Pemilihan umum Presiden Indonesia 2019: Perbedaan revisi

 
Di sisi lain, kepolisian Daerah Riau membantah bahwa perlakuan massa yang menghadang Neno Warisman di gerbang Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru adalah tindakan persekusi. Alasan pemulangan Neno Warisman sendiri lebih dikarenakan alasan keamanan, mengingat kubu pro dan kontra sudah berkumpul dan situasi tengah panas.<ref>{{Cite web|url=https://regional.kompas.com/read/2018/08/26/16555431/polda-riau-bantah-tindakan-persekusi-terhadap-neno-warisman|title=Polda Riau Bantah Tindakan Persekusi terhadap Neno Warisman|last=Media|first=Kompas Cyber|date=2018-08-26|website=KOMPAS.com|language=id|access-date=2018-12-27}}</ref>
 
<br />
=== Hoax Ratna Sarumpaet ===
[[Ratna Sarumpaet]] adalah salah satu anggota Tim Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang tersandung kasus [[Hoax]] pada tahun 2018. Pemberitaan penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh sekelompok orang tak dikenal pertama kali muncul pada 2 Oktober 2018. Berita penganiyaan itu disertai dengan tangkapan layar aplikasi Whatsapp dan foto Ratna Sarumpaet dalam kondisi wajah yang tidak wajar. Konten tersebut kemudian menjadi viral dan diunggah kembali serta dibenarkan beberapa tokoh politik tanpa melakukan verifikasi akan kebenaran berita tersebut. Setelah ramai diperbincangkan, konten hoaks ditanggapi kepolisian yang melakukan penyelidikan setelah mendapatkan tiga laporan mengenai dugaan hoaks pada pemberitaan tersebut.
=== Isu ketaatan beragama ===
[[Berkas:Prabowo Memegang Lilin.jpeg|jmpl|Foto Prabowo memegang lilin yang ramai beredar di media sosial dan menimbulkan isu bahwa ia merayakan Natal.]]
 
==== Imam shalat ====
Ketaatan beragama masing-masing calon menjadi salah satu sorotan dalam Pemilihan Presiden 2019.<ref name="cnntaat">https://m.cnnindonesia.com/nasional/20181221065909-32-355395/adu-pamer-keislaman-jokowi-dan-prabowo-di-pilpres-2019</ref> Isu dilontarkan oleh anggota Tim Pemenangan Nasional Joko Widodo, La Nyalla Matalitti, yang menuding Prabowo tidak memiliki pemahaman Islam yang baik. Ia menyebut Prabowo tidak memiliki keberanian untuk memimpin salat.<ref name="cnntaat"/> Prabowo merespons dengan mengatakan dirinya lebih mengutamakan ulama atau pemuka agama untuk menjadi imam salat.<ref name="cnntaat"/>
 
Isu ketaatan beragama juga diangkat oleh [[Usamah Hisyam]], Ketua Umum Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi). Ia menyampaikan bahwa Calon Presiden Prabowo Subianto membahas isu keraguan akan ketaatan beragamanya di depan 28 ulama PA 212. Momen kontroversial terjadi ketika Prabowo memukul meja 5 kali yang menurut Usamah membuat situasi menjadi tegang.<ref name="cnnusamah"/> Usamah menduga peristiwa tersebut terjadi karena ada ulama yang mempersoalkan keislamannya itu. Usamah mengakui bahwa ia merupakan salah satu pihak yang menyampaikan keraguan tersebut.<ref name="cnnusamah">https://m.cnnindonesia.com/nasional/20181220105935-32-355168/amarah-dan-5-kali-tinju-prabowo-di-hadapan-28-ulama-pa-212</ref>
 
==== Perayaan Natal ====
Isu ini kembali muncul menjelang Natal 2019 dengan beredarnya foto Prabowo sedang memegang lilin dan merayakan Natal di media sosial. Partai Gerindra menepis isu tersebut dan menyatakan bahwa acara tersebut adalah perayaan Natal yang diselenggarakan Gerindra di Hotel Kartika Chandra pada tahun 2013. Prabowo saat itu hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Gerindra.<ref name=":0">{{Cite web|url=https://news.detik.com/read/2018/12/26/114235/4358983/10/gerindra-tepis-isu-prabowo-merayakan-natal-dan-foto-pegang-lilin|title=Gerindra Tepis Isu Prabowo Merayakan Natal dan Foto Pegang Lilin|last=Erwanti|first=Marlinda Oktavia|website=detiknews|access-date=2018-12-27}}</ref> Gerindra menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Prabowo saat itu bukan bagian dari bentuk peribadatan dan merupakan hal yang wajar dilakukan sebagai pemimpin sebuah institusi.<ref name=":0" />
 
==== Kemampuan Baca Al-Quran ====
Undangan untuk tes membaca Al-Qur'an pertama kali disampaikan oleh Ikatan Da'i Aceh dengan tujuan meredam politik identitas. Melalui konferensi pers, Ikatan Da'i Aceh menyatakan bahwa politik identitas sedang dimainkan sehingga terkesan seorang capres lebih Islami sementara yang lain tidak. Ikatan Da'i Aceh berharap agar identitas Islam tidak dipergunakan untuk kepentingan politik.<ref>{{Cite web|url=http://aceh.tribunnews.com/2018/12/30/dai-aceh-undang-capres-baca-quran|title=Dai Aceh Undang Capres Baca Quran|date=2018-12-30|website=Serambi Indonesia|language=id-ID|access-date=2018-12-30}}</ref>
 
Menanggapi undangan ini, Tim Pemenangan Nasional (TPN) Joko Widodo dan Ma'ruf Amin menyatakan kesiapannya. Ma'ruf Amin menyatakan bahwa ia memang biasa membaca Al-Qur'an sehingga siap dites. Ia pun yakin Jokowi akan menyatakan kesiapan yang sama.<ref name=":2">{{Cite web|url=https://news.detik.com/read/2018/12/30/185921/4364768/10/beda-respons-tkn-jokowi-vs-bpn-prabowo-soal-tes-baca-alquran|title=Beda Respons TKN Jokowi Vs BPN Prabowo Soal Tes Baca Alquran|last=detikcom|first=Tim|website=detiknews|access-date=2018-12-30}}</ref>
 
Di sisi lain, meski menyatakan siap, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menolak undangan untuk hadir dan mengatakan bahwa tes membaca Al-Qur'an tidak substansial dalam menentukan kualitas calon presiden. Bagi mereka, yang lebih penting adalah pemahaman terhadap isinya.<ref name=":2" />
 
=== Kriminalisasi ulama dalam kasus Bahar bin Smith ===
Isu kriminalisasi ulama dilayangkan oleh tim pemenangan Prabowo terhadap Jokowi. Salah satunya terjadi saat [[Bahar bin Smith]] ditahan pihak kepolisian atas dugaan penganiyaan terhadap anak.<ref>{{cite web|url=https://news.detik.com/berita/d-4349977/habib-bahar-ditahan-fadli-zon-bukti-kriminalisasi-ulama |title=Habib Bahar Ditahan, Fadli Zon: Bukti Kriminalisasi Ulama|date=19 Desember 2018|author=Jabbar Ramdhani|publisher=Trans Media|website=Detik.com}}</ref> Dalam kasus tersebut, Bahar diduga menganiaya seorang anak berusia 17 tahun dan satu orang lainnya yang berusia 18 tahun. Penganiayaan tersebut direkam yang kemudian dijadikan barang bukti oleh kepolisian.
 
Menanggapi kasus tersebut, Fadli Zon dari Partai Gerindra menyebut bahwa penahanan ini adalah bukti bahwa pemerintahan presiden petahana melakukan kriminalisasi terhadap ulama.<ref>{{cite web|url=https://news.detik.com/berita/d-4349977/habib-bahar-ditahan-fadli-zon-bukti-kriminalisasi-ulama |title=Habib Bahar Ditahan, Fadli Zon: Bukti Kriminalisasi Ulama|date=19 Desember 2018|author=Jabbar Ramdhani|publisher=Trans Media|website=Detik.com}}</ref> Ia juga menyebut bahwa dalam kasus ini Bahar mengalami diskriminasi hukum. Menurutnya, hukum telah dijadikan alat kekuasaan dan alat menakuti oposisi serta suara kritis. Ia menggambarkan tindak diskriminasi terjadi karena saat kasus dugaan penghinaan calon presiden Prabowo Subianto oleh Bupati Boyolali, polisi dianggap lamban bergerak.<ref name="tribunkriminal"/>
 
Ia menggambarkan tindak diskriminasi terjadi karena saat kasus dugaan penghinaan calon presiden Prabowo Subianto oleh Bupati Boyolali, polisi dianggap lamban bergerak.<ref name="tribunkriminal" /> Fadli menambahkan bahwa ia meragukan orang yang berada dalam video tersebut adalah Bahar bin Smith dan meminta keasliannya untuk dibuktikan di pengadilan.<ref name="tribunkriminal">http://m.tribunnews.com/section/2018/12/21/3-pernyataan-fadli-zon-soal-penahanan-habib-bahar-kriminalisasi-ulama-hingga-diskriminasi-hukum</ref>
 
Menanggapi isu kriminalisasi ulama dalam kasus Bahar, Calon Wakil Presiden kubu Joko Widodo, Ma'ruf Amin menyangkalnya. Ma'ruf menyampaikan bahwa penangkapan Bahar bukan proses kriminalisasi, melainkan proses penegakkan hukum. Ma'ruf menambahkan bahwa proses penegakkan hukum harus ditegakkan siapapun yang diduga melakukan penyimpangan hukum.<ref name="tribunhukum">http://m.tribunnews.com/nasional/2018/12/19/maruf-amin-sebut-penahanan-bahar-smith-bukan-kriminalisasi-ulama</ref>
15.845

suntingan