Yerusalem: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  1 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Sinagoga +Sinagoge, -sinagoga +sinagoge))
k
* "Sejak Raja Daud menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel 3.000 tahun yang lalu, kota ini telah memainkan peran sentral dalam keberadaan bangsa Yahudi." Mitchell Geoffrey Bard, ''The Complete Idiot's Guide to the Middle East Conflict'', Alpha Books, 2002, p. 330. ISBN 0-02-864410-7
* "Yerusalem menjadi pusat orang-orang Yahudi sekitar 3.000 tahun yang lalu" Moshe Maoz, Sari Nusseibeh, ''Jerusalem: Points of Friction – And Beyond'', Brill Academic Publishers, 2000, p. 1. ISBN 90-411-8843-6
* "Orang-orang Yahudi terikat erat pada kota Yerusalem. Tidak ada kota lain yang telah memainkan suatu peran dominan dalam sejarah, politik, budaya, agama, kehidupan berbangsa dan kesadaran dari suatu bangsa sebagaimana dimiliki Yerusalem dalam kehidupan Yahudi dan Yudaisme. Sejak Raja Daud mendirikan kota ini sebagai ibu kota negara Yahudi {{circa}} 1000 SM, kota ini telah berperan sebagai simbol dan ekspresi terdalam identitas orang Yahudi sebagai sebuah bangsa." [http://www.adl.org/israel/advocacy/glossary/jerusalem.asp Basic Facts you should know: Jerusalem], [[Anti-Defamation League]], 2007. Retrieved 28 March 2007.</ref> Julukan kota suci (''עיר הקודש'', ditransliterasikan ''‘ir haqodesh'') mungkin disematkan ke Yerusalem pada pasca-[[Pembuangan ke Babilonia|periode pembuangan]].<ref>Reinoud Oosting, {{Google books |id=at6SOl54gqAC |page=117 |title=The Role of Zion/Jerusalem in Isaiah 40–55: A Corpus-Linguistic Approach}} BRILL 2012 p. 117-118. [[Kitab Yesaya|Yesaya]] 48:2;51:1; [[Kitab Nehemia|Nehemia]] 11:1,18; lih. [[Kitab Yoel|Yoel]] 4:17: [[Kitab Daniel|Daniel]] 5:24. Bagian Yesaya di mana mereka disebutkan termasuk dalam Deutero-Yesaya.</ref><ref>Shalom M. Paul, {{Google books |id=SkFTmo4ZnzMC |page=306 |title=Isaiah 40–66}} Wm. B. Eerdmans Publishing, 2012 p.306. 'Kesucian' (''qodesh'') berasal dari bait di tengah-tengahnya, akar kata [[Q-D-Š|q-d-š]] mengacu pada suatu tempat kudus. Konsep ini dibuktikan dalam sastra Mesopotamia, dan julukan tersebut dapat berfungsi untuk membedakan Babilon/Babel, kota pembuangan, dari kota keberadaan Bait itu, tempat di mana mereka diperintahkan untuk kembali.</ref><ref>{{cite web|first=Norman|last=Golb|url=http://www.bibleinterp.com/articles/Jerusalem_OneCity.shtml|title=Karen Armstrong's Jerusalem—One City, Three Faiths|publisher= The Bible and Interpretation|year=1997|quote=Teks-teks kuno yang tersedia menunjukkan bahwa konsep tersebut dibuat oleh seorang tokoh atau lebih di kalangan pemimpin spiritual Yahudi, dan hal ini terjadi selambatnya abad ke-6 SM.|accessdate=10 July 2013}}</ref> Kesucian [[Yerusalem dalam Kekristenan]], terlestarikan dalam [[Septuaginta]]<ref>Isaiah 52:1 πόλις ἡ ἁγία.</ref> yang mana diadopsi kaum Kristen sebagai otoritas mereka sendiri,<ref>Joseph T. Lienhard,''The Bible, the Church, and Authority: The Canon of the Christian Bible in History and Theology,'' Liturgical Press, 1995 pp.65–66:'Septuaginta merupakan suatu terjemahan Yahudi dan juga digunakan dalam sinagogasinagoge. Tetapi pada akhir abad ke-1 M banyak orang Yahudi berhenti menggunakan Septuaginta karena umat Kristen awal telah mengadopsinya sebagai terjemahan mereka sendiri, dan karya tersebut mulai dianggap sebagai suatu terjemahan Kristen.'</ref> dipertegas oleh catatan [[Perjanjian Baru]] tentang [[penyaliban Yesus]] di sana. Dalam pandangan [[Islam Sunni]], Yerusalem adalah kota tersuci ketiga setelah [[Mekkah]] dan [[Madinah]].<ref name="3rd-holiest">Kota tersuci ketiga dalam Islam:
* {{Cite book|title=What Everyone Needs to Know about Islam|publisher=Oxford University Press|date=2 November 2002|last=Esposito|first=John L.|authorlink=John Esposito|isbn=0-19-515713-3|page=157|quote=Perjalanan Malam tersebut menjadikan Yerusalem kota tersuci ketiga dalam Islam}}
* {{Cite book|title=Religion and State: The Muslim Approach to Politics|last=Brown|first=Leon Carl|publisher=Columbia University Press|date=15 September 2000|isbn=0-231-12038-9|page=11|chapter=Setting the Stage: Islam and Muslims|quote=Kota paling suci ketiga dalam Islam—Yerusalem—juga sangat banyak berada di pusat... }}