Sejarah Skotlandia: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  1 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Kerajaan Skotlandia bersatu di bawah pimpinan [[wangsa Alpin|wangsa Chinaeda meic Ailpín]]. Anggota-anggota wangsa ini berulang kali saling bertikai memperebutkan takhta. Raja terakhir dari wangsa Chinaeda meic Ailpín, [[Máel Coluim II]], wafat pada awal abad ke-11 tanpa meninggalkan keturunan, sehingga takhta Kerajaan Skotlandia diwarisi oleh [[wangsa Dùn Chailleann]], yakni oleh putra dari anak perempuan Raja Máel Coluim II dan suaminya yang berasal dari wangsa Dùn Chailleann. Raja terakhir dari wangsa Dùn Chailleann, [[Alaxandair III]], wafat pada tahun 1286. Satu-satunya ahli waris yang ditinggalkannya adalah [[Margrete dari Norwegia|Putri Margrete]], yang masih bayi dan wafat empat tahun kemudian, sehingga takhta Kerajaan Skotlandia terus-menerus diperebutkan oleh [[wangsa de Bailleul]] dan [[wangsa Brùs]]. Kerajaan Inggris di bawah pimpinan [[Edward I dari Inggris|Raja Edward I]] memanfaatkan situasi yang tidak menentu ini untuk melancarkan serangkaian aksi penaklukan, yang menimbulkan [[Perang Kemerdekaan Skotlandia]]. Kemenangan mutlak melawan Inggris membuat Skotlandia menjadi kerajaan yang sepenuhnya merdeka dan berdaulat.
 
Ketika [[David II dari Skotlandia|Raja Daibhidh II]] wafat tanpa meninggalkan keturunan, kemenakannya, [[Robert II dari Skotlandia|Raibeart]], mendirikan [[Wangsa Stuart|wangsa Stewart]] (wangsa Stuart), yang memerintah Skotlandia tanpa diganggu gugat selama tiga abad berikutnya. [[James I dari Inggris|James VI]], Raja Skotlandia dari wangsa Stewart, juga mewarisi takhta Kerajaan Inggris pada tahun 1603, sehingga raja maupun ratu dari wangsa Steward memerintah selaku kepala negara atas dua kerajaan yang sama-sama merdeka sampai akhirnya kedua kerajaan ini digabung menjadi satu negara baru yang bernama [[Kerajaan Britania Raya]] dengan [[Undang-Undang Penyatuan 1707|Undang-Undang Persatuan]] tahun 1707.<ref>{{cite web | url = http://www.nationalarchives.gov.uk/pathways/citizenship/rise_parliament/uniting.htm | title = Uniting the kingdom? | publisher = National Archives | accessdate = 2 Juli 2011}}</ref><ref>{{cite web | url = http://www.educationscotland.gov.uk/scotlandshistory/unioncrownsparliaments/unionofparliaments/index.asp | title = Union of Crowns to Union of Parliaments: The Union of the Parliaments 1707 | publisher = [[Education Scotland]] | accessdate = 23 November 2016 | archive-url = https://web.archive.org/web/20161121202825/http://www.educationscotland.gov.uk/scotlandshistory/unioncrownsparliaments/unionofparliaments/index.asp | archive-date = 21 November 2016 | dead-url = yes | df = dmy-all }}</ref><ref>[[s:Act of Union 1707|Undang-Undang Persatuan dengan Inggris Tahun 1707]], Pasal II.</ref> [[Anne dari Britania Raya|Ratu Anne]], yang memerintah sampai tahun 1714, adalah kepala monarki terakhir dari wangsa Stewart. Sejak tahun 1714, suksesi [[kepala monarki Britania]] dari [[wangsa Hanover]] dan [[Wangsa Saxe-Coburg dan Gotha|wangsa Saxe-Coburg Gotha]] (wangsa Windsor) didasarkan pada hubungan garis nasab mereka dengan Raja [[James Charles Stuart]] dari wangsa Stewart (wangsa Stuart).
 
Pada [[Pencerahan Skotlandia|Abad Pencerahan Skotlandia]] dan Zaman [[Revolusi Industri]], Skotlandia menjadi salah satu negara adidaya di Eropa dalam bidang niaga, ilmiah, dan industri, namun [[deindustrialisasi|perindustrian Skotlandia merosot]] parah seusai Perang Dunia II. Pada beberapa dasawarsa terakhir ini, Skotlandia mengalami semacam kebangkitan di bidang kebudayaan dan ekonomi. Salah satu penggerak kebangkitan ini adalah kembali bergairahnya sektor [[jasa keuangan]] dan terlaksananya kegiatan penambangan [[Minyak Laut Utara|minyak dan gas di Laut Utara]]. Sejak era 1950-an, semangat kebangsaan menjadi salah satu pokok bahasa politik yang hangat, yang menimbulkan perdebatan perihal [[kemerdekaan Skotlandia]], dan referendum pada tahun 2014 untuk melepaskan diri dari persatuan dengan Inggris.
22.761

suntingan