Halte Kalimenur: Perbedaan revisi

377 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Stasiun yang terletak pada ketinggian +35 meter ini kini kondisinya lusuh, kesepian, dan banyak vandalisme karena sejak tahun {{Start date and age|1974}}, stasiun ini tak lagi beroperasi. Stasiun Kalimenur berhenti beroperasi pada [[1974]] dan dianggap tak layak lagi meski hanya untuk pemberhentian kereta berkecepatan tinggi karena posisinya yang tidak strategis, okupansi yang minim, dan berada di tikungan besar Kalimenur.
 
Stasiun ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan jalur rel [[Surabaya]]-[[Cilacap]], sekitar [[1876]]-[[1888]]. Hingga masa revolusi, Stasiun Kalimenur menjadi salah satu stasiun yang riuh dengan penumpang menunggu kereta uap yang sering disebut sebagai ''sepur bumel'' atau ''sepur grenjeng''. Yang unik, stasiun ini dulu juga disebut sebagai ''Stasiun Tahu'', karena mayoritas penumpangnya adalah penjual [[tahu]] dari [[Tuksono, Sentolo, Kulon Progo|Desa Tuksono]] yang hendak berjualan ke [[Yogyakarta]] atau [[Kutoarjo]].<ref name=":0">{{Cite web|url=https://travel.kompas.com/read/2009/11/14/06051488/mari.menelusuri.kejayaan.kereta.masa.silam|title=Mari Menelusuri Kejayaan Kereta Masa Silam|last=Media|first=Kompas Cyber|date=2009-11-14|website=KOMPAS.com|language=id|access-date=2018-12-09}}</ref>
 
Pada masa revolusi sekitar [[1948]], sejumlah stasiun di jalur ini pernah dibom oleh Belanda, hingga hampir hancur. Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kemudian membangun kembali, dan meresmikan Stasiun Kalimenur menjadi stoplat (stasiun mini) pada tahun 1954.
 
Arsitektur stasiun ini masih asli dan merupakan peninggalan [[Staatsspoorwegen]]. Bahkan bangunan utama dan ruang kepala stasiunnya pun masih dapat diselamatkan.<ref name=":0" />
 
Saat ini, Stasiun Kalimenur dijadikan sebagai tempat beristirahat oleh warga dan [[railfans|''railfans'']] yang hendak menyaksikan atau memotret kereta api yang sedang menikung di tikungan Kalimenur.