Akidah Islam: Perbedaan revisi

2.274 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
→‎Pembagian akidah tauhid: Mengganti sesuai aktual
(→‎Pembagian akidah tauhid: Mengganti sesuai aktual)
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler menghilangkan referensi
 
== Pembagian akidah tauhid ==
Meski perselisihan Aqidah banyak terjadi hingga awal abad 5 H namun Aqidah Islam dapat terselamtakan oleh hujjah para Ulama yang mumpuni.
Walaupun masalah [[qadha']] dan [[qadar]] menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:
Salah satunya adalah Imam Abu hasan Al Asy'ari, Imam Abu Mansur Al Maturidy kemudian diteruskan oleh murid-muridnya hingga saat ini.
* '''''Tauhid Al-Uluhiyyah''''', (al-Fatihah ayat 4 dan an-Nas ayat 3) <br />mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.
Dengan menetapkan Sifat 20. Sumber: Ahlussunnah Wal Jamaah.</ref>
* '''''Tauhid Ar-Rububiyyah''''', (al-Fatihah ayat 2, dan an-Nas ayat 1) <br />mengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.
* '''''Tauhid Al-Asma' was-Sifat''''', <br />mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.
 
[[Iman]] kepada '''qadar''' adalah termasuk tauhid ''ar-rububiyah''. Oleh karena itu, [[Imam Ahmad]] berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, [[qadar]] (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada [[Lauh Mahfuzh]] dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk [[makhluk]] lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.<ref>Disalin dari kitab ''Al-Qadha wal Qadar'', edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A. Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi'ul Awwal 1420H/Juni 1999M</ref>
 
Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah ''Tauhid Mulkiyah'' ataupun ''Tauhid Hakimiyah'' karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.<ref>Disalin dari kitab ''Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah'' Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M.</ref>
 
== Catatan kaki ==
1

suntingan