Buka menu utama

Perubahan

95 bita dihapus, 7 bulan yang lalu
bentuk baku, replaced: Nasehat → nasihat
|isbn=}}</ref>
 
Secara genetika suku Banjar purba sudah terbentuk ribuan tahun yang lalu yang merupakan pembauran orang Melayu purba sebagai unsur dominan dan Dayak Maanyan. Suku Banjar yang memiliki genetik Melayu dominan ini telah melakukan [[migrasi]] keluar [[pulau Kalimantan]] sekitar tahun 830 Masehi atau 1.200 tahun yang lalu menuju Madagasikara alias [[Madagaskar]] yang menurunkan [[bangsa Malagasi]].<ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/16/Ancestors-of-Malagasy-Came-from-Banjar</ref><ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/04/The-Journey-across-the-Indian-Ocean?utm_source=bacajuga</ref><ref name="terradaily.com">http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html</ref><ref name="terradaily.com"/><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/33/9/2478/2579515/No-One-Is-an-Island-The-History-of-Human-Genetic</ref><ref>http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article-lookup/doi/10.1093/molbev/msw117</ref>
 
[[Bahasa Malagasi]] menunjukkan unsur-unsur bahasa Banjar dan bahasa Maanyan, misalnya varika dari warik (bahasa Banjar) dan rano dari kata ranu (bahasa Maanyan).<ref name="Atlas of Languages">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=lFW1BwAAQBAJ&lpg=PA688&dq=banjarese%20srilangka&hl=id&pg=PA688#v=onepage&q=banjarese%20srilangka&f=false|title=Atlas of Languages of Intercultural Communication in the Pacific, Asia, and the Americas|author=Stephen A. Wurm|publisher=UNESCO|year=1996|isbn=|volume=1|location=Berlin; New York|page=688|coauthors=Peter Mühlhäusler, Darrell T. Tryon, Walter de Gruyter}}ISBN 3-11-013417-9 </ref>
<ref name="Austronesian Diaspora">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=Szvr5hUtD5kC&pg=PA209&dq=diaspora+banjar&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj30sjH5bLUAhWKwI8KHTY1CGIQ6AEIJDAA#v=onepage&q=diaspora%20banjar&f=false|title=Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago: Proceedings of the International Symposium|author=Truman Simanjuntak|publisher=LIPI Press|year=2006|isbn=|location=Indonesia|page=209|coauthors=Ingrid Harriet Eileen Pojoh, Muhamad Hisyam}} ISBN 979-26-2436-8</ref> Adat pemakaman sekunder Dayak beragama Kaharingan yang disebut aruh [[Buntang]] disebut [[Famadihana]] di Madagaskar. Tetapi di Madagaskar tidak terdapat upacara [[Ijambe]] (kremasi/ngaben) maupun [[Aruh Baharin]]/[[Aruh Ganal]] (upacara panen) yang masih dilakukan masyarakat Dayak Kaharingan di Kalsel. Adat mengayau juga tidak dilakukan oleh penduduk Madagaskar. Selain itu masih terdapat adat memberi makan buaya di Madagaskar dan yang juga masih dilakukan orang Banjar di Kalimantan Selatan.
 
Penelitian genetika oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menemukan bahwa etnis Banjar di Kalimantan Selatan sebagai nenek moyang penduduk [[Madagaskar]] yang biasa disebut [[bangsa Malagasi]]. Diaspora melintasi Samudra Hindia itu terjadi 1.200 tahun lalu dan menjawab teka-teki orang Indonesia yang menjadi leluhur populasi di lepas pantai timur Afrika tersebut. Dugaan bahwa nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Indonesia sebenarnya telah lama diketahui.<ref>http://news.detik.com/internasional/1874649/28-wanita-indonesia-tak-sengaja-temukan-madagaskar-1200-tahun-silam</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1893986/madagaskar-pertama-kali-dikoloni-28-perempuan-indonesia-1200-tahun-lalu</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894053/ternyata-bahasa-penduduk-madagaskar-meminjam-bahasa-indonesia</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894003/tes-dna-buktikan-orang-indonesia-dan-madagaskar-bersaudara</ref><ref>http://popular-archaeology.com/issue/summer-2016/article/new-picture-emerges-on-human-settlement-of-madagascar</ref>
Dapat dipastikan bahwa 90 persen bahasa Madagaskar berakar dari bahasa Dayak Ma’anyan yang tinggal di Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Kesamaan bahasa itu yang membuat Dayak Ma’anyan awalnya diduga sebagai leluhur Madagaskar.<ref>https://eprints.uns.ac.id/5115/1/187911011201108011.pdf</ref>
Riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology yang beralamat di Jl. Dipenogoro 69 Jakarta menemukan bahwa genetika Dayak Ma’anyan berbeda dengan orang Madagaskar. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Nature Scientific Reports edisi 18 Mei 2016.<ref name="nature.com">http://www.nature.com/articles/srep26066</ref><ref>http://news.detik.com/berita/2855830/dari-indonesia-bagian-mana-28-perempuan-nenek-moyang-orang-madagaskar</ref>
 
Sejumlah peneliti dari Universitas Toulouse, Perancis dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah mencocokkan genetika orang Madagaskar dengan seluruh data genetik orang Indonesia lainnya. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan kecocokan genetika orang Madagaskar dengan orang Banjar. Orang Banjar sendiri terbentuk dari percampuran Dayak Ma’anyan dengan Melayu. Percampuran itu diduga terjadi karena kegiatan perdagangan lintas pulau di Nusantara sejak sekitar abad ke-5, dan diduga semakin intensif di era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Orang Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar ini memiliki kemiripan genetik populasi di Semenanjung Malaysia saat ini. Komposisi orang Banjar adalah 76-77 persen Melayu dan 23-24 persen Dayak Ma’anyan.
 
Etnis Banjar berlayar ke Madagaskar 1.000-1.200 tahun lalu, kemudian kawin-mawin dengan etnis Bantu dari Afrika Selatan. Percampuran genetik antara Banjar dan Bantu di Madagaskar ini terekam pertama kali sekitar 670 tahun lalu dan kemudian membentuk populasi Madagaskar saat ini, yang memiliki komposisi genetis etnis Banjar 36-37 persen dan sisanya etnis Bantu dari Afrika. (Kompas, Ahmad Arif, 16 Juli 2016).<ref name="nature.com"/><ref>http://print.kompas.com/baca/sains/iptek/2016/07/16/Leluhur-Orang-Madagaskar-dari-Banjar</ref><ref>https://www.researchgate.net/publication/273703326_Mitochondrial_DNA_and_the_Y_chromosome_suggest_the_settlement_of_Madagascar_by_Indonesian_sea_nomad_populations</ref><ref>https://www.sciencedaily.com/releases/2016/07/160705183132.htm</ref><ref>http://www.nature.com/articles/srep26066</ref><ref>https://www.researchgate.net/profile/Pradiptajati_Kusuma</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/33/9/2396</ref><ref>http://kaltim.hypotheses.org/1042</ref><ref>http://bmcgenomics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12864-015-1394-7</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3903192/</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1199379/</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/26/9/2109.full</ref><ref>https://www.pressreader.com/</ref><ref>http://www.academia.edu/9383544/Austronesians_in_Madagascar_a_critical_assessment_of_the_works_of_Paul_Ottino_and_Philippe_Beaujard</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/early/2016/06/29/molbev.msw117.full.pdf</ref><ref>http://massey.genomicus.com/publications/Brucato_2016_MolBiolEvol_v33_p2396.pdf</ref><ref>http://edisidumai.com/2017/01/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam/</ref>
 
== Sejarah ==
| image1 = Candi Agung (5).jpg
| alt1 = Candi Agung
| caption1 = Balai Arkeologi Banjarmasin menemukan bukti bahwa situs Candi Agung di Amuntai, dibangun dan dihuni dua kali oleh leluhur suku Banjar pada abad ke-3 dan abad ke-8.<ref>https://www.youtube.com/watch?v=nNVN5hykKqs</ref>
 
| image2 = Candi Agung.jpg
|isbn=
}}</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/26/9/2109/1197149</ref>
 
 
Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman [[Kerajaan Sriwijaya|Sriwijaya]] dan kebudayaan Jawa pada zaman [[Kerajaan Majapahit|Majapahit]], dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.<ref>[http://www.indonesia.go.id/in/pemerintah-daerah/provinsi-kalimantan-selatan/sosial-budaya Sosial Budaya Provinsi Kalimantan Selatan] - indonesia.go.id</ref> [[Suku bangsa]] Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu '''(Banjar) Pahuluan''', '''(Banjar) Batang Banyu''', dan '''Banjar (Kuala)'''. Banjar Pahuluan pada asasnya adalalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke [[pegunungan Meratus]]. Banjar Batang Banyu mendiami lembah [[sungai Negara]], sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar [[Banjarmasin]] dan [[Martapura, Banjar|Martapura]]. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan [[bahasa Banjar]], yang terbagi ke dalam dua dialek besar yaitu '''Banjar Hulu''' dan '''Banjar Kuala'''. Nama '''Banjar''' diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun [[1860]]) adalah warga [[Kesultanan Banjarmasin]] atau disingkat '''Banjar''', sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di [[Martapura]]), nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.<ref name="alfani">{{id}} Alfani Daud, Islam & masyarakat Banjar: diskripsi dan analisis kebudayaan Banjar, RajaGrafindo Persada, 1997, ISBN 979-421-599-6, 9789794215999</ref>
! Keterangan
|-
| [[Suku Banjar]]
| style="text-align: right;" | 14.430{{br}} (0,33%)
| style="text-align: right;" | 464.260{{br}} (21,03%)
Dewasa ini Suku Banjar di [[Jawa Tengah]] hanya berkisar 10.000 jiwa. Suku Banjar terutama bermukim di [[Kota Semarang]] dan [[Kota Surakarta]].<ref>Kuntowijoyo, ''Pengantar Ilmu Sejarah'', PT Bentang Pustaka, Hlm. 140, ISBN 979-3062-59-2</ref>
 
Migrasi suku Banjar ke [[kota Semarang]] pada akhir abad ke-19 dan bermukim kampung Banjar (bagian dari eks kelurahan Banjarsari) di sebelah barat Kampung Melayu (eks kelurahan Mlayu Darat yang kini bernama Jalan Layur). Sosial kemasyarakatan di kawasan ini dilatarbelakangi oleh budaya [[Tionghoa-Indonesia|Cina]], [[Arab-Indonesia|Arab]], dan [[suku Banjar|Banjar]]. Keunikan suku Banjar di kawasan ini, mereka mendirikan rumah panggung ([[rumah Banjar|rumah ba-anjung]]) yang sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat, tetapi sayang kebanyakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sayangnya, eks Kelurahan [[Banjarsari (Semarang)]] dan eks kelurahan Mlayu Darat telah dilikuidasi kemudian digabung ke dalam wilayah kelurahan [[Dadapsari, Semarang Utara, Semarang|Dadapsari]].<ref name="Kota Di Djawa Tempo Doeloe">{{Cite book
|url=https://books.google.co.id/books?id=BrQ8DwAAQBAJ&pg=PA130&dq=Banjar+di+Semarang&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj78t3O5ILfAhVEKY8KHSVlDZYQ6AEIPTAE#v=onepage&q=Banjar%20di%20Semarang&f=false
|title=Kota Di Djawa Tempo Doeloe
! [[Kepulauan Riau]]<ref>[[Kepulauan Riau#Suku Bangsa|Kepulauan Riau - Suku Bangsa]]</ref>
|-
| [[Suku Banjar]]
| style="text-align: right;" | 227.239{{br}} (4,10%)
| style="text-align: right;" | 125.707{{br}} (0,97%)
! [[Nusa Tenggara Timur]] <ref>[[Nusa Tenggara Timur#Suku Bangsa|Nusa Tenggara Timur - Suku Bangsa]]</ref>
|-
| [[Suku Banjar]]
| style="text-align: right;" | 349{{br}} (0,01%)
| style="text-align: right;" | 1.083{{br}} (0,02%)
* Pada sistem kekerabatan, baik karena keturunan maupun karena status sosial dan profesi, ada konsep ''bubuhan''. Dalam konsepsi ''bubuhan'' termuat nilai ''bedingsanakan'' (persaudaraan), ''betutulungan'' (tolong menolong) dan ''mau haja bakalah bamanang'' (mau saja kalah menang) maksudnya mau saja memberi dan menerima. ''Bubuhan'' sebagai kesatuan sosial sangat kuat ikatannya dengan ke-gotongroyongan. Orang hidup harus ''betutulongan'' (tolong menolong), jangan hidup ''saurang-saurang'' (sendiri-sendiri).
* Nilai untuk pengembangan diri konsepsi ''gawi manuntung'', yaitu seseorang dalam mengerjakan sesuatu harus dapat menyelesaikannya dengan baik''.'' Serta konsepsi ''dalas balangsar dada'' artinya biarpun harus berselancar dada yang maknanya seseorang harus berjuang dengan sungguh-sungguh.
* Nilai konsepsi ''bisa-bisa maandak awak'' untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Nasehatnasihat ini biasanya diberikan agar dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat
 
== Kebudayaan ==
247.950

suntingan