Buka menu utama

Perubahan

1 bita ditambahkan, 4 bulan yang lalu
→‎Demografi: bentuk baku
|id=ISBN 0-7167-3561-X }}</ref>
 
Korelasi yang berbanding terbalik antara keimanan dengan kecerdasan juga telah ditemukan pada 39 kajian yang dilakukan antara tahun 1927 sampai dengan tahun 2002, menurut sebuah artikel dalam ''Majalah [[Mensa]]''.<ref>Menurut Dawkins (2006), hal. 103. Dawkins mengutip pernyataan Bell, Paul. "Would you believe it?" ''Mensa Magazine'', UK Edition, Feb. 2002, hal. 12–13. Analyzing 43 studies carried out since 1927, Bell found that all but four reported such a connection, and he concluded that "the higher one's intelligence or education level, the less one is likely to be religious or hold 'beliefs' of any kind."</ref> Penemuan ini secara luas sesuai dengan [[meta-analisis]] statistis tahun 1958 yang dilakukan oleh Profesor [[Michael Argyle (psychologist)|Michael Argyle]] dari [[Universitas Oxford]]. Ia menganalisamenganalisis tujuh kajian riset yang telah menginvestigasi korelasi antara sikap terhadap agama dengan pengukuran [[kecerdasan]] pada pelajar-pelajar sekolah dan perguruan tinggi AS. Walaupun korelasi negatif ditemukan dengan jelas, analisis ini tidak mengidentifikasi sebab musababnya, namun menilai bahwa faktor-faktor seperti latar belakang keluarga yang otoriter dan kelas sosial mungkin memainkan sebagian peran penting.<ref>{{cite book
|last=Argyle
|first=Michael
235.844

suntingan