Buka menu utama

Perubahan

8 bita dihapus, 3 bulan yang lalu
k
Pada bulan November 2007, [[Forest Stewardship Council]] (FSC) secara resmi memisahkan diri dengan APP, menyatakan tidak lagi berlakunya hak APP menggunakan logonya. Pada penghentian semua hubungan dengan FSC pada 2007, juru bicara WWF berkomentar "Ternyata perusahaan telah memutuskan untuk menjalankan kampanye propaganda global daripada melindungi hutan dengan nilai konservasi tinggi.<ref name=autogenerated2>{{cite web|url=http://www.printweek.com/news/764431/FSC-rules-upheaval-green-groups-level-accusations-APP/ |title=FSC rules in upheaval after green groups level accusations at APP &#124; printweek.com &#124; Latest Print Industry News, Jobs, Features, Product Reviews, Used Printing and Packaging Machinery |publisher=printweek.com |date=1 November 2007 |accessdate=7 June 2012}}</ref> "
 
Pada bulan Maret 2008, investigasi oleh koalisi lingkungan disebut Eyes on the Forest<ref>{{cite web|url=http://eyesontheforest.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=174&Itemid=6&lang=english |title=New APP Logging Road Threatens One of World’s Biggest Carbon-Storing Forests, Tigers; Eyes on the Forest, March 2008 |publisher=Eyesontheforest.or.id |date=22 May 2012 |accessdate=7 June 2012}}</ref> menunjukkan bukti sebuah jalan baru yang dibangun oleh APP, pos melalui semenanjung Kampar, salah satu [[hutan rawa gambut]] tropis bersebelahan terbesar di dunia, dengan lebih banyak karbon per hektare dibandingkan ekosistem lain di Bumi. Penyelidikan menemukan trek di jalan baru dari [[Harimau SumateraSumatra]] yang [[terancam punah]], yang populasinya telah dikurangi menjadi kurang dari 500 ekor. APP mengklaim bahwa itu membangun state-of-the-art, jalan beraspal untuk kepentingan masyarakat setempat, meskipun citra satelit menunjukkan bahwa jalan tidak pergi ke mana pun dekat dua pemukiman. Para penulis laporan menyatakan:<blockquote>Kami sangat mendesak APP untuk bergabung dengan jajaran bisnis yang bertanggung jawab dan melakukan operasinya dalam hukum.<ref name="Sciencedaily.com">{{cite web|url=http://www.sciencedaily.com/releases/2008/03/080325203442.htm |title=Logging Road Threatens Rare Peat Dome, Tigers |publisher=Sciencedaily.com |date=25 March 2008 |accessdate=7 June 2012}}</ref>
</blockquote>
 
Pada tanggal 8 Juni 2011, [[Greenpeace]] meluncurkan [http://www.greenpeace.org/barbie "Barbie, It's Over"], kampanye internasional mengkritik [[Mattel]] ketika menggunakan produk Asia Pulp & Paper pada kemasan, khususnya di lini produk [[Barbie]].<ref>{{cite web|last=Anne |first=Sarah |url=http://www.washingtonpost.com/blogs/blogpost/post/greenpeace-protests-barbie-at-mattel-headquarters/2011/06/08/AG7VwzLH_blog.html |title=Greenpeace protests Barbie at Mattel headquarters – BlogPost |work=The Washington Post |date=7 February 2011 |accessdate=9 June 2011}}</ref> Dalam waktu dua hari dari awal kampanye, Mattel memerintahkan pemasok kemasan untuk berhenti membeli produk dari Asia Pulp & Paper menunggu penyelidikan tuduhan deforestasi Greenpeace, dan selanjutnya memerintahkan pemasok untuk melaporkan tentang bagaimana mereka bahan-bahan sumber. Asia Pulp & Paper menyambut respon Mattel, percaya bahwa investigasi Mattel akan menyimpulkan bahwa "bahan kemasan yang lebih dari 95% kertas daur ulang bersumber dari seluruh dunia."<ref>{{cite web|url=http://www.latimes.com/business/la-fi-mattel-greenpeace-20110610,0,4085140.story |title=Pressured by Greenpeace, Mattel cuts off sub-supplier APP |last=Roosevelt |first=Margot |work=Los Angeles Times |accessdate=10 June 2011}}</ref>
 
Pada tanggal 5 Oktober 2011, [[Phil Radford]] dari [[Greenpeace]] mengumumkan bahwa Mattel menyatakan<ref>{{cite web|url=http://www.greenpeace.org/usa/en/news-and-blogs/campaign-blog/a-roaring-thank-you-on-behalf-of-the-sumatran/blog/37204/ |title=A Roaring Thank You on Behalf of the Sumatran Tigers | author=[[Phil Radford]] |accessdate=9 November 2011}}</ref> bahwa akan tidak lagi membeli produk bubur dan kertas dari Asia Pulp & Paper karena praktik penebangan yang telah berdampak pada populasi Harimau SumateraSumatra.<ref>{{cite news|title=Victory: Mattel and Barbie Drop Deforestation!|url=http://www.greenpeace.org/usa/en/news-and-blogs/campaign-blog/victory-mattel-and-barbie-drop-deforestation/blog/37182/|accessdate=5 October 2011|newspaper=Greenpeace News Blog|date=5 October 2011}}</ref>
 
==== Insiden Harimau SumateraSumatra ====
 
Selama akhir Juli 2011 [[Greenpeace]] mengunggah gambar dan rekaman di situs web mereka<ref>[http://www.greenpeace.org.uk/blog/forests/endangered-sumatran-tiger-dies-trap-app-concession-indonesia-20110725 Endangered Sumatran tiger dies in trap on APP concession in Indonesia] – Greenpeace 25 July 2011</ref> yang menunjukkan [[harimau sumatera]] terancam punah. Harimau ini telah menjadi terperangkap oleh jerat hewan di tepi sebuah konsesi APP, dan telah ada selama setidaknya tujuh hari, tanpa makanan atau air. Upaya untuk tranquilise dan menyelamatkan harimau gagal karena kondisi miskin kesehatan. APP menyatakan bahwa perangkap ditetapkan oleh penduduk lokal dan dimaksudkan untuk menargetkan mamalia kecil.<ref>{{cite news|title=Asia Pulp Paper Under Fire Following Tiger Death|url= http://www.proprint.com.au/News/264760,asia-pulp--paper-under-fire-following-tiger-death.aspx|accessdate=18 December 2013|newspaper=ProPrint|date=26 July 2011}}</ref>
 
Pada Februari 2012, WWF menerbitkan daftar kertas toilet Amerika Serikat yang mungkin memiliki dampak langsung terhadap 400 harimau SumateraSumatra yang tersisa di alam.<ref>[http://www.worldwildlife.org/sites/tigers/report-landing-page.html Don’t Flush Tiger Forests] WWF 8 February 2012</ref>
 
Untuk membantu melestarikan spesies yang terancam punah ini, APP telah menciptakan 106 000 hektare tempat perlindungan, [[Senepis Buluhala Tiger Sanctuary]] dari empat perusahaan penebangan konsesi. Tempat perlindungan ini dikelilingi dan dilindungi oleh hutan produksi, di mana para pekerja terus-menerus waspada untuk penebangan liar dan kebakaran liar yang mengancam habitat Harimau SumateraSumatra yang terancam punah.<ref>{{cite news|title=APP engaged in protecting tigers|url= http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/22/app-engaged-protecting-tigers.html|accessdate=18 December 2013|newspaper=The Jakarta Post|date=22 February 2010}}</ref>
 
==== Penebangan Ramin ====
 
Pohon [[Ramin (pohon)|Ramin]] ''Gonystylus'' dilindungi secara hukum di bawah hukum Indonesia dan regulasi nasional [[CITES]]. Hutan rawa gambut SumateraSumatra merupakan habitat utama ramin.<ref name=GPMarch2012>[http://www.greenpeace.org/international/Global/international/publications/forests/2012/Indonesia/Greenpeace_TRPT_report.docx The Ramin Paper Trail Asia Pulp & Paper Under Investigation – Part 2] [http://www.greenpeace.org/international/en/publications/Campaign-reports/Forests-Reports/The-Ramin-Paper-Trail in short] [[Greenpeace]] 1 March 2012</ref> Pada 2012 Greenpeace mengekspos video praktik pembalakan liar APP. Dalam video mereka menunjukkan kayu dari pohon ramin duduk di pekarangan bubur APP.<ref>{{cite web |author=Publication – 1 March 2012 |url=http://www.greenpeace.org/canada/en/campaigns/forests/Indonesia/Resources/Reports/The-Ramin-paper-trail/ |title=Asia pulp & paper under investigation part two: &#124; Greenpeace Canada |publisher=Greenpeace.org |date=1 March 2012 |accessdate=7 June 2012}}</ref>
 
Menurut Greenpeace pada Maret 2012, pabrik kertas utama APP di Indonesia (Indah Kiat Perawang) mencampur kayu ramin ilegal secara teratur dengan spesies hutan hujan lainnya dalam pasokan kayu pulp nya. APP membantah tuduhan tersebut, menyatakan “APP berterima kasih kepada Greenpeace untuk membawa laporan ini untuk perhatian kita. Kami mengambil sangat serius bukti pelanggaran peraturan tentang perlindungan spesies pohon yang terancam punah…APP mempertahankan kebijakan toleransi nol ketat untuk kayu ilegal memasuki rantai pasokan dan memiliki sistem rantai balak yang komprehensif (CoC) untuk memastikan bahwa hanya kayu legal yang dapat memasuki pabrik pulp.”<ref>{{cite news|title=APP statement on Greenpeace Ramin report|url= http://www.scoop.co.nz/stories/PO1203/S00024/app-statement-on-greenpeace-ramin-report.htm|newspaper=Scoop Independent News|date=1 March 2012}}</ref> Sejak Indonesia melarang penebangan dan perdagangan [[Ramin (pohon)|ramin]] pada 2001, lebih dari seperempat dari habitat ramin ini telah dibersihkan - banyak dari daerah ini saat ini memasok APP. Peta pemerintah menunjukkan bahwa 800.000 ha (28%) dari hutan rawa gambut Sumatra dibersihkan antara tahun 2003 dan 2009. Pada tahun 2003, 80% dari hutan rawa gambut Sumatra, habitat ramin kunci, juga diidentifikasi sebagai habitat penting untuk kelangsungan hidup [[Harimau sumatera]].<ref name="GPMarch2012"/>
Menurut Asia Times Online, model bisnis APP adalah salah satu taktik agresif: ternyata profil besar dengan cepat pengupasan hutan gundul, mengeksploitasi hutan kuno dan masyarakat adat, dan meninggalkan kota sebelum konsekuensi lingkungan yang dirasakan.<ref>{{cite web|url=http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/GA06Ae01.html |title=Asia Times Online :: Southeast Asia news and business from Indonesia, Philippines, Thailand, Malaysia and Vietnam |publisher=Atimes.com |accessdate=7 June 2012}}</ref>
 
Sebuah investigasi yang diterbitkan Maret 2008 oleh koalisi lingkungan bernama Eyes on the Forest<ref>{{cite web|url=http://eyesontheforest.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=174&Itemid=6&lang=english |title=New APP Logging Road Threatens One of World’s Biggest Carbon-Storing Forests, Tigers; Eyes on the Forest, March 2008 |publisher=Eyesontheforest.or.id |date=22 May 2012 |accessdate=7 June 2012}}</ref> menunjukkan bukti sebuah jalan baru yang dibangun oleh APP, pos melalui semenanjung Kampar, salah satu [[hutan rawa gambut]] tropis bersebelahan terbesar di dunia, dengan lebih banyak karbon per hektare dibandingkan ekosistem lain di Bumi. Penyelidikan menemukan trek di jalan baru dari [[Harimau SumateraSumatra]] yang [[terancam punah]], yang populasinya telah dikurangi menjadi kurang dari 500 ekor. APP mengklaim bahwa mereka membangun state-of-the-art, jalan beraspal untuk kepentingan masyarakat setempat, meskipun citra satelit menunjukkan bahwa jalan tidak pergi ke mana pun dekat dua pemukiman.
Para penulis laporan menyatakan:<blockquote>Kami sangat mendesak APP untuk bergabung dengan jajaran bisnis yang bertanggung jawab dan melakukan operasinya sesuai dengan hukum.<ref name="Sciencedaily.com"/></blockquote>
 
* PT Pindo Deli Paper Mills (Karawang and Perawang)<li />PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry (Tebing Tinggi, Jambi)
 
* PT The Univenus Cikupa (Banten)<li />PT Oki Pulp and Paper Mills (Ogan Komering Ilir, SumateraSumatra Selatan)<li />PT Ekamas Fortuna (Malang) ;
<li />PT Purinusa Ekapersada (Bandung, Semarang, Demak)
<li />PT Konverta Mitra Abadi (Lampung)
224.887

suntingan