Ahmad Syafii Maarif: Perbedaan revisi

15 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
Pada tahun 1953, dalam usia 18 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya untuk [[merantau]] ke [[Jawa]]. Bersama dua adik sepupunya, yakni Azra'i dan Suward, ia diajak belajar ke [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Yogyakarta]] oleh M. Sanusi Latief.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Namun, sesampai di Yogyakarta, niatnya semula untuk meneruskan sekolahnya ke Madrasah [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] di kota itu tidak terwujud, karena pihak sekolah menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Tidak lama setelah itu, ia justru diangkat menjadi guru [[bahasa Inggris]] dan [[bahasa Indonesia]] di sekolah tersebut tetapi tidak lama. Pada saat bersamaan, ia bersama Azra'i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Setelah itu, ia kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya ia diterima tetapi ia harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga. Selama belajar di sekolah tersebut, ia aktif dalam organiasi kepanduan [[Hizbul Wathan]] dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah ''Sinar'' (Kini Dibawahi oleh [[Lembaga Pers Mu'allimin]]), sebuah majalah pelajar [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] di Yogyakarta.
 
Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya.{{sfn|Maarif|2009|pp=101–110}} Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke [[Pulau Lombok|Lombok]] memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru. Sesampai di [[Kabupaten Lombok Timur|Lombok Timur]], ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di [[Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur|Pohgading]] tempat ia ditugaskan sebagai guru.{{sfn|Maarif|2009|pp=101–110}} Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya,{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di [[Kota Surakarta|Surakarta]].{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} Sesampai di Surakarta, ia masuk ke [[Universitas Cokroaminoto Yogyakarta|Universitas Cokroaminoto]] dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964.{{sfn|Maarif|2009|pp=141–160}} Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat [[doktor]]alsarjana penuh (doktorandus) pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang [[Universitas Negeri Yogyakarta]]) dan tamat pada tahun 1968.{{sfn|Maarif|2009|pp=161–171}} Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958.{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian sempat menjadi guru honorer di [[Baturetno, Wonogiri|Baturetno]] dan [[Kota Surakarta|Solo]].{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}}{{sfn|Maarif|2009|pp=141–160}} Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur ''[[Suara Muhammadiyah]]'' dan anggota [[Persatuan Wartawan Indonesia]].{{sfn|Maarif|2009|pp=161–171}}
 
=== Karier ===
Pengguna anonim