Buka menu utama

Perubahan

1.555 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
Perapihan artikel
{{Coord|-6.2181205|106.8046058|display=title}}
{{Infobox venue
| name = Gelanggang Olahraga Bung Karno
| fullname =
| former names = Gelanggang Olahraga Senayan
| logo_image = [[Berkas:Logo GBK.png|240px]]
| logo_caption =
| image = [[Berkas:Aerial SUGBK (cropped).jpg|240px]]
| image_size =
| image_alt =
| caption = [[Stadion Utama Gelora Bung Karno]] difoto bersama Stadion Akuatik dan [[Istora Gelora Bung Karno|Istora]]
| pushpin_map = Indonesia Jakarta
| pushpin_mapsize =
| pushpin_map_caption =
| address =
| location = [[Gelora, Tanah Abang|Gelora]], [[Tanah Abang]], [[Jakarta Pusat]], [[Indonesia]]
| coordinates = <!-- {{Coord|LAT|LON|type:landmark|display=inline,title}} -->
| type =
| genre =
| closed = 2016-2017
| demolished =
| owner = [[Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia|Sekretariat Negara Republik Indonesia]]<ref>{{cite web|url=http://mediaindonesia.com/read/detail/33309-pengelolaan-kawasan-gbk-tetap-di-bawah-setneg|title=Pengelolaan Kawasan GBK Tetap Di Bawah Setneg |date=10 Maret 2016 |accessdate=11 Maret 2016 |website=[[Media Indonesia]]}}</ref>
| operator = Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPKGBK)
| surface =
 
== Sejarah ==
Setelah [[Dewan Olimpiade Asia|Federasi Asian Games]] menyatakan Jakarta menjadi tuan rumah [[Pesta Olahraga Asia 1962]] pada tahun 1958,<ref>{{cite web|url=http://newspapers.nl.sg/Digitised/Page/straitstimes19580524.1.12.aspx|title=Jakarta gets 1962 Games: No KL bid|date=24 Mei 1958|website=[[The Straits Times]]|language=en|accessdate=27 Agustus 2012}}</ref> persyaratan minimum yang belum dipenuhi oleh [[Jakarta]] adalah ketersediaan kompleks multi-olahraga. Menanggapi hal ini, Presiden [[Soekarno]] mengeluarkan Keputusan Presiden No. 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang dipimpin oleh [[Daftar Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia|Menteri Urusan Pemuda dan Olahraga]] [[Maladi]].<ref>{{cite journal|last=Adams |first=Iain |year=2003 |title=Pancasila: Sport and the Building of Indonesia – Ambitions and Obstacles |journal=Sport in Asian Society. Past and Present |editor1=Mangan, J.A. |editor2=Hong, F. |pages=295–318 |location=London and Portland |publisher=F. Cass |language=en}}</ref> Soekarno, sebagai seorang arsitek dan sarjana teknik sipil, mengusulkan lokasi di dekat [[Jalan MH Thamrin (Jakarta)|Jalan M. H. Thamrin]] dan [[Menteng, Jakarta Pusat|Menteng]], yaitu daerah [[Karet Tengsin, Tanah Abang|Karet]], [[Pejompongan]], atau [[Dukuh Atas]]. [[Frederich Silaban]], seorang arsitek terkenal yang mendampingi Soekarno untuk meninjau lokasi dengan helikopter, tidak setuju dengan pemilihan Dukuh Atas karena ia berpendapat pembangunan kompleks olahraga di pusat daerah pusat kota masa depan akan berpotensi menciptakan kemacetan lalu lintas besar-besaran. Soeukarno setuju dan malah menugaskan daerah [[Senayan]] dengan luas sekitar 300 hektar.<ref>{{Cite web|url=http://historia.id/olahraga/sukarno-dan-gbk|title=Sukarno dan GBK|first=Hendri F. |last=Isnaeni |date=17 Maret 2015|website=historia.id|access-date=21 Januari 2018}}</ref>
[[Berkas:Aerial SUGBK (cropped).jpg|jmpl|240px|[[Stadion Utama Gelora Bung Karno]] difoto bersama Stadion Akuatik dan [[Istora Gelora Bung Karno|Istora]]]]
Setelah [[Dewan Olimpiade Asia|Federasi Asian Games]] menyatakan Jakarta menjadi tuan rumah [[Pesta Olahraga Asia 1962]] pada tahun 1958,<ref>{{cite web|url=http://newspapers.nl.sg/Digitised/Page/straitstimes19580524.1.12.aspx|title=Jakarta gets 1962 Games: No KL bid|date=24 Mei 1958|website=[[The Straits Times]]|language=en|accessdate=27 Agustus 2012}}</ref> persyaratan minimum yang belum dipenuhi oleh [[Jakarta]] adalah ketersediaan kompleks multi-olahraga. Menanggapi hal ini, Presiden [[Soekarno]] mengeluarkan Keputusan Presiden No. 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang dipimpin oleh [[Daftar Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia|Menteri Olahraga]] [[Maladi]].<ref>{{cite journal|last=Adams |first=Iain |year=2003 |title=Pancasila: Sport and the Building of Indonesia – Ambitions and Obstacles |journal=Sport in Asian Society. Past and Present |editor1=Mangan, J.A. |editor2=Hong, F. |pages=295–318 |location=London and Portland |publisher=F. Cass |language=en}}</ref> Soekarno, sebagai seorang arsitek dan sarjana teknik sipil, mengusulkan lokasi di dekat [[Jalan MH Thamrin (Jakarta)|Jalan M. H. Thamrin]] dan [[Menteng]], yaitu daerah [[Karet Tengsin, Tanah Abang|Karet]], [[Pejompongan]], atau [[Dukuh Atas]]. [[Frederich Silaban]], seorang arsitek terkenal yang mendampingi Soekarno untuk meninjau lokasi dengan helikopter, tidak setuju dengan pemilihan Dukuh Atas karena ia berpendapat pembangunan kompleks olahraga di pusat daerah pusat kota masa depan akan berpotensi menciptakan kemacetan lalu lintas besar-besaran. Soeukarno setuju dan malah menugaskan daerah [[Senayan]] dengan luas sekitar 300 hektar.<ref>{{Cite web|url=http://historia.id/olahraga/sukarno-dan-gbk|title=Sukarno dan GBK|first=Hendri F. |last=Isnaeni |date=17 Maret 2015|website=historia.id|access-date=21 Januari 2018}}</ref>
 
Pemancangan tiang pertama dilakukan secara simbolis oleh Soekarno pada tanggal 8 Februari 1960. Pembangunan [[Istora Gelora Bung Karno|Istora]] selesai pada Mei 1961. [[Stadion Madya Gelora Bung Karno|stadionStadion sekunder]], Stadion Renang (Pusat Akuatik) dan Stadion Tenis selesai pada bulan Desember 1961. Stadion Utama selesai pada 21 Juli 1962, sebulan sebelum pertandingan.<ref>{{Cite book|title=Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno|last=Pour|first=Julius|publisher=Grasindo|year=2004|isbn=|location=|pages=}}</ref>
 
== Fase pembangunan ==
Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Gelora Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektar ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektar (49%) saja.
 
Dari jumlah yang 51% itu, 67,52 hektar (24,2% dari luas semula) digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti Gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung [[TVRI]], Graha Pemuda, kantor [[Gelora, Tanah Abang|Kelurahan Gelora]], [[SMA Negeri 24 Jakarta]], Puskesmas, gudang Depdiknas dan rumah makan.
 
Sisanya yang 26,7% atau 74,74 hektar disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada [[Hotel Hilton]], kompleks perdagangan Ratu Plaza, [[Hotel Mulia]], Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, [[Plaza Senayan]] dan berbagai bangunan komersial lain.<ref>{{cite web |url=https://properti.kompas.com/read/2017/03/13/203000621/terkait.komersialisasi.kawasan.gbk.senayan.pengelola.tidak.silau.uang |title=Terkait Komersialisasi Kawasan GBK Senayan, Pengelola Tidak Silau Uang |first=Ridwan Aji |last=Pitoko |website=[[Kompas.com]] |date=13 Maret 2017 |accessdate=14 Maret 2017}}</ref>
 
=== Era BadanPusat PengelolaPengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (BPGBKPPKGBK) ===
Pada masa PPKGBK ini, dilakukan pengembalian fungsi awal kawasan Gelora Bung Karno sebagai fasilitas olahraga sekaligus resapan air dan paru-paru kota atau [[ruang terbuka hijau]] (RTH) untuk publik. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir pembangunan properti komersial di kawasan GBK Senayan sangat masif, sehingga menuai kritik tajam masyarakat dan pengamat perkotaan.<ref>{{cite web|url=https://www.antaranews.com/berita/347037/mantan-atlet-soroti-komersialisasi-kawasan-gbk|title=Mantan atlet soroti komersialisasi kawasan GBK |editor=Tasrief Tarmizi |date=5 Desember 2012 |accessdate=6 Desember 2012 |website=[[Antara]]}}</ref><ref>{{cite web|url=https://industri.kontan.co.id/news/komersialisasi-kawasan-gbk-senayan-dilarang|title=Komersialisasi kawasan GBK Senayan dilarang |editor=Barratut Taqiyyah Rafie |date=4 Februari 2015 |accessdate=5 Februari 2015 |website=Kontan.co.id}}</ref> Direksi baru PPKGBK sejak Januari 2016 bertugas menyiapkan venue untuk Asian Games 2018, memperbaiki perjanjian-perjanjian kerja sama yang ada dengan mitra GBK, dan membuat Kompleks GBK Senayan menjadi sesuai dengan ketentuan dan peraturan.<ref>{{cite web|url=https://properti.kompas.com/read/2017/03/13/193000321/perjanjian.kerja.sama.pengelolaan.kompleks.gbk.senayan.dievaluasi. |title=Perjanjian Kerja Sama Pengelolaan Kompleks GBK Senayan Dievaluasi |date=13 Maret 2017 |accessdate=14 Maret 2017 |website=[[Kompas.com]] |first=Ridwan Aji |last=Pitoko}}</ref>
Pada masa BPGBK ini, dua buah bangunan di kompleks Stadion Gelora Bung Karno akan dirubuhkan. Kedua bangunan tersebut adalah Wisma Fairbanks dan Gedung Serba Guna di belakang Hotel Atlet Century. Semula Wisma Fairbanks diharapkan akan memberikan keuntungan kepada pihak BPKGBK, setelah perjanjian pembangunan dan penguasaan wisma tersebut selama 30 tahun berakhir. Setelah dikembalikan, menurut pihak BPKGBK bangunan itu tidak lagi memenuhi syarat huni. Menurut rencana, sebagai gantinya akan dibangun sebuah apartemen dan perkantoran, dengan 200 kamar yang akan disediakan untuk atlet.
 
== Fasilitas ==
|-
|Trek Joging Krida Loka
|Joging
|[[Jogging]]
| -
|1987