Buka menu utama

Perubahan

1.601 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
k
 
Semula, Kotagede adalah nama sebuah kota yang merupakan Ibukota [[Kesultanan Mataram]]. Selanjutnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
 
Sebagian besar tata ruang perkembangan perkotaan di Pulau Jawa mempunyai konsep '''Catur Gatra Tunggal''', yaitu '''pasar''' sebagai pusat perekonomian, '''alun-alun''' sebagai pusat adat budaya masyarakat, '''masjid''' sebagai pusat peribadatan, dan '''keraton''' sebagai pusat kekuasaan. Kotagede di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dalam bahasa Jawa halus, “Kotagede” berarti “kota yang besar” yang disebut '''Kitha Ageng'''. Kotagede sebenarnya bukan nama yang membedakannya secara tegas dengan tempat lain. Secara historis, Kotagede dibentuk sebagai Ibu Kota Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati. Tradisi Jawa memang tidak bisa menamai ibu kota secara berbeda dengan nama kerajaannya. Pada dasarnya, Ibu Kota Negeri Mataram bernama kota Mataram sebagaimana Kerajaan Medang di masa silam dan Ngayogyakarta di masa yang lebih muda.
 
Secara historis, nama Kotagede sudah ada sejak masa Ki Ageng Pemanahan. Hanya sekitar sepersepuluh dari masa hidupnya yang panjang itu, Kotagede berperan sebagai pusat pemerintahan. Jika dibandingkan dengan kota-kota Bandar di pesisir yang jauh lebih mapan dan memiliki basis perniagaan yang kuat, Ibu Kota Kerajaan Mataram ini relatif lebih kecil dan bersahaja. Namun demikian, Kotagede dipandang sebagai “tanah pustaka” Mataram sehingga kedua kerajaan baru, Surakarta dan Yogyakarta, harus sama-sama memiliki untuk mewarisi keberkahannya. Generasi yang lebih tua menyebut Sargede dengan luwes sebagai ringkasan dari Pasar Gede karena pasar adalah bagian yang paling mencolok, ramai, dan akrab di Kotagede.
 
== Wilayah yang terbelah ==