Boris III dari Bulgaria: Perbedaan revisi

3.037 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
k (Menghapus Kategori:Pengasa Ortodoks; Menambah Kategori:Penguasa Ortodoks menggunakan HotCat)
 
Putra sulung [[Ferdinand I dari Bulgaria|Ferdinand I]], Boris naik takhta ketika ayahnya menyatakan [[abdikasi|turun takhta secara sukarela]], setelah kekalahan Bulgaria selama Perang Dunia I. Kekalahan tersebut adalah kekalahan besar kedua bagi negara itu hanya dalam kurun waktu lima tahun, setelah sebelumnya kalah dalam [[Perang Balkan Kedua]] pada tahun 1913. Di bawah [[Perjanjian Neuilly]], Bulgaria dipaksa untuk menyerahkan wilayah barunya dan membayar kerugian perang yang dialami negara tetangganya, sehingga mengancam stabilitas politik dan ekonomi. Dua kekuatan politik, Uni Agraria dan Partai Komunis, menyerukan penggulingan monarki dan pergantian pemerintahan. Dalam keadaan inilah Boris berhasil menduduki takhta.
 
== Kehidupan awal ==
[[Berkas:FieldMarshallVonMackensenAndCrownPrinceBorisReviewingBulgarianRegiment.jpeg|jmpl|250px|kiri|Putra Mahkota Boris (kedua dari kanan) dan Marsekal Lapangan Jerman Von Mackensen meninjau resimen Bulgaria yang didampingi oleh Panglima Tertinggi [[Nikola Zhekov|Zhekov]] dan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal [[Konstantin Zhostov|Zhostov]] selama Dunia Perang I]]
Boris lahir pada 30 Januari 1894 di [[Sofia]] dari pasangan [[Ferdinand I dari Bulgaria|Ferdinand I, Pangeran Bulgaria]] dan istrinya [[Putri Marie Louise dari Bourbon-Parma]].
 
Pada bulan Februari 1896, Ferdinand I membuka jalan bagi rekonsiliasi Bulgaria dan [[Kekaisaran Rusia|Rusia]] dengan mengkonversi agama Pangeran Boris yang masih bayi dari [[Katolik Roma]] menjadi [[Kristen Ortodoks Timur]], langkah tersebut membuat frustrasi istrinya, memunculkan permusuhan dengan kerabat Katoliknya di Austria (terutama pamannya [[Franz Joseph I dari Austria]]) dan mengalami ekskomunikasi dari Gereja Katolik. Untuk mengatasi situasi sulit ini, Ferdinand membaptis semua anak-anaknya yang tersisa sebagai umat Katolik. [[Nikolai II dari Rusia]] menjadi ayah baptis bagi Boris dan bertemu dengan bocah lelaki itu selama kunjungan resmi Ferdinand ke [[Saint Petersburg]] pada bulan Juli 1898.
 
Boris menerima pendidikan awalnya di lembaga pendidikan yang disebut sebagai Sekolah Menengah Istana, yang diciptakan Ferdinand pada tahun 1908 semata-mata untuk anak-anaknya. Kemudian, Boris lulus dari Sekolah Militer di [[Sofia]], kemudian ia mengambil bagian dalam [[Perang Balkan]]. Selama [[Perang Dunia Pertama]], Boris menjadi ''[[liaison officer]]'' Staf Umum Angkatan Darat Bulgaria di [[Front Makedonia]]. Pada tahun 1916, ia dipromosikan menjadi kolonel dan dilantik kembali sebagai ''liaison officer'' bagi [[Grup Angkatan Darat Mackensen (Rumania)|Grup Angkatan Darat Mackensen]] dan [[Angkatan Darat Ketiga (Bulgaria)|Angkatan Darat Ketiga Bulgaria]] untuk operasi melawan [[Rumania selama Perang Dunia I|Rumania]]. Boris bekerja keras untuk memuluskan hubungan yang terkadang sulit di antara kedua komandan kesatuan tersebut, yakni [[Marsekal Lapangan]] [[August von Mackensen|Mackensen]] dan [[Letnan Jenderal]] [[Stefan Toshev]]. Karena keberanian dan pribadinya yang teladan, Boris mendapatkan respek dari pasukan dan komandan senior Bulgaria dan Jerman, bahkan dari ''Erster Generalquartiermeister'' Angkatan Darat Jerman, [[Erich Ludendorff]], yang lebih suka berurusan secara pribadi dengan Boris dan menggambarkannya sebagai orang yang sangat terlatih, orang yang benar-benar berani dan dewasa di luar usianya.<ref name="Ludendorf">{{cite book|title=Ludendorff's Own Story, August 1914-November 1918: The Great War from the Siege of Liège to the Signing of the Armistice as Viewed from the Grand Headquarters of the German Army|author=Ludendorff, E.|date=1919|issue=т. 2|publisher=Harper|url=https://books.google.com/books?id=v_ZVK4RYTAAC|accessdate=15 September 2015}}</ref> Pada tahun 1918, Boris berpangkat [[mayor jenderal]].
 
== Referensi ==