Buka menu utama

Perubahan

37 bita dihapus, 5 bulan yang lalu
k
|pop5 = 227.239
|ref5 =
|region6 = {{flagicon|SumateraSumatra Utara}} {{nbsp|8}}[[SumateraSumatra Utara]]
|pop6 = 125.707
|ref6
[[Berkas:Pembesar Kerajaan Banjar Museum Lambung Mangkurat.JPG|jmpl|200px|Sketsa seorang pembesar [[Kerajaan Banjar]] sekitar tahun 1850 (koleksi [[Museum Lambung Mangkurat]]).]]
 
'''Suku Banjar''' ({{lang-bjn|Urang Banjar / اورڠ بنجر}}) adalah [[suku bangsa]] yang menempati wilayah [[Kalimantan Selatan]], serta sebagian [[Kalimantan Tengah]] dan sebagian [[Kalimantan Timur]]. Populasi Suku Banjar dengan jumlah besar juga dapat ditemui di wilayah [[Riau]], [[Jambi]], [[SumateraSumatra Utara]] dan [[Semenanjung Malaysia]] karena migrasi Orang Banjar pada abad ke-19 ke [[Kepulauan Melayu]].<ref>https://media.neliti.com/media/publications/40337-ID-merajut-dunia-islam-dunia-melayu-sosok-orang-melayu-banjar-di-tanah-leluhur.pdf</ref>
 
Berdasarkan sensus penduduk [[2010]] orang Banjar berjumlah 4,1 juta jiwa. Sekitar 2,7 juta orang Banjar tinggal di Kalimantan Selatan dan 1 juta orang Banjar tinggal di wilayah Kalimantan lainnya serta 500 ribu orang Banjar lainnya tinggal di luar Kalimantan.
Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman [[Kerajaan Sriwijaya|Sriwijaya]] dan kebudayaan Jawa pada zaman [[Kerajaan Majapahit|Majapahit]], dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.<ref>[http://www.indonesia.go.id/in/pemerintah-daerah/provinsi-kalimantan-selatan/sosial-budaya Sosial Budaya Provinsi Kalimantan Selatan] - indonesia.go.id</ref> [[Suku bangsa]] Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu '''(Banjar) Pahuluan''', '''(Banjar) Batang Banyu''', dan '''Banjar (Kuala)'''. Banjar Pahuluan pada asasnya adalalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke [[pegunungan Meratus]]. Banjar Batang Banyu mendiami lembah [[sungai Negara]], sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar [[Banjarmasin]] dan [[Martapura, Banjar|Martapura]]. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan [[bahasa Banjar]], yang terbagi ke dalam dua dialek besar yaitu '''Banjar Hulu''' dan '''Banjar Kuala'''. Nama '''Banjar''' diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun [[1860]]) adalah warga [[Kesultanan Banjarmasin]] atau disingkat '''Banjar''', sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di [[Martapura]]), nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.<ref name="alfani">{{id}} Alfani Daud, Islam & masyarakat Banjar: diskripsi dan analisis kebudayaan Banjar, RajaGrafindo Persada, 1997, ISBN 979-421-599-6, 9789794215999</ref>
 
Sejak abad ke-19, suku Banjar migrasi ke pantai timur [[SumateraSumatra]] dan [[Malaysia]]. Di Malaysia, suku Banjar digolongkan sebagai bagian dari [[Bangsa Melayu]].
 
Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi [[Kalimantan Selatan]] dan [[Kalimantan Tengah]] seperti saat ini, kemudian pada abad ke-16 terpecah di sebelah barat menjadi [[kerajaan Kotawaringin]] yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma bin Sultan Mustain Billah dan pada abad ke-17 di sebelah timur menjadi [[kerajaan Tanah Bumbu]] yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah yang berkembang menjadi beberapa daerah: [[Sabamban]], [[Kerajaan Pagatan|Pegatan]], [[Kerajaan Kusan|Koensan]], [[Poelau Laoet]], [[Batoe Litjin]], [[Cantung|Cangtoeng]], [[Bangkalaan]], [[Sampanahan]], [[Manoenggoel]], dan [[Tjingal]].
Bab 3 Bagian 2 (tritiya sargah ri dwitiya parwa)
 
/Halaman 162/ … Kemudian menurut kisah yang lain lagi, yaitu mengenai kerajaan-kerajaan di SumateraSumatra (swarnadwipa), pada patangatus-rwalikur-ikang-çakakāla (422 S ~ 500 M), di bumi SumateraSumatra terdapat dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Pali (rājya pali) yang terletak di SumateraSumatra-(swarnabhumi)-bagian-utara dan tengah-bagian-utara. Kedua adalah Kerajaan Melayu, yang disebut juga Sriboja (rājya malayu sinebut juga çriboja), berada di SumateraSumatra-bagian-selatan dan tengah-bagian-selatan.
 
Di SumateraSumatra-bagian-utara yang termasuk /163/ kekuasaan Kerajaan Pali, di situ terdapat beberapa kerajaan kecil yang tunduk dan mengabdi kepada kekuasaan Maharaja Pali (kawaçaning mahārāja pali). Beberapa kerajaan diantaranya adalah Kerajaan Indrapuri (rājya indrapuri), Kerajaan Indrapurwa (rājya indrapurwa), Kerajaan Indrapatra (rājya indrapatra), Kerajaan Kendari (rājya kandhari) dan banyak lagi yang lain. Begitu pula negeri-negeri (déça mandala) Parlak, Paséh, Samudra, Nago, Barus, Pagay, Lamuri, Haru, Tamyang, dan banyak lagi yang lainnya. Keseluruhan jumlah negeri-negeri tersebut adalah kira-kira seratus empat puluh negeri di bawah Kerajaan Pali di Bumi SumateraSumatra.
 
/164/ Di wilayah kerajaan [Pali, sebagian besar] rakyatnya memeluk agama Budha (budhayana) tetapi di beberapa wilayah seperti: Pagay, Lamuri, Haru, dan Tamyang, mereka memuja nenek-moyang (pitrepuja), memuja gunung (parwatapuja), memuja api (agnipuja), memuja sungai (lwahpuja), memuja matahari (suryapuja), memuja bulan (candrapuja), memuja batu (watupuja), memuja pepohonan (sdhāwarapuja), memuja langit (akaçapuja), dan banyak lagi yang mereka sembah.
Pada patangatus-patang-puluh ikang çakakāla (440 S ~ 518 M) Kerajaan Pali mengikat persahabatan dengan kerajaan Cina (rājya cina). Selanjutnya pada patangatus-patang-puluh-lima ikang çakakāla (445 S ~ 523 M) Kerajaan Pali mengutus seorang duta ke /166/ Kerajaan Cina. Sebagai sahabat, Raja Pali mendapat bingkisan berbagai barang hasil bumi dan hasil kerajinan tangan.
 
Adapun di SumateraSumatra-bagian-selatan dan tengah-bagian-selatan, adalah kekuasaan Kerajaan Sriboja atau Negara Melayu (kacakrawartyan ing rājya çriboja athawa malayu nagara), yang terletak di Palembang (hanéng palémbang).
 
Di wilayah [Melayu] terdapat lebih dari seratus negeri besar dan kecil. Beberapa ada yang cukup besar, namun semuanya tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu (séwaka ring rājya melayu) yaitu Kerajaan Sriwijaya (rājya çriwijaya) di Jambi wilayahnya (i jambi mandalanira), Kerajaan Tulangbawang (rājya tulangbawang), /167/ Kerajaan Siak (rājya syak), kemudian Rekan, Kampay, Pane, Bangka, Balitung, Nias (nayas), Tanjungkidul, dan banyak lagi yang lainnya.
Adalah /169/ Kerajaan Kendari (rājya kandharī) yang telah menjadi negeri merdeka sejak patangatus-wwalung-puluh-lima ikang çakakāla (485 S – 563 M) dan juga mengikat persahabatan dengan Kerajaan Cina, ikut serta berperang melawan Kerajaan Sriwijaya, tetapi Kerajaan Kendari dapat dikalahkan, dan negaranya dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya.
 
Pada akhirnya kalahlah semua kerajaan yang ada di SumateraSumatra bagian utara.
 
Oleh karena itu, angkatan bersenjata kerajaan Pali dan kerajaan-kerajaan taklukannya pergi ke pengungsian. Begitu juga warga masyarakat dan para pembesar (mantri-mantri) /170/ ahli nujum (pranaraja), para pendeta (sang dwija), para pemuka (sang pinakadi), mengungsi menuju ke arah selatan dengan menggunakan berbagai perahu besar maupun kecil; banyaknya beberapa ratus buah.
[Untuk memperingati kemenangan di Palembang] Maharaja Sriwijaya mengadakan upacara (magaway sangskārāgama) dan memberikan anugrah (malakwaken dana) kepada kepala agama Budha (dharmadhyaksa ring kasogatan) yaitu Guru Besar Sakyakirti (dang acāryya çakyakirti). Tujuan sang raja adalah agar harta itu digunakan untuk membuat wihara dan keperluan lainnya.
 
Pada waktu itu, hadir sekalian raja taklukan [dari seluruh] SumateraSumatra, serta semua pemimpin wilayah /175/ dari negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan Maharaja Sriwijaya (séwaka mahāraja çriwijaya), yaitu: pemuka kaum (sang pinakadi), ahli nujum (sang pranaraja), pembesar kerajaan (mantri raja), perwira angkatan bersenjata (sang tanda), panglima angkatan bersenjata (sang baladika wadyabala), panglima angkatan laut (sénapati sarwajala), duta-duta dari negara sahabat, kepala agama Buddha (dang acāryyāgama budhayāna), kepala agama Nirwana (dang acāryyāgama nirwānayāna), pendeta (dwija), para sanggha: bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika. Begitu juga beberapa ribu angkatan bersenjata Sriwijaya dan sejumlah warga masyarakat.
 
Kerajaan Sriwijaya menguasai seluruh Pulau SumateraSumatra (wus nyakrawarti rat swarnabhumi) pada nem-angatus-telu-welas ikang çakakāla /176/ (613 S – 691 M), sebagai maharaja dimana semua raja-raja di Pulau SumateraSumatra telah takluk dan berada di bawah kuasa Sriwijaya (ri séwaka ring çriwijaya).
 
Dengan Kerajaan Sunda, Kerajaan Sriwijaya telah membuat perjanjian, keduanya tidak akan saling menyerang negara masing-masing, dan bekerja sama dalam persahabatan. Oleh karena itu duta Sriwijaya berada di Kerajaan Sunda dan duta Kerajaan Sunda berada di Kerajaan Sriwijaya. [Lalu dibuat] Piagam perjanjian yang ditulis bersama pada tanggal 14, paro-terang, bulan Magha (ing catur daça çuklapaksa, māghamasa) /177/ nem-angatus-punjul-pitu ikang çakakāla (607 S – 685 M) oleh keduanya, antara Sri Maharaja Jayanasa, Raja Kerajaan Sriwijaya dari Pulau SumateraSumatra, dan Sri Maharaja Tarusbawa, Raja Kerajaan Sunda dari Jawa Barat di Pulau Jawa.<ref>http://jejakrekam.com/2017/01/09/banjarmasin-sudah-ada-di-abad-7/</ref>
 
== Suku Banjar Perantauan ==
|format=PDF| accessdate = }}</ref>. Tetapi jika digabungkan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai) mencapai 37,90%.
 
Besarnya proporsi Suku Banjar dan Jawa di Kalimantan Tengah karena perantauan orang Banjar asal Kalimantan Selatan dan transmigrasi asal Jawa yang cukup besar ke Kalimantan Tengah. Orang Banjar secara langsung memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang masih terbuka luas di Kalimantan Tengah. Berbeda dengan orang Jawa yang pindah ke Kalimantan Tengah karena program transmigrasi, orang Banjar pindah atas kemauan sendiri. Daerah pedalaman Kalimantan Selatan (daerah Pahuluan) adalah daerah padat penduduk dan sejak lama merupakan sumber migrasi keluar orang Banjar tidak hanya ke berbagai tempat di Pulau Kalimantan, tetapi juga ke SumateraSumatra dan Jawa.<ref>{{cite web
| last =
| first =
Pada tahun 1884, salah seorang tokoh [[Perang Banjar]] bernama Pangeran Perbatasari (cucu [[Pangeran Antasari]] dibuang ke Kampung Jawa Tondano. Di sana, ia menikah dengan seorang wanita Jaton ([[Jawa Tondano]]). Beberapa tahun kemudian, saudaranya Gusti Amir juga menyusul ke sana dan menikah dengan wanita Jaton. Orang Jaton keturunan para pangeran asal Banjar ini menyandang fam Perbatasari dan Sataruno.<ref>{{cite news|author =|year = 2010|url = http://www.masjidrayavip.org/index.php?option=com_content&view=article&id=74:pejuang-islam-yg-terasing-di-tanah-minahasa&catid=56:artikel-umum&Itemid=88|title = Pejuang Islam yang Terasing di Tanah Minahasa|format =|work =|publisher = Masjid Raya Vila Inti Persada|date = |accessdate= 2011-07-27}}</ref>
 
=== Pulau SumateraSumatra ===
Taburan Suku Banjar di Kawasan Regional SumateraSumatra menurut Sensus 2010 :
{| class="wikitable sortable"
|-
! Suku Bangsa
! [[Riau]] <ref>[[Riau#Suku Bangsa|Riau - Suku Bangsa]]</ref>
! [[SumateraSumatra Utara]] <ref>[[SumateraSumatra Utara#Suku Bangsa|SumateraSumatra Utara - Suku Bangsa]]</ref>
! [[Jambi]] <ref>[[Jambi#Suku Bangsa|Jambi - Suku Bangsa]]</ref>
! [[Kepulauan Riau]]<ref>[[Kepulauan Riau#Suku Bangsa|Kepulauan Riau - Suku Bangsa]]</ref>
|}
 
Suku Banjar sudah lama terdapat di SumateraSumatra.<ref>[http://www.serdangbedagaikab.go.id/indonesia/index.php?mod=home&opt=content&jenis=2&id_content=2407&detail=Y WAGUBSU HADIRI PERINGATAN MAULID MASYARAKAT BANJAR ]</ref><ref>[http://www.langkatkab.go.id/read.php?do=detail&id=1753 JELANG RAMADHAN MASYARAKAT BANJAR DI LANGKAT SILATURAHMI DENGAN BUPATI]</ref> Berdasarkan sensus tahun 1930, suku Banjar di SumateraSumatra berjumlah 77.838 jiwa yang terdistribusi di Plantation belt (Pantai Timur SumateraSumatra Utara) 31.108 jiwa, di SumateraSumatra bagian Tengah 46.063 jiwa dan di SumateraSumatra bagian Selatan 430 jiwa.<ref>[http://books.google.co.id/books?id=qNEXtcCPFyUC&lpg=PA83&dq=haga%20borneo&pg=PA88#v=onepage&q=haga%20borneo&f=true {{en}} A. J. Gooszen, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Netherlands), A demographic history of the Indonesian archipelago, 1880-1942, KITLV Press, 1999, ISBN 90-6718-128-5, 9789067181280]</ref> Belakangan, suku Banjar di SumateraSumatra banyak yang berpindah ke Malaysia sebelum kemerdekaannya.
 
Suku Banjar di [[SumateraSumatra Utara]] terdapat di Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan dan Labuhan Batu. Taburan suku Banjar yang tinggal di [[SumateraSumatra Utara]] mendiami 14 desa diantaranya:
<ref name="Tradisi Kawin Anom">{{id}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=_I5MDAAAQBAJ&pg=PA90&dq=olohmasih&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiFt66kkrrUAhVCtY8KHWBdDY0QuwUINzAD#v=onepage&q=olohmasih&f=false|title=Ketertindasan Perempuan Dalam Tradisi Kawin Anom: Subaltern Perempuan pada Suku Banjar Dalam Perspektif Poskolonial|last=Nasution|first=Dr. Rosramadhana|date=|publisher=Yayasan Pustaka Obor Indonesia|year=2016|isbn=|page=91|format=PDF|accessdate=}}ISBN 978-979-461-941-4</ref>.
* Kabupaten Deli Serdang:
*** [[Kebun Kelapa, Secanggang, Langkat|Kebon Kelapa]]
 
Migrasi suku Banjar ke [[SumateraSumatra]] khususnya ke [[Tembilahan]], [[Indragiri Hilir]] sekitar tahun [[1885]] pada masa pemerintahan [[Sultan Isa]] (raja Indragiri sebelum raja yang terakhir). Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah [[Abdurrahman Siddiq|Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari]] (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari [[Martapura, Banjar|Martapura]] dan menjabat sebagai [[Mufti]] [[Kerajaan Indragiri]]. Suku Banjar juga banyak menyebar di Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung, seperti di [[pulau Singkep]]<ref>http://www.tanjungpinangpos.co.id/2011/06/14798/suku-banjar-pertahankan-adat-istiadat.html</ref><ref>http://repository.unja.ac.id/2778/1/jurnal.pdf</ref>
 
=== Pulau Bali, Lombok dan Sumbawa ===
 
== Populasi ==
Menurut sensus BPS tahun 2010 populasi suku Banjar berjumlah 4.127.124.<ref>demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/Kelompok_1/Referensi/BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf</ref> Suku Banjar terdapat di seluruh provinsi Indonesia dengan 2.686.627 diantaranya tinggal di Kalimantan Selatan. Populasi suku Banjar dalam jumlah besar juga dapat ditemkan di Kalimantan Tengah (464.260) dan Kalimantan Timur (440.453) yang merupakan daerah perantauan primer orang Banjar. Di pulau SumateraSumatra orang Banjar banyak terdapat di Riau (227.239), SumateraSumatra Utara (125.707) dan Jambi (102.237) karena migrasi orang Banjar pada abad ke-19 ke pesisir timur SumateraSumatra.
 
Populasi suku Banjar diantaranya sebagai berikut:<ref>{{id}} {{cite book|url=http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html|title=Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010|publisher=Badan Pusat Statistik|year=2011|isbn=978-979-064-417-5}}ISBN 9789790644175</ref>
| style="text-align: right;" | 5,51%
|-
| [[SumateraSumatra Utara]]
| style="text-align: right;" | 125.707
| style="text-align: right;" | 12.982.204
| style="text-align: right;" | 0,06%
|-
| [[SumateraSumatra Selatan]]
| style="text-align: right;" | 1.442
| style="text-align: right;" | 7.450.394
| style="text-align: right;" | 0,01%
|-
| [[SumateraSumatra Barat]]
| style="text-align: right;" | 355
| style="text-align: right;" | 4.846.909
229.399

suntingan