Pangeran: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-Perancis +Prancis)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Perancis +Prancis))
Di Eropa, para pangeran biasanya diangkat menjadi adipati dan memimpin suatu wilayah di kerajaan. Di Turki Utsmani, para pangeran akan diutus memimpin suatu provinsi dengan didampingi ibunya sebagai bekal pelatihan untuk menjadi calon pewaris takhta. Sang pangeran dan ibunya hanya akan tinggal kembali di ibukota saat telah menjadi sultan dan ibu suri. Namun sejak masa Sultan Ahmed I, aturan ini dihapuskan dan para pangeran akan tetap tinggal di istana sampai naik takhta.
 
Meskipun sama-sama keturunan penguasa monarki, tetapi para putri memiliki tugas yang berbeda. Biasanya putri tidak diberikan kekuasaan untuk memimpin sebagai adipati sebagaimana para pangeran, kecuali dalam beberapa monarki seperti di Majapahit. Di banyak kebudayaan, tugas utama putri biasanya terkait pernikahan mereka. Melalui pernikahan antar dinasti, diharapkan terjadi jalinan persahabatan antar kerajaan dan kekaisaran. Para permaisuri dari raja dan kaisar Eropa banyak yang merupakan putri dari negara lain. [[Catarina d'Aragón|Katherine dari Aragon]] yang merupakan istri [[Henry VIII dari Inggris|Henry VIII]], Raja Inggris, adalah putri Spanyol. [[Maria Antonia|Marie Antoinette]] yang merupakan istri [[Louis XVI dari PerancisPrancis|Louis XVI]], Raja Prancis, awalnya adalah putri dari Kekaisaran Romawi Suci. Dalam beberapa kasus, pernikahan antar dinasti juga akan mengantarkan kepada penyatuan dua kerajaan pada masa mendatang. Hal ini memungkinkan bila sang putri adalah pewaris dari kerajaan tersebut. Hal ini terjadi pada pernikahan [[Isabel dari Kastilia|Putri Isabel]], pewaris takhta Kastilia dan Leon, dengan [[Fernando II dari Aragon|Pangeran Fernando]], putra mahkota Kerajaan Aragon, yang pada keberjalanannya akan menjadi penyatuan Spanyol.
 
Di beberapa kebudayaan, pernikahan antar sesama anggota dinasti yang sama juga dilakukan untuk menjaga kemurnian darah. Hal ini terjadi pada masa Mesir Kuno. Seorang firaun kerap menikah dengan saudari tiri mereka. Hal ini juga dilakukan di Jepang pada masa lampau. [[Kaisar Bidatsu]] menikah dengan saudarinya seayah, Putri Nukatabe, yang kemudian juga naik takhta sebagai [[Maharani Suiko]] sepeninggal suami sekaligus saudaranya. [[Kaisar Jomei]] menikahi keponakannya, Putri Takara. Sebagaimana Suiko, Putri Takara juga naik takhta sepeninggal suaminya dengan nama [[Maharani Kōgyoku]].