Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran, 7 bulan yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-Perancis +Prancis)
Riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology yang beralamat di Jl. Dipenogoro 69 Jakarta menemukan bahwa genetika Dayak Ma’anyan berbeda dengan orang Madagaskar. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Nature Scientific Reports edisi 18 Mei 2016.<ref name="nature.com">http://www.nature.com/articles/srep26066</ref><ref>http://news.detik.com/berita/2855830/dari-indonesia-bagian-mana-28-perempuan-nenek-moyang-orang-madagaskar</ref>
 
Sejumlah peneliti dari Universitas Toulouse, PerancisPrancis dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah mencocokkan genetika orang Madagaskar dengan seluruh data genetik orang Indonesia lainnya. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan kecocokan genetika orang Madagaskar dengan orang Banjar. Orang Banjar sendiri terbentuk dari percampuran Dayak Ma’anyan dengan Melayu. Percampuran itu diduga terjadi karena kegiatan perdagangan lintas pulau di Nusantara sejak sekitar abad ke-5, dan diduga semakin intensif di era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Orang Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar ini memiliki kemiripan genetik populasi di Semenanjung Malaysia saat ini. Komposisi orang Banjar adalah 76-77 persen Melayu dan 23-24 persen Dayak Ma’anyan.
 
Etnis Banjar berlayar ke Madagaskar 1.000-1.200 tahun lalu, kemudian kawin-mawin dengan etnis Bantu dari Afrika Selatan. Percampuran genetik antara Banjar dan Bantu di Madagaskar ini terekam pertama kali sekitar 670 tahun lalu dan kemudian membentuk populasi Madagaskar saat ini, yang memiliki komposisi genetis etnis Banjar 36-37 persen dan sisanya etnis Bantu dari Afrika. (Kompas, Ahmad Arif, 16 Juli 2016).<ref name="nature.com"/><ref>http://print.kompas.com/baca/sains/iptek/2016/07/16/Leluhur-Orang-Madagaskar-dari-Banjar</ref><ref>https://www.researchgate.net/publication/273703326_Mitochondrial_DNA_and_the_Y_chromosome_suggest_the_settlement_of_Madagascar_by_Indonesian_sea_nomad_populations</ref><ref>https://www.sciencedaily.com/releases/2016/07/160705183132.htm</ref><ref>https://www.researchgate.net/profile/Pradiptajati_Kusuma</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/33/9/2396</ref><ref>http://kaltim.hypotheses.org/1042</ref><ref>http://bmcgenomics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12864-015-1394-7</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3903192/</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1199379/</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/26/9/2109.full</ref><ref>https://www.pressreader.com/</ref><ref>http://www.academia.edu/9383544/Austronesians_in_Madagascar_a_critical_assessment_of_the_works_of_Paul_Ottino_and_Philippe_Beaujard</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/early/2016/06/29/molbev.msw117.full.pdf</ref><ref>http://massey.genomicus.com/publications/Brucato_2016_MolBiolEvol_v33_p2396.pdf</ref><ref>http://edisidumai.com/2017/01/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam/</ref>
461.089

suntingan