Buka menu utama

Perubahan

2 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (- di hari + pada hari)
Karya sastra ini terbagi menjadi tiga bagian yang berurutan: zaman "mitos", zaman "kepahlawanan", dan zaman "sejarah".
 
Bapa Waktu, yang digambarkan mirip dewa Saturnus, adalah tokoh pengingat akan tragedi kematian dan kehilangan, namun setelah itu matahari pun terbit kembali, membawa serta pengharapan dipada hari yang baru. Pada siklus pertama tentang penciptaan, [[kejahatan]] diriwayatkan masih bersifat eksternal (dalam wujud [[Iblis|Si Jahat]]). Pada siklus kedua, diriwayatkan awal-mula perseteruan dalam keluarga, perilaku yang buruk, dan merasuknya kejahatan ke dalam hakikat manusia. Kedua putera tertua Syāh [[Fereydun|Fereydūn]] menjadi serakah dan mendengki adik lelaki mereka yang tidak bersalah, karena menyangka ayah mereka lebih sayang pada si bungsu, mereka pun membunuhnya. Putera dari pangeran yang dibunuh itu membalas dendam atas pembunuhan ayahnya, maka semua orang pun larut dalam pertumpahan darah, bunuh-membunuh dan balas dendam silih-berganti. Pada siklus ketiga, diriwayatkan tentang serangkaian syāh yang bercacat-cela. Ada pula hikayat yang mirip kisah [[Phaedra]] mengenai Syāh [[Kay Kāwus]], isterinya [[Sudabeh|Sūdāba]], hasrat Sūdāba pada anak tirinya [[Siyawas|Sīyāwas]], serta penolakan Sīyāwas atas hasrat dari isteri ayahnya itu.
 
Hanya melalui penokohan para lelaki dan perempuan dalam karya sastra inilah dihadirkan pandangan asli Zoroaster mengenai kondisi umat manusia. Zoroaster menitikberatkan [[kehendak bebas]] manusia. Seluruh tokoh Firdausi berkepribadian rumit; tak seorangpun yang sungguh-sungguh sempurna atau hanya sekadar boneka. Tokoh-tokoh paling baik pun masih bercacat-cela, dan tokoh-tokoh paling jahat pun masih berperikemanusiaan.
572.317

suntingan