Muhammad Daud Syah dari Aceh: Perbedaan revisi

k
Bot: Perubahan kosmetika
k (→‎Lihat pula: add defaultsort)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Sultan Muhammad Daud sendiri memimpin perang gerilya dari Kutaraja, sekarang Banda Aceh, pada tahun 1907. Walaupun usaha ini gagal dan ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ambon kemudian Batavia, perlawanannya ini kemudian menginspirasi pejuang gerilya. Belanda mendapatkan perlawanan kuat di Pidie, Aceh Tengah, Aceh Barat dan Aceh Tenggara. Belanda berhasil mengambil kendali sebagian besar Aceh pada tahun 1912. Tetapi sejumlah sejarawan lainnya menyatakan bahwa perang Aceh tidak benar-benar berhenti sampai Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942.<ref name="history"/>
 
The surrender of Sultan Muhammad Daud Syah marked the fall of Aceh Darussalam. It also marked the end of the sultanate system in Aceh, which was abolished by the Dutch, making Muhammad Daud Syah the last sultan of Aceh. The Dutch appointed a governor to rule Aceh and installed district chiefs, locally known as uleebalang. The recruitment of uleebalang by the Dutch East Indies deepened the division and conflict with the ulema, who considered the Dutch administration kaphee, the unbeliever according to Islamic teaching. <ref name="history"/> -->
 
== Sumber ==
633.362

suntingan