Buka menu utama

Perubahan

6 bita dihapus ,  10 bulan yang lalu
Pemikir awal dan sering juga disebut sebagai pencetus dari perguruan Madhyamaka adalah [[Nagarjuna]]. Nagarjuna menulis banyak risalah tentang kajian filsafat dalam ajaran Buddha. Salah satunya adalah ''Mula-madhyamaka-karika'' yang merupakan literatur kunci dari bahasan Madhyamaka.<ref name=":13" /> Pokok dari bahasan filsafat ajaran Madhyamaka adalah gagasan dalam ajaran Buddha dimana, setiap individu dan kejadian yang terjadi di dunia ini sejatinya tanpa esensi ''(svabaha'' dan ''sunyata'').<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/57245990|title=The center of the sunlit sky : Madhyamaka in the Kagyü tradition : including a translation of Pawo Rinpoche's commentary on the knowledge section of Śāntideva's The entrance to the Bodhisattva's way of life (Bodhicaryāvatāra)|last=Karl.|first=Brunnhölzl,|date=2004|publisher=Snow Lion Publications|isbn=9781559392181|location=Ithaca, N.Y.|oclc=57245990}} Hlm. 590 "To the contrary, it is precisely the fact of their emptiness—their lack of solid and independent existence—that allows for the unimpeded and dynamic flow of the dependent origination of conditioned phenomena. As Nagarjuna says....."</ref> Nagarjuna menggambarkan pemikirannya sebagai jalan tengah diantara dua kajian ekstrim. Nagarjuna menolak pandangan eternalisme yakni pandangan yang menyatakan bahwasannya suatu realitas yang tidak bergantung waktu ; masa lalu masih ada dan masih berjalan, masa kini sedang berjalan, masa depan telah ada dan telah berjalan.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/fall2016/entriesime/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Markosian|first=Ned|last2=Sullivan|first2=Meghan|last3=Emery|first3=Nina|date=2016|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Fall 2016}}</ref> Nagarjuna juga menolak gagasan [[nihilisme]] berkaitan dengan kekosongan (''sunyata'') mutlak dimana setiap fenomena yang terjadi didunia tidak memiliki inti dan merupakan sesuatu yang semu. Menurut Nagarjuna kesemua entitas dan fenomena yang ada dan terjadi di dunia ini nyata namun bersifat sementara. Pandangan inilah kemudian disebut sebagai jalan tengah.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://books.google.co.id/books/about/Nagarjuna_s_Philosophy.html?id=h-Mslj917EsC&redir_esc=y|title=Nagarjuna's Philosophy: As Presented in the Maha-Prajnaparamita-Sastra|last=Ramanan|first=K. Venkata|date=1987|publisher=Motilal Banarsidass Publ.|isbn=9788120802148|language=en}} Hlm 60.</ref> Sementara pandangan Yogacara menolak gagasan realisme dari Theravada dan kesementaraan fenomena-objek yang ditawarkan Mahayana.<ref name=":14">{{Cite news|url=https://www.britannica.com/topic/Yogachara|title=Yogachara {{!}} Buddhist school|newspaper=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2017-10-22}}</ref> Ajaran Yogacara menekankan pembahasan suatu fenomena-objek di alam semesta harus melalui pikiran(''citta'') dan kesadaran(''vijnana'') manusia.<ref name=":13" /><ref name=":14" /><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/72868510|title=Buddhism as philosophy : an introduction|last=1946-|first=Siderits, Mark,|date=2007|publisher=Ashgate|isbn=9780872208735|location=Aldershot, England|oclc=72868510}} Hlm. 147</ref> Dalam ajaran Yogacara, realitas termasuk didalamnya yaitu, objek dan fenomena yang dapat dirasakan manusia, bukanlah sesuatu yang nyata, karena hal tersebut dihasilkan oleh kesadaran manusia; kesadaran manusia merupakan hal yang nyata dan juga sementara dalam ajaran ini.<ref name=":13" /><ref name=":14" /> Selain kesadaran manusia, hal lain yang dipandang sebagai sesuati yang nyata dalam ajaran Yogacara adalah kekosongan (''sunyata).''<ref name=":14" />
 
====== '''Tibet''' ======
Ajaran Buddha di Tibet merupakan perkembangan lebih lanjut dari ajaran Mahayana; perguruan Madhamaka dan Yogacara. Juga dalam perkembangannya terdapat pengaruh dari keyakinan lokal ''[[Bön]]''.<ref name=":15">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/subdivisions/tibetan_1.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Tibetan Buddhism|access-date=2017-10-22}}</ref> Ajaran Buddha mulai berpengaruh di Tibet pada masa pemerintahan Raja [[Songtsen Gampo|Songtsän Gampo]] sekitar tahun 641 M. Lebih lanjut, ajaran Buddha di Tibet berkembang menjadi empat perguruan yang dikenal secara umum yakni :<ref name=":15" /><ref>{{Cite web|url=http://www.iep.utm.edu/tibetan/|title=Tibetan Philosophy {{!}} Internet Encyclopedia of Philosophy|website=www.iep.utm.edu|language=en-US|access-date=2017-10-22}}</ref>
# ''Nyingma'' : Nyingma merupakakan perguruan Buddha tertua di Tibet. Menurut ajaran Nyingma inti atau esensi dari setiap makhluk adalah kesadaran.<ref name=":15" /><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/828834208|title=Tibetan Buddhism : a very short introduction|last=Matthew.|first=Kapstein,|isbn=9780199735129|location=Oxford|oclc=828834208}} Hlm 29-44</ref><ref>{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/nyingma-school-450169|title=History, Overview of Nyingmapa, the Oldest School of Tibetan Buddhism|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-22}}</ref>