Aboebakar Atjeh: Perbedaan revisi

1.375 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: penggantian teks otomatis (-mesjid, +masjid))
{{refimprove}}{{Infobox Tokoh|name=Aboebakar Atjeh|image=Aboebakar Atjeh.jpg|birth_name=Aboebakar|birth_date={{birth date|1909|4|28|df=yes}}|birth_place={{flagicon image|Flag of the Aceh Sultanate.png}} [[Kutaradja]], [[Aceh Darussalam]]|death_date={{death date and age|1979|12|17|1909|4|28|df=yes}}|nationality={{negara|Indonesia}} [[Indonesia]]|death_place={{negara|Indonesia}} [[Jakarta]], [[Indonesia]]|mother=Haji Na'in|father=Sjah Abdurrahman|spouse=Soewami<br>
{{refimprove}}
Soekarti|children=Umarah Sri Angsani<br>
Prof. Dr. KH. '''Aboebakar Atjeh''' (atau '''Abubakar Aceh''' atau '''Abu Bakar Aceh''' atau '''Hadji Aboebakar''') adalah cendekiawan terkenal dari [[Aceh]] sekaligus penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Lahir dengan nama Aboebakar pada [[18 April]] [[1909]] di Peureumeu, Kabupaten [[Aceh Barat]], dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman, imam Masjid Raya Kutaradja (sekarang lebih sering disebut sebagai [[Masjid Raya Baiturrahman]]). Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Aboebakar Atjeh meninggal pada [[18 Desember]] [[1979]] di [[Jakarta]], dan dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta.
# Hj. Inayah Sri Soewami<br>
# Muhammad Furqan<br> (meninggal 2006)
Maisarah<br>
# Rahmah Sri Wardani<br> (meninggal)
Farhan<br>|resting_place=[[TPU Karet Bivak]], [[Jakarta]]|honours=Doktor Honoris Causa dari [[Universitas Islam Jakarta]]|party=[[Partai Masyumi]]<br>
[[Partai Golongan Karya]]}}
 
Prof. Dr. KH. '''Aboebakar Atjeh''' (atau '''Abubakar Aceh''' atau '''Abu Bakar Aceh''' atau '''Hadji Aboebakar''') adalah cendekiawan terkenal dari [[Aceh]] sekaligus penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan.
 
Prof.Lahir Dr.dengan KH.nama '''Aboebakar Atjeh'''pada (atau[[18 '''AbubakarApril]] Aceh'''[[1909]]. atauSebagian '''Abuversi Bakarmengungkapkan Aceh'''beliau ataulahir '''Hadji Aboebakar''') adalah cendekiawan terkenal daridi [[AcehKutaradja]] sekaligus penulis buku-buku keagamaan, filsafatsedangkan danversi kebudayaan.lain Lahir dengan nama Aboebakar pada [[18 April]] [[1909]]mengungkapkan di Peureumeu, Kabupaten [[Aceh Barat]],. dariOrangtuanya merupakan pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Hajibernama SyekhSjah Abdurahman, imam Masjid Raya Kutaradja (sekarang lebih sering disebut sebagai [[Masjid Raya Baiturrahman]]). IbunyaSedangkan ibunya bernama Teungku Hajjah NaimNa'in. Aboebakar Atjeh meninggal pada [[18 Desember]] [[1979]] di [[Jakarta]], dan dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta.
 
Tambahan “Atjeh” di belakang namanya merupakan pemberian [[Presiden Soekarno]] yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya.
 
Nama Aboebakar Atjeh masuk dalam buku ''Seratus Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia'' yang ditulis oleh [[Shalahuddin Hamid]] dan [[Iskandar Ahza]].
 
== Pendidikan dan Pengalaman ==
Sejak kecil belajar di beberapa dayah terkenal di Aceh., Di antaranya didiantaranya dayah Teungku Haji Abdussalam Meuraxa, dan pada dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di Peulanggahan di Kutaraja (Banda Aceh). Juga belajar di Volkschool di Meulaboh, dan di Kweekschool Islamiyah diIslamijah Sumatera Barat. Kemudian pindah ke Yogyakarta, dan Jakarta. Menguasai sejumlah bahasa asing, seperti Jepang, Belanda, Inggris, Arab, dan sebagian Perancis dan Jerman.
 
Pada masa-masa mudanya aktif di sejumlah ormas dan partai. Pada 1923 aktif di [[Sarekat Islam]] di Aceh Barat,. Lalu pada 1924 di [[Muhammadiyah]], dan di [[Partai Masyumi]] sejak 1946. Pada masa kepemimpinan Menteri Agama[[Wahid Hasjim|KH. Wahid Hasyim]], Abu Bakar Aceh bekerja di Departemen Agama, membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji.
 
Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadlutawadhu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NUMasyumi.
Selanjutnya, dipercaya oleh Kiai Wahid memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kacakapannya dalam tulis-menulis, ia dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama.
 
== Kedekatan dengan KH. Wahid Hasyim dan Kalangan Pesantren ==
Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadlu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NU.
Pada masa kepemimpinan Menteri Agama [[Wahid Hasjim|KH. Wahid Hasyim]], Aboebakar Atjeh bekerja di Departemen Agama untuk membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji. Selanjutnya, dipercaya oleh KiaiKH. Wahid Hasyim memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kacakapannya dalam tulis-menulis, ia juga dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama.
 
Setelah KiaiKH. Wahid Hasyim wafat pada 18 April 1953, AbuAboebakar Bakar AcehAtjeh langsung mengambil inisiatif untuk menulis biografi dan pemikiran KiaiKH. Wahid, Hasyim sebagai wujud penghormatan kepada tokoh NU itutersebut. Empat tahun kemudian, buku itu terbit di Jakarta (kini sudah dicetak ulang pada 2011 oleh Panitia 1 Abad KH Wahid Hasyim).
 
Pengalamannya dalam menulis buku tentang KiaiKH. Wahid iniHasyim tersebut dimulai pada waktu Menteri Agama KH Masjkur, pengganti Kiai Wahid, menggelar acara peringatan setahun wafatnya KiaiKH. Wahid Hasyim dengan menyerahkan lukisan tentang KiaiKH. Wahid Hasyim kepada Nyonya Solehah, sang isteriistri danKH. Wahid Hasyim yang juga ibuibunda dari [[Abdurrahman Wahid]]. Kemudian dibentuklah panitia peringatan, yang salah satunya berbentuk penerbitan biografi diaKH. Wahid Hasyim. Dan AbuAboebakar Bakar,Atjeh selaku Kepala bagianBagian Penerbitan Kementerian Agama, ditunjuk sebagai penulis.
 
AbuAboebakar BakarAtjeh dikenal tekun menggarap penulisan biografi tersebut. Ia bekerja siang dan malam, menghubungi para keluarag KiaiKH. Wahid, Hasyim hingga mengumpulkan foto-foto danserta tulisan-tulisan yang pernah dimuat media. Salah seorang yang dihubungi untuk memperkaya bahan-bahan tersebut Kiaiadalah [[KH. Abdul Karim Hasyim]] (dikenal Akarhanaf), adik KiaiKH. Wahid Hasyim.
 
Setelah setahun mengumpulkan semuanya, ia mulai menulis, hingga menjadi buku seperti sekarang. Buku ini menunjukkan keluasan dan kedalaman pengetahuan Abu BakarAboebakar tentang pesantren dan dunia ulama.
 
Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan reformis-modernis selama di Yogyakarta, tidak menghalanginya juga untuk membangun suasana harmonis dengan komunitas pesantren. Dalam sejumlah tulisannya, Abu BakarAboebakar menunjukkan kekagumannya dan bahkan menimba banyak dari tradisi keilmuan pesantren.
 
Dalam satu tulisannya, “Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia”, untuk satu bab buku terjemahan Stoddard, Dunia Baru Islam (1966), ia menunjukkan kontribusi masing-masing, yang reformis-modernis-tradisi maupun Kaum Tua-Kaum Muda, bagi kemerdekaan Indonesia. Semua tulisan diarahkan pada pendekatan rekonsiliasi, titik temu dan pencarian sintesis-sintesis baru bagi kemajuan dan pengumpulan kekuatan bangsa ini. Isi tulisan macam ini tidak kita temukan pada sejumlah sarjana Indonesia didikan Amerika, Eropa maupun Australia, yang selalu mencari titik lemah pada komunitas pesantren, pengumpulan titik kelemahan bangsa ini, serta penonjolan titik-titik tengkar di antara berbagai komponen bangsa ini.
 
== Hasil karya ==
Beberapa karya Aboebakar Atjeh:
Beberapa karya Abu Bakar Aceh lainnya: Sejarah Al-Qur'an; Aliran Syiah di Nusantara; Tekhnik Khutbah; Sejarah Ka’bah; Perjuangan Wanita Islam; Islam dan Kemerdekaan Beragama; Sejarah Masjid; Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf; Pengantar Ilmu Tarekat; Ibn Arabi Tokoh Tasauw dan Filsafat Agama; Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Mahzab; Ahlussunnah Waljamaah; Ilmu Ketuhanan; Islam Sumber Djihad dan Idjtihad; Pendidikan Sufi; Sejarah Hidup Nabi Muhammad; Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia; Syariah; Syiah Rasionalisme dalam Islam; Tarikat dalam Tasauw; Toleransi Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya; Wasiat Ibn Arabi; dan lain-lain.
 
* Sejarah Al-Qur'an
Selain itu juga menerjemahkan beberapa karya para penulis Eropa dan orientalis tentang sejarah Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Menulis dalam bahasa Aceh buku pelajaran untuk sekolah-sekolah Aceh masa kolonial, seperti Meutia dan Lhee Saboh Nang. Ia juga turut membantu penyusunan kamus Aceh, ''Groot Atjehsch Woordenboek'', yang dibuat oleh [[Husein Djajadiningrat]].
* Aliran Syiah di Nusantara
* Tekhnik Khutbah
* Sejarah Ka’bah
* Perjuangan Wanita Islam
* Islam dan Kemerdekaan Beragama
* Sejarah Masjid
* Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
* Pengantar Ilmu Tarekat
* Ibn Arabi Tokoh Tasauw dan Filsafat Agama
* Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Mahzab
* Ahlussunnah Waljamaah
* Ilmu Ketuhanan
* Islam Sumber Djihad dan Idjtihad
* Pendidikan Sufi
* Sejarah Hidup Nabi Muhammad
* Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
* Syariah
* Syiah Rasionalisme dalam Islam
* Tarikat dalam Tasauw
* Toleransi Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya
* Wasiat Ibn Arabi
* dan lain-lain.
 
Selain itu juga menerjemahkan beberapa karya para penulis [[Eropa]] dan orientalis tentang sejarah Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Menulis dalam bahasa Aceh buku pelajaran untuk sekolah-sekolah Aceh masa kolonial, seperti ''Meutia'' dan ''Lhee Saboh Nang''. Ia juga turut membantu penyusunan kamus Aceh, ''[[Groot Atjehsch Woordenboek]]'', yang dibuat oleh [[Husein Djajadiningrat]].
== Keluarga ==
Aboebakar Atjeh memiliki dua orang istri, yaitu Soewami dan Soekarti. Pernikahannya dengan Soewami tidak dikaruniai anak, sedangkan pernikahannya dengan Soekarti dikaruniai 6 (enam) orang anak. Keenam anak tersebut adalah:
# Hj. Umarah Sri Angsani (menikah dengan H. Teuku Iskandar bin Teuku Akbar)
# Hj. Inayah Sri Soewami
# Muhammad Furqan (meninggal 2006)
# Maisarah Sri Widari
# Rahmah Sri Wardani (meninggal)
# Farhan A. (meninggal 2004)
 
== Referensi ==
[http://www.nu.or.id/post/read/39619/haji-abu-bakar-aceh "Haji Abu Bakar Aceh | NU Online"] Diakses pada 16 November 2018
 
== Baca pula ==
[https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/07/01/nqqbsjm-menelisik-wahabi-di-masjid-baiturrahman-aceh-2habis "Menelisik Wahabi di Masjid Raya Baiturrahman Aceh (2-Habis)"]''[https://www.republika.co.id Republika]''
 
[https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-2-dakwah-damai-alawiyin/ "Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (2): Dakwah Damai Alawiyin"] [https://ganaislamika.com ''Gana Islamika'']
 
[https://tirto.id/sentuhan-tangan-anak-pendeta-di-masjid-istiqlal-cbBD "Sentuhan Tangan Anak Pendeta di Masjid Istiqlal"] [https://tirto.id ''Tirto.id'']
 
[http://aceh.tribunnews.com/2014/01/19/sanggamara-awal-mula-hikayat-latin "Sanggamara, Awal Mula Hikayat Latin"] [http://tribunnews.com ''Tribunnews'']
* {{cite web |url = http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,39619-lang,id-c,tokoh-t,Haji+Abu+Bakar+Aceh-.phpx |title = Haji Abu Bakar Aceh |date = 10 |month = September |year = 2012 |language = Indonesia |accessdate = 1 Oktober 2014
}}
 
[http://ahmad-baso.blogspot.com/2014/12/haji-aboebakar-aceh-dan-ide-pembaruan.html "Haji Aboebakar Aceh dan Ide Pembaruan dari Islam Nusantara"] ''Ahmad Baso''{{lifetime|1909|1979}}
{{lifetime|1909|1979}}
 
[[Kategori:Tokoh Aceh]]
43

suntingan