Buka menu utama

Perubahan

7 bita dihapus, 5 bulan yang lalu
k
|caption = Tan Malaka di autobiografinya
|birth_date = {{birth date|1897|6|2|df=y}}
|birth_place = {{negara|Holland}} Nagari Pandam Gadang, [[Suliki Gunung Mas, Lima Puluh Kota|Suliki]], [[SumateraSumatra Barat]], [[Hindia Belanda]]
|death_date = {{death date and age|1949|2|21|1897|6|2|df=y}}
|death_place = {{negara|Indonesia}} [[Kediri]], [[Jawa Timur]]
|parents = Rasad Caniago (ayah)<br/>Sinah Simabur (ibu)
}}
'''Tan Malaka''' atau '''Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka''' ({{lahirmati|Nagari Pandam Gadang, [[Lima Puluh Kota|Suliki, Lima Puluh Kota]], [[SumateraSumatra Barat]]|2|06|1897|Desa Selopanggung, [[Kediri]], [[Jawa Timur]]|21|02|1949}}) adalah seorang pembela kemerdekaan [[Indonesia]], tokoh [[Partai Komunis Indonesia]],<ref name="LOC">{{cite web|url=http://countrystudies.us/indonesia/14.htm|title=THE GROWTH OF NATIONAL CONSCIOUSNESS|publisher=[[Library of Congress]]|accessdate=7 Agustus 2012}}</ref> juga pendiri [[Partai Murba]],<ref>[http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127973.id.html "Warisan Tan Malaka"], Tempo Interaktif, 11 Agustus 2008</ref> dan merupakan salah satu [[Pahlawan Nasional Indonesia]].<ref>{{cite web
|title=Daftar Nama Pahlawan Nasional Republik Indonesia (1)
|language=Indonesia
[[Berkas:Rumah Kelahiran Tan Malaka.jpg|jmpl|275px|Rumah kelahiran Tan Malaka]]
 
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis turunan ibu. {{sfn|Jarvis|1987|p=41}} Nama lengkapnya adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tanggal kelahirannya masih diperdebatkan, sedangkan tempat kelahirannya sekarang dikenal dengan nama Nagari [[Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota]], [[SumateraSumatra Barat]]. Ayah dan Ibunya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa.{{sfn|Syaifudin|2012|p=53}} Semasa kecilnya, Tan Malaka senang mempelajari ilmu agama dan berlatih [[pencak silat]].{{sfn|Syaifudin|2012|pp=53–54}} Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke [[Kweekschool]] (sekolah guru negara) di [[Fort de Kock]]. Menurut GH Horensma, salah satu guru di sekolahnya itu, Tan Malaka adalah murid yang cerdas, meskipun kadang-kadang tidak patuh.{{sfn|Syaifudin|2012|p=54}} Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran [[bahasa Belanda]], sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. {{sfn|Syaifudin|2012|p=55}} Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang bertalenta.{{sfn|Syaifudin|2012|p=54}} Setelah lulus dari sekolah itu pada tahun 1913, ia ditawari gelar ''[[datuk]]'' dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar ''datuk''. {{sfn|Syaifudin|2012|p=55}} Gelar tersebut diterimanya dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.{{sfn|Poeze|2008|p=xv}}
 
=== Pendidikan di Belanda ===
 
==== Mengajar ====
Setelah lulus dari SDOV, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, SumateraSumatra Utara.{{sfn|Syaifudin|2012|p=58}}{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Ia tiba di sana pada Desember 1919 dan mulai mengajar anak-anak itu ber[[bahasa Melayu]] pada Januari 1920.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}}{{sfn|Poeze|2008|p=xvi}} Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai ''Deli Spoor''.{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Selama masa ini, ia mengamati dan memahami penderitaan serta keterbelakangan hidup kaum pribumi di SumateraSumatra.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}} Ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa.{{sfn|Jarvis|1987|p=41}} Salah satu karya awalnya adalah "Tanah Orang Miskin", yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di ''Het Vrije Woord'' edisi Maret 1920.{{sfn|Jarvis|1987|pp=41–42}} Ia juga menulis mengenai penderitaan para kuli kebun teh di ''SumateraSumatra Post''.{{sfn|Syaifudin|2012|p=184}} Selanjutnya, Tan Malaka menjadi calon anggota [[Volksraad]] dalam pemilihan tahun 1920 mewakili kaum [[Sayap kiri|kiri]].{{sfn|Jarvis|1987|p=42}} Namun ia akhirnya mengundurkan diri pada 23 Februari 1921 tanpa sebab yang jelas.{{sfn|Syaifudin|2012|p=59}} Ia lalu membuka sekolah di Semarang atas bantuan Darsono, tokoh Sarekat Islam (SI) Merah. Sekolah itu disebut Sekolah Rakyat. Sekolah itu memiliki kurikulum seperti sekolah di Uni Sovyet, dimana setiap pagi murid-murid menyanyikan lagu ''Internasionale". Tan juga pernah bertemu dengan banyak tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Dalam otobiografinya, Tan menganggap bahwa SI di bawah Tjokroaminoto adalah satu-satunya partai massa terbaik yang ia ketahui. Tapi, Tan mengkritik saat terjadi perpecahan di SI, organisasi SI tidak memiliki tujuan dan taktik sehingga terpecah.
 
==== Hidup Membujang ====
Salah satu roman ''Patjar Merah'' yang terkenal adalah roman karangan [[Matu Mona]] yang berjudul ''Spionnage-Dienst''. Nama ''patjar merah'' sendiri berasal dari karya [[Baronesse Orczy]] yang berjudul ''Scarlet Pimpernel'', yang berkisah tentang seorang pahlawan [[Revolusi Prancis]].
 
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu [[Musso]] (sebagai ''Paul Mussotte''), [[Alimin]] (''Ivan Alminsky''), [[Semaun]] (''Semounoff''), [[Darsono]] (''Darsnoff''), [[Djamaluddin Tamin]] (''Djalumin'') dan [[Soebakat]] (''Soe Beng Kiat''). Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di SumateraSumatra.<ref>{{cite book |last=Kahin |first=Audrey |authorlink= |title=Dari pemberontakan ke integrasi: Sumatra Barat dan politik Indonesia, 1926-1998 |url=http://books.google.co.id/books?id=v0y4-dp9uEEC&pg=PA94&dq=rol+patjar+merah+indonesia&hl=id&sa=X&ei=G_--UYbbBo2zrAecyIGYAg&ved=0CCwQ6AEwAA#v=onepage&q=rol%20patjar%20merah%20indonesia&f=false |accessdate= |year=2005 |publisher=[[Yayasan Obor Indonesia]] |location= |isbn=9789794615195 |page=94}}</ref>
 
Belakangan, selepas reformasi kemudian muncul pula dua novel yang mengisahkan perjalanan hidup Tan Malaka. Tiga buku pertama ditulis oleh [[Matu Mona]], sementara yang keempat dan kelima ditulis oleh [[Yusdja]].<ref>{{cite book |last=Southeast Asia Program |first=Cornell University |authorlink= |title=Reading Southeast Asia: Translation of Contemporary Japanese Scholarship on Southeast Asia |url=http://books.google.co.id/books?id=OFSgNa9J61YC&pg=PA22&lpg=PA22&dq=patjar+merah+indonesia&source=bl&ots=WLyyywIcRp&sig=Bc2S64cOW0o8Nc31-wfiERBiQuQ&hl=en&sa=X&ei=__y-UbjEDcn-rAf63IG4Aw&redir_esc=y#v=onepage&q=patjar%20merah%20indonesia&f=false |accessdate=17 Juni 2013 |year=1990 |publisher=SEAP Publication |location= |isbn=9780877274001 |page=188}}</ref>: Sedangkan novel yang keenam dan ketujuh masih-masing ditulis oleh Peter Dantovski dan Hendri Teja.
229.399

suntingan