Buka menu utama

Perubahan

4.788 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
←Membuat halaman berisi ''''Masjid Raya Pekanbaru''' atau '''Masjid Senapelan Pekanbaru''' merupakan sebuah masjid yang terletak di Kota Pekanbaru, Indonesia. Masjid ini dibangun p...'
'''Masjid Raya Pekanbaru''' atau '''Masjid Senapelan Pekanbaru''' merupakan sebuah [[masjid]] yang terletak di [[Kota Pekanbaru]], [[Indonesia]]. Masjid ini dibangun pada abad ke-18, tepatnya tahun 1762. Masjid ini dibangun oleh [[Alamuddin dari Siak|Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah]], sebagai sultan keempat dari [[Kesultanan Siak Sri Inderapura|Kerajaan Siak Sri Indrapura]], dan kemudian diteruskan pada masa [[Muhammad Ali dari Siak|Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah]] sebagai sultan kelima dari [[Kesultanan Siak Sri Inderapura|Kerajaan Siak Sri Indrapura]].<ref name="Sejarah>{{cite web |url=https://situsbudaya.id/masjid-raya-pekanbaru/ |=title=Masjid Raya Pekanbaru |accessdate=20 Maret 2019}}</ref>

== Sejarah ==
Masjid ini didirikan pada masa kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah ketika memindahkan dan menjadikan [[Senapelan, Pekanbaru|Senapelan]] (sekarang [[Kota Pekanbaru|Pekanbaru]]) sebagai Pusat Kerajaan Siak. Sesuai adat Raja Melayu pada saat itu, apabila terjadi pemindahan pusat kerajaan, maka harus diikuti dengan pembangunan ''Istana Raja'', ''Balai Kerapatan Adat'', dan ''Masjid''. Ketiga unsur tersebut wajib dibangun sebagai representasi dari unsur pemerintahan, adat dan agama yang biasa disebut ''Tali Berpilin Tiga'' atau ''[[Tungku Tigo Sajarangan|Tungku Tiga Sejarangan]]''.<ref name="Sejarah"/>

Di akhir tahun 1762, dilakukan upacara menaiki ketiga bangunan tersebut. Bangunan istana diberi nama ''Istana Bukit'', balai kerapatan adat disebut ''Balai Payung Sekaki'' dan masjid diberi nama ''Masjid Alam'' (yang mengikut kepada nama kecil sultan Alamuddin yaitu Raja Alam).<ref name="Sejarah"/>

== Arsitektur ==
Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini mengalami beberapa renovasi. Yaitu pada tahun 1755, renovasi dilakukan dengan pusat pelebaran daya tampung masjid. Lalu pada tahun 1810, pada masa pemerintahan [[Ali dari Siak|Sultan Assaidis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin]], masjid ini kembali direnovasi dengan menambahkan fasilitas tempat berteduh untuk pada peziarah makam di sekitar area masjid. Dilanjutkan pada tahun 1940, ditambahkan sebuah pintu gerbang masjid yang menghadap ke arah timur.<ref name="Arsitektur">{{cite web |url=https://kontraktorkubahmasjid.com/masjid-raya-senapelan-pekanbaru-riau/ |title=Masjid Raya Senapelan – Pekanbaru Riau |accessdate=20 Maret 2019}}</ref>

Renovasi yang terakhir, terjadi pada tahun 1940 merupakan hampir renovasi total dari masjid yang bisa disebut sudah ''sangat tua'' yaitu dari tahun 1755 sampai tahun 1940. Ini artinya masjid tersebut sudah berusia hampir 2 abad lamanya.<ref name="Arsitektur"/>

== Revitalisasi ==
Sejak 2009, masjid ini masuk proyek revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau. Dengan adanya revitalisasi yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Riau, revitalisasi ini menghancurkan bangunan aslinya. Akibat proyek tersebut, yang tersisa hanya 26 tiang bekas bangunan lama yang ada di sisi timur, selatan, barat, dan utara. Ada enam tiang penyanggah tengah yang kini tersisa dan dijadikan bentuk menara. Hal ini membuat masjid ini menjadi satu-satunya masjid yang memiliki menara dalam bangunan. Menara itu terpaksa dibuat karena bekas sisa tiang penyanggah masjid masa lalu.<ref name="Revitalisasi">{{cite web |url=https://news.detik.com/berita/d-3624807/penampakan-masjid-raya-pekanbaru-yang-tak-lagi-cagar-budaya |title=Penampakan Masjid Raya Pekanbaru yang Tak Lagi Cagar Budaya |accessdate=20 Maret 2019}}</ref>

Tiang-tiang sisa bangunan lama memang masih dipertahankan. Tapi bentuk asli masjid sudah diratakan dengan tanah. Kini bangunan masjid itu begitu megah, sama seperti bangunan masjid modern masa kini. Dulunya, bangunan masjid bergaya arsitektur melayu kuno.<ref name="Revitalisasi"/>

== Status ==
Dengan memertimbangkan masih adanya peninggalan sejarah dan budaya yang tersisa, Tim Ahli [[Cagar Budaya Indonesia|Cagar Budaya Nasional]] merekomendasikan untuk mengubah statusnya dari Bangunan Cagar Budaya menjadi Struktur Cagar Budaya, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 209/M/2017 tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru pada 3 Agustus 2017.<ref name="Status">{{cite web |url=https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/masjid-raya-pekanbaru-dari-bangunan-menjadi-struktur-cagar-budaya/ |title=Masjid Raya Pekanbaru, dari Bangunan menjadi Struktur Cagar Budaya |accesdate=20 Maret 2019}}</ref>

Setiap cagar budaya yang sudah ditetapkan mempunyai payung hukum, yaitu Undang Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dengan status barunya sebagai Struktur Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru, tetap mendapatkan pelindungan seperti sebelumnya.<ref name="Status"/>

== Referensi ==
{{reflist}}

{{Masjid di Indonesia}}

[[Kategori:Masjid di Riau]]
5.042

suntingan