Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran ,  10 bulan yang lalu
Pengenduran [[sensor]] di bawah ''glasnost'' mengakibatkan Partai Komunis kehilangan genggamannya yang mutlak terhadap [[media]]. Tak lama kemudian, dan yang akibatnya mempermalukan pemerintah, media mulai menyingkapkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang parah yang telah lama disangkal dan ditutup-tutupi oleh pemerintah Soviet. Masalah-masalah seperti perumahan yang buruk, [[alkoholisme]], [[penyalahgunaan obat-obatan]], [[polusi]], pabrik-pabrik yang sudah ketinggalan zaman dari masa [[Stalin]], dan korupsi kecil-kecilan hingga yang besar-besaran, yang kesemuaya selama ini telah diabaikan oleh media resmi, mendapatkan perhatian yang semakin besar. Laporan-laporan media juga menyingkapkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh [[Stalin]] dan rezim Soviet, seperti misalnya [[Gulag]] dan [[Pembersihan Besar]] yang diabaikan oleh media resmi. Lebih dari itu, [[invasi Soviet atas Afganistan|perang di Afganistan]] yang berkelanjutan dan kekeliruan di dalam penanganan [[kecelakaan Chernobyl]] [[1986]] lebih jauh merusakkan kredibilitas pemerintahan Soviet pada masa ketika ketidakpuasan kian meningkat.
 
Secara keseluruhan, pandangan yang sangat positif mengenai kehidupan Soviet yang telah lama disajikan kepada publik oleh media resmi, dengan cepat menjadi rontok, dan aspek-aspek kehidupanu negatif ditampilkan ke permukaan. Hal ini menggerogoti keyakinan publik terhadap sistem Soviet dan merontokkan basis kekuasaan socialsosial Partai Komunis, mengancam identitas dan integritas Uni Soviet sendiri.
 
Pertikaian di antara negara-negara anggota [[Pakta Warsawa]] dan ketidakstabilan dari sekutu-sekutu baratnya, yang pertama-tama diperlihatkan oleh bangkitnya [[Lech Wałęsa]] pada [[1980]] ke tampuk pimpinan [[serikat buruh]] [[Solidaritas]] berlangsung cepat, sehingga membuat Uni Soviet tidak mampu mengandalkan negara-negara satelitnya untuk melindungi perbatasannya, sebagai negara-negara peredam. Pada 1989, Moskwa sudah meninggalkan [[Doktrin Brezhnev]] dan lebih memilih kebijakan non-intervensi dalam urusan-urusan dalam negeri sekutu-sekutu Eropa Timurnya, yang dengan fatal membuat rezim-rezim Eropa Timur kehilangan jaminan bantuan dan intervensi Soviet apabila mereka menghadapi pemerontakan rakyatnya. Perlahan-lahan, masing-masing negara Pakta Warsawa menyaksikan pemerintahan Komunis mereka kalah dalam pemilihan-pemilihan umum, dan dalam kasus [[Rumania]], munculnya suatu pemberontakan dengan kekerasan. Pada 1991, pemerintahan-pemerintahan komunis [[Bulgaria]], [[Cekoslowakia]], [[Jerman Timur]], [[Hongaria]], [[Polandia]] dan Rumania yang dipaksakan setelah [[Perang Dunia II]] runtuh sementara revolusi melanda [[Eropa Timur]].