Buka menu utama

Perubahan

816 bita ditambahkan, 11 tahun yang lalu
k
Suntingan Cemara (Pembicaraan) dikembalikan ke versi terakhir oleh Borgx
'''Kaharingan/Hindu Kaharingan''' adalah [[religi suku]] atau [[kepercayaan]] [[tradisional]] suku [[Dayak]] di [[Kalimantan]]. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan belum'' (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang [[hidup]] dan [[tumbuh]] secara turun temurun dalam masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan [[penduduk]] dan [[warganegara]] untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh [[pemerintah]] [[Republik Indonesia]]. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] ([[Hindu Tollotang]]) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]], mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut ''Ranying''. Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam [[Kartu Tanda Penduduk]], dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara.
'''Kaharingan''' Kaharingan berasal dari kata "haring" yang artinya ada dengan sendirinya, tidak ada yang memulai atau yang membuat (''self existence'')Kaharingan adalah agama atau sistem religi yang hidup dan menghidupi masyarakat Dayak, khususnya Kalimantan Tengah sebagai sumber dari sistem sosial dan budaya nya. Nama Kaharingan muncul dalam kongres SKDI (Serikat Kaharingan Dayak Indonesia) tahun 1950 sebagai nama dari sistem religi masyarakat Dayak yang sebelumnya tidak memiliki nama, namun eksis, hidup dan menghidupi masyarakatnya.
Eksistensi Kaharingan semakin di hilangkan oleh penyebaran agama agama baru, penjajahan, ekspansi budaya dari luar, dan pemerintah. Upaya ini dilakukan dengan cara memposisikan Kaharingan sebagai animisme, penyembah berhala dan sebutan hina lain. Akibatnya, budaya dan sistem sosial masyarakat Dayak menjadi kehilangan karakter dan identitas.
 
Tetapi di [[Malaysia]] [[Timur]] ([[Sarawak]], [[Sabah]]), nampaknya kepercayaan ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama [[Hindu]], jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah [[Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan]] (MBAHK) pusatnya di [[Palangkaraya]], [[Kalimantan Tengah]].
{{indo-stub}}
 
[[Kategori:Dayak]]
112.688

suntingan