Buka menu utama

Perubahan

2 bita ditambahkan, 7 bulan yang lalu
kosm
Pada zaman [[Yunani Kuno]], kata sifat ''atheos'' (''{{lang|grc|[[:wikt:ἄθεος|ἄθεος]]}}'', berasal dari awalan ἀ- + ''{{lang|grc|[[:wikt:θεός|θεός]]}}'' "tuhan") berarti "tak bertuhan". Kata ini mulai merujuk pada penolakan tuhan yang disengajakan dan aktif pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa". Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan {{transl|grc|atheos}} sebagai "ateistik". Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ''{{lang|grc|[[:wikt:ἀθεότης|ἀθεότης]]}}'' ({{transl|grc|atheotēs}}), yang berarti "ateisme". [[Cicero]] mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam [[bahasa Latin]] ''{{lang|la|[[:wikt:atheos#Latin|atheos]]}}''. Istilah ini sering digunakan pada perdebatan antara umat [[Gereja perdana|Kristen awal]] dengan para pengikut agama Yunani Kuno (Helenis), yang mana masing-masing pihak menyebut satu sama lainnya sebagai ateis secara peyoratif.<ref name=drachmann>{{cite book|last=Drachmann|first=A. B.|title=Atheism in Pagan Antiquity|publisher=Chicago: Ares Publishers|year=1977 ("sebuah cetakan ulang yang tidak berubah dari versi tahun 1922")|isbn=0-89005-201-8|quote = Atheism and atheist are words formed from Greek roots and with Greek derivative endings. Nevertheless they are not Greek; their formation is not consonant with Greek usage. In Greek they said ''{{transl|grc|atheos}}'' and ''{{transl|grc|atheotēs}}''; to these the English words ungodly and ungodliness correspond rather closely. In exactly the same way as ungodly, ''{{transl|grc|atheos}}'' was used as an expression of severe censure and moral condemnation; this use is an old one, and the oldest that can be traced. Not till later do we find it employed to denote a certain philosophical creed. }}</ref>
 
''Ateisme'' pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri" pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis.<ref name="adevism">In part because of its wide use in monotheistic Western society, ''atheism'' is usually described as "disbelief in God", rather than more generally as "disbelief in deities". A clear distinction is rarely drawn in modern writings between these two definitions, but some archaic uses of ''atheism'' encompassed only disbelief in the singular God, not in [[polytheism|polytheistic]] deities. It is on this basis that the obsolete term ''[[adevism]]'' was coined in the late 19th century to describe an absence of belief in plural deities. {{cite journal |author=Britannica |title=Atheonism | journal = [[Encyclopædia Britannica]] | edition = 11th Edition |year=1911}}</ref> Pada abad ke-20, [[globalisasi]] memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)".<ref name="martin">Martin, Michael. ''[http://books.google.com/books?vid=ISBN0521842700 The Cambridge Companion to Atheism]''. Cambridge University Press. 2006. ISBN 0-521-84270-0.</ref> Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ''ateisme'' sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.<ref name="martin"/><ref>{{cite web |last=Cline |first=Austin |title=What Is the Definition of Atheism? |url=http://atheism.about.com/od/definitionofatheism/a/definition.htm |accessdate = 2006-10-21 | year = 2006 |publisher=[[about.com]]}}</ref><ref>{{cite book|last=Flew|first=Antony|authorlink = Antony Flew|title=God, Freedom, and Immortality: A Critical Analysis|publisher=Buffalo, NY: Prometheus|year=1984|isbn=0-87975-127-4}}</ref>
= 2006 |publisher=[[about.com]]}}</ref><ref>{{cite book|last=Flew|first=Antony|authorlink = Antony Flew|title=God, Freedom, and Immortality: A Critical Analysis|publisher=Buffalo, NY: Prometheus|year=1984|isbn=0-87975-127-4}}</ref>
<!-- Ateisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, ateisme bukan merupakan kepercayaan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan atau ketidakyakinan. Ateisme bukan merupakan suatu agama, tidak memiliki ajaran resmi selayaknya agama pada umumnya. Ateisme juga bukan sebuah pemikiran anti-agama dan anti-tuhan namun sering kali dikacaukan dengan [[Antiteisme]] yang merupakan suatu pemikiran anti-agama atau anti-tuhan. Ateisme bukanlah agama karena tidak punya ajaran tertentu, tidak punya kitab suci tertentu, dan tidak juga menyembah apa pun.
 
Pada tahun 1772, [[Baron d'Holbach]] mengatakan bahwa "Semua anak-anak dilahirkan sebagai ateis, karena mereka tidak tahu akan Tuhan."<ref>{{cite book|last=d'Holbach|first=P. H. T.|authorlink = Baron d'Holbach|title=Good Sense|url=http://www.gutenberg.org/etext/7319|accessdate=27-10-2006|year=1772}}</ref> [[George H. Smith]] (1979) juga menyugestikan bahwa: "Orang yang tidak kenal dengan teisme adalah ateis karena ia tidak percaya pada tuhan. Kategori ini juga akan memasukkan anak dengan kapasitas konseptual untuk mengerti isu-isu yang terlibat, tetapi masih tidak sadar akan isu-isu tersebut (''sebagai ateis''). Fakta bahwa anak ini tidak percaya pada tuhan membuatnya pantas disebut ateis."<ref>{{harvnb|Smith|1979|p=14}}.</ref> Smith menciptakan istilah ''ateisme implisit'' untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ''ateisme eksplisit'' untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.
 
Dalam kebudayaan Barat, pandangan bahwa anak-anak dilahirkan sebagai ateis merupakan pemikiran yang baru. Sebelum abad ke-18, keberadaan Tuhan diterima secara sangat luas sedemikiannya keberadaan ateisme yang benar-benar tidak percaya akan Tuhan itu dipertanyakan keberadaannya. Hal ini disebut ''theistic innatism'' (pembawaan lahir teistik), yakni suatu nosi bahwa semua orang percaya pada Tuhan dari lahir. Pandangan ini memiliki konotasi bahwa para ateis hanyalah menyangkal diri sendiri.<ref>{{cite book|last=Cudworth|first=Ralph|authorlink = Ralph Cudworth|title=The True Intellectual System of the Universe: the first part, wherein all the reason and philosophy of atheism is confuted and its impossibility demonstrated|year=1678}}</ref> Terdapat pula sebuah posisi yang mengklaim bahwa ateis akan dengan cepat percaya pada Tuhan pada saat krisis, bahwa ateis percaya pada tuhan pada saat [[Kematian|meninggal dunia]], ataupun bahwa "tidak ada ateis dalam lubang perlindungan perang (''no atheists in foxholes'')."<ref>Lihat : {{cite web|url=http://www.lds-mormon.com/atheist.shtml|title=Atheists call for church head to retract slur|date=1996-09-03|accessdate=2008-07-02}}</ref> Beberapa pendukung pandangan ini mengklaim bahwa keuntungan antropologis agama membuat manusia dapat mengatasi keadaan susah lebih baik.<!--(cf.[[opium of the people]] Karl Marx, Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right, Deutsch-Französische Jahrbücher February, 1844)--> Beberapa ateis menitikberatkan fakta bahwa terdapat banyak contoh yang membuktikan sebaliknya, di antaranya contoh-contoh "ateis yang benar-benar berada di lubang perlindungan perang."<ref>{{cite web |last=Lowder |first=Jeffery Jay |year=1997 |title=Atheism and Society |url=http://www.infidels.org/library/modern/jeff_lowder/society.html |accessdate=10-01-2007 }}.</ref>
of Hegel's Philosophy of Right, Deutsch-Französische Jahrbücher
February, 1844)--> Beberapa ateis menitikberatkan fakta bahwa terdapat banyak contoh yang membuktikan sebaliknya, di antaranya contoh-contoh "ateis yang benar-benar berada di lubang perlindungan perang."<ref>{{cite web |last=Lowder |first=Jeffery Jay |year=1997 |title=Atheism and Society |url=http://www.infidels.org/library/modern/jeff_lowder/society.html |accessdate=10-01-2007 }}.</ref>
 
=== Kuat dan lemah ===