Buka menu utama

Perubahan

1 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
Sejarah Bireuen
'''Salah satu Peninggalan Situs Sejarah Kabupaten Bireuen yaitu :'''
 
'''- Istana Tun Sri Lanang (Rumoh Krueng)'''
 
Istana Tun Sri Lanang atau yang dikenal dengan nama Rumoh Krueng adalah sebuah bangunan tempat tinggal Tun Sri Lanang tahun 1613-1659. Yang terletak di Mukim Kuta Blang Kecamatan Samalanga.  Istana Tun Sri Lanang terbuat dari kayu beratap rumbia yang menghadap ke arah  selatan dengan denah persegi panjang yang berukuran 18 x 12,17 meter. Istana ini memilki bentuk atau ciri khas bangunan tradisional Aceh : berbentuk rumah panggung, mempunyai atap tampung lima, memunyai dua serambi atau seramoe keue dan seramo likoet yang berfungsi seramoe keue (serambi depan) untuk tempat bertamu kaum laki-laki dan seramoe likoet atau serambi belakang untuk tamu-tamu kaum perempuan. Kemudian pada bagian tengah ada kamar tidur dalam bahasa Aceh disebut Juree. Secara umum bangunan atau Istana Tun Sri lanang ini didominasi oleh warna putih dengn pemakaian warna hijau sebagai penegasan bentuk elemen bangunan.
 
'''- Makam Tun Sri Lanang (Raja pertama samalanga)'''
Makam Tun Srilanang
 
Makam Tun Sri Lanang (Raja pertama samalanga)
 
Di daerah Samalanga terdapat makam Tun Sri Lanang, Makam Tun Seri Lanang masih dapat dijumpai di Desa Meunasah Lueng, Kec. Samalanga, Kabupaten Bireuen. Tidak jauh dari kawasan makam terdapat masjid dan dayah Kota Blang yang telah menjana ramai tokoh alim-ulama. Apa yang menarik, bentuk masjid tidak sama dengan masjid-masjid yang ada di Aceh. Dengan kata lain, sangat kental dengan nuansa Melayu.
 
 
 
'''- KEDATANGAN SOEKARNO'''
 
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa di Pendapa Bupati Kabupaten Bireuen tersebut. Hanya sebuah bangunan semi permanen yang berarsitektur rumah adat Aceh. Namun siapa sangka, dibalik bangunan tua itu tersimpan sejarah perjuangan kemerdekaan RI yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Malah, di sana pernah menjadi tempat pengasingan presiden Soekarno.
 
 
 
'''- JANGAN LUPAKAN SEJARAH'''
 
'''“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah ,” Soekarno (17 Agustus 1966).'''
11

suntingan