Buka menu utama

Perubahan

114 bita dihapus, 8 bulan yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
== Etimologis ==
Ngaju berarti udik.<ref><span style="font-size:11.0pt;line-height:
115%;font-family:&quot;"Calibri&quot;",&quot;"sans-serif&quot;";mso-fareast-font-family:&quot;"Times New Roman&quot;";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language:
IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. [[Manaser Panatau Tatu Hiang]].</span></ref> Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.
* [[Suku Dayak Beraki (Bara-ki)]] (sudah punah)<ref>{{id icon}} {{cite book|url=http://books.google.co.id/books?id=sU4OAQAAMAAJ&q=DAYAK+BERAKI&dq=DAYAK+BERAKI&hl=id&ei=kiy5TZm1BsmrrAeAuuncBA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CDoQ6AEwAA|title=Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia|volume= 1|publisher=Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI|year= 1995|first=M. J.|last=Melalatoa}}</ref>
 
== Asal Mula<ref><span class="reference-text"><span style="font-size:11.0pt;line-height: 115%;font-family:&quot;"Calibri&quot;",&quot;"sans-serif&quot;";mso-fareast-font-family:&quot;"Times New Roman&quot;"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language: IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. Manaser Panatau Tatu Hiang.</span></span></ref> ==
Tentang leluhur asal usul Dayak Ngaju dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan sejarah tentang orang Dayak Ngaju. Dalam sejarahnya leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan, tepatnya di Cina Barat Laut berbatasan dengan Vietnam sekarang. Mereka bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia (Provinsi Yunan, Cina Selatan) sekitar 3000-1500 SM.
 
# '''[[Puruk Kambang]]''' [[Tanah Siang, Murung Raya|Tanah Siang]] (perhuluan [[Sungai Barito]], [[Kalimantan Tengah]] oleh '''Ranying''' (Tuhan YME) terciptalah seorang puteri bernama '''Sikan''' atau '''Nyai Sikan''' di Tantan Puruk Kambang Tanah Siang Hulu Barito.
 
== Kepercayaan & Kebudayaan<ref><span class="reference-text"><span style="font-size:11.0pt;line-height: 115%;font-family:&quot;"Calibri&quot;",&quot;"sans-serif&quot;";mso-fareast-font-family:&quot;"Times New Roman&quot;"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language: IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. Manaser Panatau Tatu </span></span>Hiang.</ref> ==
'''Kaharingan''' adalah [[kepercayaan]] tradisional [[suku Dayak]] di [[Kalimantan Tengah]], ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.<ref name="Politik dan postkolonialitas di Indonesia">{{en}}{{cite book|title=''[http://books.google.co.id/books?id=hl-5ZE620VIC&lpg=PA264&dq=kayu%20tangi&pg=PA262#v=onepage&q=kayu%20tangi&f=false Politik dan postkolonialitas di Indonesia]''|last=Susanto|first=A. Budi|publisher=Kanisius|year=2003|isbn=9789792108507|coauthors=}}ISBN 979-21-0850-5</ref> <ref>[http://books.google.co.id/books?id=kFqf1tqosvAC&lpg=PR37&dq=kaharingan&pg=PR37#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fr. Wahono Nitiprawiro, Moh. Sholeh Isre, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), Teologi pembebasan: sejarah, metode, praksis, dan isinya, PT LKiS Pelangi Aksara, 2000 ISBN 979-8966-85-6, 9789798966859]</ref> Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan'' (air kehidupan),<ref>[http://books.google.co.id/books?id=rTiifZ-SlaEC&lpg=PA139&dq=kaharingan&pg=PA139#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fridolin Ukur, Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835, BPK Gunung Mulia, 2000 ISBN 979-9290-58-9, 9789799290588]</ref> maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] (Hindu Tollotang) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]] sejak 20 April 1980,<ref>[http://books.google.co.id/books?id=QyXg_GDYCdMC&lpg=PA244&dq=kaharingan&pg=PA244#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} A. Budi Susanto, Masihkah Indonesia, Kanisius, 2007 ISBN 979-21-1657-5, 9789792116571]</ref>, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut ''Ranying''.
 
Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.
 
== Susunan Dan Tingkatan Masyarakat<ref>{{id}} [http://humabetang.web.id/dayak/sejarah/2013/susunan-dan-tingkatan-masyarakat-dayak-pada-masa-lampau Susunan dan Tingkatan Masyarakat Dayak Ngaju pada masa lampau]</ref><ref><span class="reference-text"><span style="font-size:11.0pt;line-height: 115%;font-family:&quot;"Calibri&quot;",&quot;"sans-serif&quot;";mso-fareast-font-family:&quot;"Times New Roman&quot;"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language: IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. [[Manaser Panatau Tatu Hiang]] </span></span></ref> ==
Pada masa lampau masyarakat Dayak Ngaju memiliki susunan dan tingkatan strata sosial dalam masyarakatnya yaitu:
* [[Kepala Kampung]], yang dimasa kolonial tugasnya hanya melaksanakan perintah pegawai kolonial, dengan tugas utama menarik pajak dan mendayung perahu bagi para pegawai kolonial, apabila mengunjungi kampung lain, mengakibatkan terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Ada kaum bangsawan dan ada orang-orang pantan.
456.406

suntingan