Buka menu utama

Perubahan

8 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
Sejarah Bireuen
Zona III, Zona ini merupakan kawasan permukiman dan sebagian pusat kegiatan perkotaan (pasar dan terminal).  Peruntukan zona ini antara lain permukiman, bangunan komersial, fasilitas pendidikan, sosial, kesehatan, perdagangan, peribadatan, pemerintahan, dengan skala pelayanan kelurahan dan kecamatan.  Permukiman yang semula telah ada ditingkatkan kualitasnya, tidak boleh diperluas /dikembangkan /ditambah baru hingga menjadi kepadatan tinggi.  Adapun bangunan komersial dapat diperluas/dikembangkan dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat dengan mempertahankan nilai-nilai cagar budaya. Kepadatan kawasan terbangun pada zona II diarahkan memiliki tingkat kepadatan sedang. Pada zona ini sebagian dari fungsi pusat kegiatan perkotaan dikembangkan ke arah yang lebih aman serta kawasan permukiman baru yang aman dari tsunami dengan memperhatikan daya dukung kota, mengurangi pemanfaatan lahan-lahan subur/irigasi teknis.  Dari aspek jarak, zona ini berada pada jarak antara 200 – 300 m dari tepi pantai.
 
Zona IV, Peruntukan zona ini antara lain permukiman, bangunan komersial, fasilitas umum dan pemerintahan dengan skala pelayanan kota.  Permukiman dapat diperluas dengan persyaratan bangunan dan lingkungan yang ketat sesuai dengan rencana tata ruang yang ada.  Tingkat kepadatan bangunan pada zona ini diarahkan memiliki kepadatan tinggi.  Dari aspek jarak, zona ini berada pada jarak > 300 m dari tepi pantai.
 
 
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendapa Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa sangka, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah, di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.
 
Kedatangan presiden pertama Republik Indonesia (RI) itu ke Bireuen memang sangat fenomenal. '''Waktu itu, tahun 1948, Belanda melancarkan agresi keduanya terhadap Yogyakarta. Dalam waktu sekejap ibukota RI kedua itu jatuh dan dikuasai Belanda. Presiden pertama Soekarno yang ketika itu berdomisili dan mengendalikan pemerintahan di sana pun harus kalang kabut. Tidak ada pilihan lain, presiden Soekarno terpaksa mengasingkan diri ke Aceh. Tepatnya di Bireuen, yang relatif aman'''.''' Soekarno hijrah ke Bireuen dengan menumpang pesawat udara Dakota hingga mendarat di lapangan terbang sipil Cot Gapu pada Juni 1948.
 
Kedatangan rombongan presiden di sambut Gubernur Militer Aceh, Teungku Daud Beureu’eh, atau yang akrab disapa Abu Daud Beureueh, Panglima Divisi X, Kolonel Hussein Joesoef, para perwira militer Divisi X, alim ulama dan para tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan anak-anak Sekolah Rakyat (SR) juga ikut menyambut kedatangan presiden sekaligus PanglimaTertinggi Militer itu. Malam harinya di lapangan terbang Cot Gapu diselenggarakan Leising (rapat umum) akbar. Presiden Soekarno dengan ciri khasnya, berpidato berapi-api, membakar semangat juang rakyat di Keresidenan Bireuen yang membludak, tepatnya di lapangan terbang Cot Gapu. Masyarakat Bireuen sangat bangga dan berbahagia sekali dapat bertemu muka dan mendengar langsung pidato presiden Soekarno tentang agresi Belanda 1947-1948 yang telah menguasai kembali Sumatera Timur (Sumatera Utara) sekarang.
11

suntingan