Poris Gaga, Batuceper, Tangerang: Perbedaan revisi

2.043 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(Membatalkan suntingan berniat baik oleh 140.213.0.94 (bicara). (TW))
Tag: Pembatalan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
{{kelurahan-stub}}
 
 
PORIS
 
Bukti empiris daerah hunian bernama PORIS pada jaman dahulu itu ditandai adanya STASIUN PORIS dan MASJID AL-WUSTO sebagai pusat yang diakui Belanda untuk menegaskan adanya populasi manusia yang sudah eksis sebagai satu perkampungan besar penghasil beras yang dihuni oleh manusia yang agamis, gagah berani, kaya buday a dan terkenal agraris sebagai penyanggah kebutuhan beras internal Batavia.
 
Sebuah daerah yang dibangun di tepian HUTAN KECIL YANG DIPENUHI BURUNG GAGAK yang dahulunya meliputi daerah : PORIS sekarang : Porisgaga, Porisgaga baru, Porisjaya, Poris Plawad utara dan GAGA yang meliputi: Alastua, kp Gaga, sebagian Ketapang.
 
Pada bagian UTARA berbatasan dengan Kali Mokervaart dan Kebon Besar yang ada Benteng Belanda-nya dengan bukti empuris Pintu Hek yang sekarang masih eksis tempat di mana Pangeran Aria Yudhanegara terbunuh pada pertempuran sengit dengan Belanda.
 
Pada bagian SELATAN berbatasan dengan Kali Irigasi Sipon yang dibangun Belanda yang esis sampai saat ini irigasi sistem siponnya
 
Pada bagian TIMUR berbatasan dengan stasiun Kalideres antara posisi akhir di kp Gaga Alastua
 
Pada bagian BARAT berbatasan dengan Stasiun CEPER yang sekarang ada Terminal Poris Plawad-nya
 
Pusat Peradaban Poris terlerak di PORISGAGA dan bukan Poris Plawad sebagaimana cerita yang berkembang, MASJID TERTUA adalah bukti penting adanya sebuah pradaban yang agamis memghasilkan bukan saja manusia yang dekat kepada Allah, tetapi juga Masjid sebagai Pusat pendidikan bagi masyarakatnya, mengahsilkan manusia tangguh yang memiliki keilmuan yang berkembang, kita mengenal KUMPI CABOL dan KUMPI JERAH sebagai Leluhur Poris dan Jawara-jawara dari Poris seperti Mat Petjoen.
 
Masyarakat Poris yang berasal dari paduan masyarakat Melayu dengan garis keturunan sampai Cirebon adalah juga masyarakat yang suka berpetualang, terbukti banyaknya anak-anak keturanan yang sudah merantau ke Palembang dan juga ada yang membuat Kampung Baru bernama BABAKAN PORIS yang ada di Kerawang akibat berkecamuknya perang dengan Belanda
Pengguna anonim