filostefanos dari Kirene]] yang mempelajari geografi, dan [[Istros]] (mungkin berasal dari Kirene juga) yang mempelajari barang antik [[Attika|Atika]].{{sfn|Montana|2015|page=109}}
Masa kepemimpinan Aristofanes dianggap telah membuka lembaran baru dalam sejarah Perpustakaan Aleksandria.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Montana|2015|page=118}}{{sfn|MacLeod|2000|page=7}} Pada masa ini, [[kritik sastra]] mencapai puncak kejayaannya{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Montana|2015|page=118}} dan menjadi subjek yang mendominasi karya-karya yang dihasilkan oleh perpustakaan ini.{{sfn|MacLeod|2000|pages=7–8}} Aristofanes dari Bizantion menyunting naskah-naskah puisi dan memperkenalkan konsep pembagian puisi menjadi baris-baris yang terpisah, sementara sebelumnya puisi ditulis seperti prosa.{{sfn|Dickey|2007|pages=5, 93}} Ia juga memperkenalkan sistem [[diakritik Yunani]],{{sfn|Dickey|2007|pages=5, 92–93}}{{sfn|MacLeod|2000|page=7}} menulis karya-karya penting mengenai [[leksikografi]],{{sfn|Dickey|2007|page=5}} dan memperkenalkan tanda-tanda yang digunakan untuk menulis kritik tekstual.{{sfn|Dickey|2007|page=93}} Ia menulis pembukaan untuk banyak drama, dan sebagian masih ada dalam bentuk yang sudah ditulis ulang sebagian.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}
 
Kepala Perpustakaan Aleksandria yang kelima adalah seseorang yang tak dikenal yang bernama "Apolonios" dengan gelar {{lang-grc-gre|ὁ εἰδογράφος}} ("penggolong bentuk").{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Montana|2015|page=129}} Menurut salah satu sumber leksikografi dari zaman sesudahnya, gelar ini mengacu kepada penggolongan puisi berdasarkan [[bentuk musik]]nya.{{sfn|Montana|2015|page=129}} Pada awal abad kedua SM, beberapa cendekiawan di Perpustakaan Aleksandria mempelajari karya-karya mengenai kedokteran.{{sfn|Montana|2015|page=117}} Zeuxis sang [[Empirisisme|Empirisis]] dikenal akan komentartafsir-komentarnyatafsirnya tentang ''Corpus Hippocraticum''{{sfn|Montana|2015|page=117}} dan ia secara aktif berupaya memperoleh tulisan-tulisan kedokteran untuk melengkapi koleksi perpustakaan ini.{{sfn|Montana|2015|page=117}} Seorang cendekiawan yang bernama Ptolemaios Epitetes menulis sebuah risalah mengenai luka-luka dalam puisi-puisi Homeros, dan subjek ini melampaui batas antara [[filologi]] tradisional dengan kedokteran.{{sfn|Montana|2015|page=117}} Namun, pada masa ini kekuasaan Wangsa Ptolemaios juga mulai mengalami kemunduran.{{sfn|Meyboom|1995|page=173}} Seusai [[Pertempuran Raphia]] pada tahun 217 SM, keadaan menjadi semakin kacau.{{sfn|Meyboom|1995|page=173}} Pergolakan sering terjadi di Mesir, dan pada paruh pertama abad kedua SM, hubungan dengan wilayah [[Mesir Hulu]] sangat terganggu.{{sfn|Meyboom|1995|page=173}} Para penguasa Wangsa Ptolemaios juga mulai menekankan kemesiran mereka alih-alih keyunaniannya.{{sfn|Meyboom|1995|page=173}} Akibatnya, banyak cendekiawan Yunani yang mulai meninggalkan Aleksandria dan mendatangi negara yang lebih aman dengan pendukung yang juga lebih murah hati.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Meyboom|1995|page=173}}
 
[[Aristarkos dari Samotrakia]] (hidup sekitar tahun 216–145 SM) adalah kepala perpustakaan keenam.{{sfn|Dickey|2007|page=5}} Ia tidak hanya membuat naskah puisi-puisi klasik dan karya-karya prosa, tetapi juga menulis ''[[hipomnema]]ta'' (komentartafsir) lengkap mengenai naskah-naskah tersebut.{{sfn|Dickey|2007|page=5}} KomentarTafsir-komentartafsir ini biasanya mengutip dari naskah klasik, menjelaskan maknanya, mendefinisikan kata yang tidak lazim, dan mencoba menjawab apakah kata-kata di bagian tersebut benar-benar kata yang dipakai oleh penulis aslinya atau merupakan kata yang ditambah-tambahkan oleh juru tulis.{{sfn|Casson|2001|page=43}} Ia banyak bersumbangsih dalam berbagai bidang ilmu, tetapi sumbangsihnya yang terbesar adalah dalam kajian puisi-puisi Homeros,{{sfn|Dickey|2007|page=5}} dan pendapat-pendapatnya sering dikutip oleh penulis kuno.{{sfn|Dickey|2007|page=5}} Salah satu bagian dari komentartafsir Aristarkos mengenai ''[[Historia (Herodotos)|Historia]]'' karya [[Herodotos]] masih bertahan hingga zaman modern dalam sebuah penggalan di papirus.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Casson|2001|page=43}} Namun, pada tahun 145 SM, Aristarkos terlibat dalam perselisihan politik di Mesir. Ia mendukung [[Ptolemaios VII Neos Philopator|Ptolemaios VII Neos Filopator]] sebagai penguasa Mesir.{{sfn|Montana|2015|page=130}} Ptolemaios VII dibunuh dan digantikan oleh [[Ptolemaios VIII Physkon|Ptolemaios VIII Fiskon]], yang kemudian langsung ingin menghukum semua pendukung pendahulunya. Akibatnya, Aristarkos terpaksa melarikan diri dari Mesir dan mengungsi ke Pulau [[Siprus]], dan di tempat tersebut ia menjemput ajalnya tak lama sesudahnya.{{sfn|Montana|2015|page=130}}{{sfn|Dickey|2007|page=5}} Ptolemaios VIII mengusir semua cendekiawan asing dari Aleksandria, sehingga mereka pun pindah ke berbagai wilayah di kawasan Mediterania Timur.{{sfn|Dickey|2007|page=5}}{{sfn|Meyboom|1995|page=173}}
 
== Kemunduran ==
Sementara itu, semenjak abad kedua SM, kekuasaan Wangsa Ptolemaios di Mesir semakin kacau.{{sfn|Casson|2001|page=47}} Mereka harus menghadapi pergolakan sosial yang semakin menguat ditambah dengan masalah-masalah politik dan ekonomi lainnya, sehingga para penguasa tidak terlalu banyak memperhatikan Perpustakaan Aleksandria.{{sfn|Casson|2001|page=47}} Status perpustakaan dan jabatan kepala perpustakaan juga mengalami penurunan.{{sfn|Casson|2001|page=47}} Penguasa-penguasa Wangsa Ptolemaios pada masa ini memanfaatkan jabatan kepala perpustakaan untuk menghadiahi pendukung mereka yang paling setia.{{sfn|Casson|2001|page=47}} Ptolemaios VIII mengangkat salah satu penjaga istananya yang bernama Kidas sebagai kepala perpustakaan,{{sfn|Watts|2008|page=149}}{{sfn|Casson|2001|page=47}} sementara [[Ptolemaios IX Latiros|Ptolemaios IX Soter II]] (berkuasa 88–81 SM) dikatakan pernah memberikan jabatan ini kepada salah satu pendukungnya.{{sfn|Casson|2001|page=47}} Pada akhirnya, martabat kepala perpustakaan merosot sampai-sampai para penulis pada zaman tersebut tidak lagi mencatat masa jabatan setiap kepala perpustakaan.{{sfn|Watts|2008|page=149}}
 
Bidang keilmuan di Yunani Kuno juga mengalami perubahan besar pada permulaan abad pertama SM.{{sfn|Dickey|2007|page=6}}{{sfn|Fox|1986|page=351}} Pada masa tersebut, hampir semua naskah puisi klasik sudah distandardisasi, dan karya para pujangga dari [[Zaman Klasik Yunani]] juga sudah banyak dikomentariditafsirkan.{{sfn|Dickey|2007|page=6}} Akibatnya, tidak banyak hal baru yang dapat dibuat oleh para ahli dari naskah-naskah tersebut.{{sfn|Dickey|2007|page=6}} Banyak ahli yang mulai melakukan sintesis dan pengerjaan ulang terhadap komentartafsir-komentartafsir para cendekiawan Aleksandria dari abad-abad sebelumnya, dan ini bukanlah suatu karya yang baru.{{sfn|Dickey|2007|page=6}}{{sfn|Fox|1986|page=351}}{{efn|Perubahan semacam ini juga dapat diamati dalam bidang filsafat. Banyak filsuf yang mulai menyintesis pandangan filsuf-filsuf sebelumnya daripada mencetuskan gagasan mereka sendiri.{{sfn|Fox|1986|page=351}}}} Cendekiawan-cendekiawan lain mengambil jalan lain dan mulai menulis komentartafsir untuk puisi-puisi para penulis pascaklasik, termasuk penyair-penyair Aleksandria seperti Kalimakos dan Apolonios dari Rodos.{{sfn|Dickey|2007|page=6}} Sementara itu, tradisi kecendekiawanan Aleksandria kemungkinan dibawa ke [[Roma]] pada abad pertama SM oleh [[Tiranion dari Amisos]] (sekitar tahun 100–25 SM), salah satu murid Dionisios Traks.{{sfn|Dickey|2007|page=6}}
 
=== Terbakar akibat ulah Yulius Kaisar ===
Selain itu, Plutarkos mencatat dalam ''Kehidupan Markus Antonius'' bahwa pada tahun-tahun menjelang [[Pertempuran Aktion]] pada tahun 33 SM, [[Mark Antonious]] konon telah menyerahkan semua gulungan di Perpustakaan Pergamon yang berjumlah 200.000 kepada [[Kleopatra]].{{sfn|Casson|2001|page=46}}{{sfn|Watts|2008|page=149}} Plutarkos sendiri memberikan catatan bahwa sumber pernyataan ini kadang-kadang tidak dapat diandalkan, dan terdapat kemungkinan bahwa kisah ini hanyalah sebuah propaganda yang dimaksud untuk menunjukkan bahwa Markus Antonius setia kepada Kleopatra dan Mesir dan bukan kepada Roma.{{sfn|Casson|2001|page=46}} Namun, menurut pendapat Casson, kalaupun kisah ini memang dikarang, kisah tersebut tidak dapat dipercaya kecuali jika Perpustakaan Agung Aleksandria benar-benar masih ada.{{sfn|Casson|2001|page=46}} Sementara itu, Edward J. Watts berpendapat bahwa hadiah dari Markus Antonius mungkin dimaksudkan untuk mengisi kembali koleksi perpustakaan.{{sfn|Watts|2008|page=149}}
 
Bukti lain yang menunjukkan bahwa perpustakaan ini masih ada setelah tahun 48 SM berasal dari fakta bahwa penulis komentartafsir yang paling penting pada akhir abad pertama SM dan awal abad pertama Masehi adalah seorang cendekiawan di Aleksandria yang bernama [[Didimos Kalkenteros]], dan gelarnya sendiri (''Chalkénteros'' atau Χαλκέντερος) berarti "perut perunggu".{{sfn|Dickey|2007|page=7}}{{sfn|Casson|2001|page=46}} Didimos konon telah membuat sekitar 3.500 hingga 4.000 buku, sehingga ia adalah penulis paling produktif pada zaman kuno.{{sfn|Dickey|2007|page=7}}{{sfn|Fox|1986|page=351}} Ia juga diberi julukan {{lang|grc|βιβλιολάθης}} ({{lang|grc-Latn|Biblioláthēs}}), yang berarti "pelupa buku", karena konon ia tidak dapat mengingat semua buku yang pernah ia tulis.{{sfn|Dickey|2007|page=7}}{{sfn|McKeown|2013|pages=149–150}} Sebagian dari komentartafsir-komentartafsir Didimos tersimpan dalam bentuk kutipan-kutipan, dan sumber-sumber inilah yang diandalkan oleh para ahli modern untuk mengetahui karya-karya penting para cendekiawan di Perpustakaan Aleksandria.{{sfn|Dickey|2007|page=7}} Lionel Casson menyatakan bahwa karya Didimos yang luar biasa tidak mungkin dibuat jika ia tidak dapat mengakses naskah-naskah di perpustakaan ini.{{sfn|Casson|2001|page=46}}
 
=== Zaman Romawi dan kehancuran ===
Sementara itu, seiring dengan meredupnya reputasi Aleksandria sebagai pusat ilmu, reputasi perpustakaan-perpustakaan lain di wilayah Mediterania meningkat.{{sfn|MacLeod|2000|page=9}} Perpustakaan-perpustakaan lain juga bermunculan di dalam kota Aleksandria,{{sfn|Watts|2008|page=149}} dan gulungan-gulungan dari Perpustakaan Agung digunakan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan yang lebih kecil ini.{{sfn|Watts|2008|page=149}} [[Kaesareum Aleksandria|Kaesareum]] dan Klaudianum di Aleksandria dikenal memiliki perpustakaan besar pada akhir abad pertama Masehi.{{sfn|Watts|2008|page=149}} Serapeum yang awalnya hanya menjadi "cabang" juga membesar pada masa ini (menurut pakar sejarah klasik Edward J. Watts).{{sfn|Watts|2008|pages=149–150}}
 
Pada abad kedua Masehi, ketergantungan Romawi terhadap gandum dari Aleksandria juga berkurang.{{sfn|MacLeod|2000|page=9}} Ketertarikan bangsa Romawi terhadap tradisi kecendekiawanan di Aleksandria juga tidak sebesar sebelumnya.{{sfn|MacLeod|2000|page=9}} Para cendekiawan yang bekerja dan melakukan penelitian di Perpustakaan Aleksandria pada masa Romawi tidak seterkenal para cendekiawan dari zaman Wangsa Ptolemaios.{{sfn|MacLeod|2000|page=9}} Pada akhirnya, kata "Aleksandria" menjadi sinonim dengan penyuntingan naskah, pembetulan kesalahan tekstual, dan penulisan komentartafsir yang merupakan penggabungan cendekiawan-cendekiawan lainnya; dalam kata lain, istilah ini mendapatkan [[konotasi]] berupa sifat suka menonjolkan keilmuan, kemonotonan, dan ketiadaan orisinalitas.{{sfn|MacLeod|2000|page=9}} Perpustakaan Agung Aleksandria dan gedung Mouseion tidak lagi disebutkan pada pertengahan abad ketiga Masehi.{{sfn|Watts|2008|page=150}} Sumber sejarah terakhir yang menyebutkan cendekiawan yang menjadi anggota Mouseion berasal dari dasawarsa 260-an.{{sfn|Watts|2008|page=150}}
 
Pada tahun 272 M, Kaisar [[Aurelianus]] dan pasukannya berupaya merebut kembali kota Aleksandria dari pasukan Ratu [[Tadmur]], [[Zenobia]].{{sfn|Watts|2008|page=150}}{{sfn|Casson|2001|page=47}}{{sfn|Phillips|2010}} Pada saat terjadinya pertempuran, pasukan Aurelianus menghancurkan daerah Broucheion.{{sfn|Watts|2008|page=150}}{{sfn|Casson|2001|page=47}}{{sfn|Phillips|2010}} Apabila Mouseion dan Perpustakaan Agung Aleksandria memang masih ada pada masa itu, keduanya hampir pasti hancur.{{sfn|Watts|2008|page=150}}{{sfn|Casson|2001|page=47}} Kalaupun masih ada yang tersisa, lembaga atau bangunan tersebut akan binasa akibat pengepungan kota Aleksandria oleh pasukan Kaisar [[Diokletianus]] pada tahun 297.{{sfn|Watts|2008|page=150}}