Christiaan Snouck Hurgronje: Perbedaan revisi

521 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
== Kehidupan di Hindia Belanda ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Mekkagangers uit Aceh met twee Wakils in het Nederlandse Consulaat in Jeddah TMnr 10001259.jpg|jmpl|lurus|Peziarah dari [[Aceh]] dalam perjalanan mereka ke Mekah. Gambar diambil oleh '' 'Snouck Hurgronje' '' di Konsulat Belanda di [[Jeddah]], 1884.]]
Pada 1871, Gubernur Jenderal kolonial mengandalkan sebuah penasihat untuk urusan adat untuk mengelola ketegangan ini. Karena keahliannya dalam bahasa Arab dan Islam, Prof.Dr. Snouck Hurgronje bertugas dalam kapasitas ini antara 1889 dan 1905. Nasihatnya keseluruhan adalah untuk campur tangan sesedikit mungkin dalam urusan agama dan memungkinkan kebebasan optimal terhadap agama. Hanya manifestasi politik Islam itu yang harus dilawan, dalam pandangannya. Oleh sebab, ia berpandangan bahwa musuh kolonialisme ketika itu bukanlah Islam sebagai agama, tapi Islam sebagai doktrin politik.<ref name=sikapsnouck>Purwoko (1989), hlm.101</ref> Dalam soal ini, Snouck juga membagi Islam dalam 3 aspek: ibadah, sosial-masyarakat, dan politik. Netralitas menurutnya hanya berlaku pada aspek satu dan dua. Tapi aspek ketiga dia anggap berbahaya, apalagi jika ianya terkait pada paham [[Pan Islamisme]], yang menurutnya harus dilibas sejak dini.<ref name=sikapsnouck/> Meskipun sarannya dilaksanakan dan dipandu kebijakan kolonial pada tahun-tahun mendatang, munculnya [[Sarekat Islam]] pada tahun 1912 menjadi kemunculan partai politik Hindia pertama yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam.<ref name="inghist.nl"/>
 
Bercita-cita untuk mereformasi kebijakan kolonial Belanda, Snouck pindah ke Hindia Belanda pada tahun 1889. Snouck awalnya ditunjuk sebagai peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg dan profesor bahasa Arab di [[Batavia]] pada tahun 1890. Meskipun pada awalnya ia tidak diizinkan untuk mengunjungi Aceh di Sumatera, ia menolak tawaran untuk kembali ke Eropa dari [[Universitas Leiden]] dan [[Universitas Cambridge]]. Pada tahun 1890 ia menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi di [[Ciamis]], [[Jawa Barat]]. Karena kontroversi ini disebabkan di Belanda, Snouck menyebut pernikahan ini sebagai "kesempatan ilmiah" untuk mempelajari dan menganalisis upacara pernikahan Islam. Empat anak telah lahir dari pernikahan ini.
3.577

suntingan