Pakubuwana X: Perbedaan antara revisi

626 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
|spouse = GKR. Pakubuwana </br> GKR. Hemas </br> ''Dan 39 Istri Selir''<ref>[http://keluargapakoeboewono.blogspot.com/2011/01/pakoeboewono-x-dan-keluarganya.html Pakoeboewono X dan Keluarganya.]</ref>
|house = [[Wangsa Mataram]]
|full name = Raden Mas SayiddinSayyidin Malikul Kusno
|father = [[Pakubuwana IX|Susuhunan Pakubuwana IX]]
|mother = KRAy. Kustiyah
== Masa Pemerintahan ==
[[Berkas:Pakubuwono-x-haji.jpg|jmpl|ka|210px|Susuhunan Pakubuwana X bersama GKR. Hemas dan rombongan di [[Masjid Agung Surakarta]] saat hendak melaksanakan [[Salat Jumat]].]]
SayiddinSayyidin Malikul Kusno naik [[tahta]] sebagai Pakubuwana X pada tanggal [[30 Maret]] [[1893]] menggantikan ayahnya yang meninggal dua minggu sebelumnya. Pakubuwana X memiliki dua permaisuri, yang pertama adalah GKR. Pakubuwana, putri [[Mangkunegara IV|KGPAA. Mangkunegara IV]], dan yang kedua adalah GKR. Hemas, putri dari [[Hamengkubuwana VII|Sultan Hamengkubuwana VII]]. Dari dua permaisurinya Pakubuwana X tidak memiliki putra laki-laki, pernikahannya dengan GKR. Hemas ia hanya dikaruniai seorang putri yang bernama GRAj. Sekar Kedaton yang kelak bergelar GKR. Pembayun.
 
Pakubuwana X juga memiliki 39 orang istri selir, dan dengan keseluruhan istrinya baik selir maupun permaisuri, Pakubuwana X memiliki 63 orang putra dan putri. Banyak dari putra-putri Pakubuwana X nantinya yang berpengaruh dan berperan dalam perjuangan kemerdekaan [[Indonesia]], antara lain [[Djatikoesoemo|KGPHGPH. Jatikusumo]], [[Kepala Staf TNI Angkatan Darat]] pertama, [[Pakubuwana XI|KGPH. Hangabehi]], yang pernah menjabat sebagai pelindung [[Sarekat Islam]]<ref>[https://infobimo.blogspot.com/2014/10/biografi-sri-susuhunan-pakubuwono-x.html Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono X (1866-1939).]</ref>, dan KGPH. Suryohamijoyo, yang menjadi [[Daftar anggota BPUPKI-PPKI|anggota]] [[BPUPKI]] dan [[PPKI]] serta ketua [[PON I|Pekan Olahraga Nasional]] saat diselenggarakan di [[Surakarta]] pada tahun [[1948]].
 
Masa pemerintahan Pakubuwana X ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang stabil. Pada masa pemerintahannya yang cukup panjang, [[Kasunanan Surakarta]] mengalami transisi, dari kerajaan tradisional menuju era modern, sejalan dengan perubahan politik di [[Hindia Belanda]].
 
== Peran Politik ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Groepsportret tijdens een bezoek van de kroonprins de sultan Hamengkoe Negoro en Prins PakoeKoning AlamChulalongkorn van JogjakartaSiam aan Pakoe Boewono X de Susuhunan van Solo TMnr 6000142260001421.jpg|jmpl|kiri|Susuhunan Pakubuwana X bersama [[Hamengkubuwana VIIChulalongkorn|SultanRaja HamengkubuwanaRama VIIV (Chulalongkorn)]] dan putra mahkotadari [[Kesultanan YogyakartaThailand]] di [[Keraton Surakarta]] (sekitar tahun [[19101895]]-[[19211910]]).]]
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Groepsportret tijdens een bezoek van de kroonprins de sultan Hamengkoe Negoro en Prins Pakoe Alam van Jogjakarta aan Pakoe Boewono X de Susuhunan van Solo TMnr 60001422.jpg|jmpl|kiri|Susuhunan Pakubuwana X bersama [[Hamengkubuwana VII|Sultan Hamengkubuwana VII]], [[Paku Alam VII|KGPAA. Pakualam VII]], dan putra mahkota [[Kesultanan Yogyakarta]] di [[Keraton Surakarta]] (sekitar tahun [[1910]]-[[1921]]).]]
[[Berkas:Bezoek-van-pakoe-boewono-x-aan-gouverneur-generaal-jhr-mr-a-w-l-tjarda-van-starkenborgh-stachouwer-te-buitenzorg-de-soesoehoenan.jpg|jmpl|kiri|Susuhunan Pakubuwana X seusai mengadakan pertemuan dengan [[Gubernur Jenderal]] [[A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer]] di [[Istana Bogor|Istana Buitenzorg]] (sekitar tahun [[1936]]-[[1939]]).]]
Selama pemerintahannya yang panjang, dalam menghadapi 10 orang [[gubernur jenderal]] dan 13 [[residen]] secara silih berganti, Pakubuwana X mampu menjauhkan pertentangan yang serius, bahkan tampil seolah sebagai ''teman'' pemerintah [[Hindia Belanda]]. Tetapi kewibawaannya sebagai [[raja]] [[Jawa]] di mata rakyat semakin meningkat. ''Loyatitasnya'' kepada [[Hindia Belanda]] memang tidak meragukan Kontrak Politik yang ditandatanganinya ketika naik tahta sebagai Susuhunan pada tahun [[1893]]. Pakubuwana X sadar sebagai cucu [[Pakubuwana VI]] yang pada tahun [[1831]] dibuang [[Belanda]] ke [[Ambon]], ia merasa harus meneruskan perjuangan pendahulunya dalam mengusir penjajah.
Petunjuk bahwa Pakubuwana X mempunyai kecenderungan terlibat dalam aktivitas [[politik]] dilaporkan oleh Residen Sollewijn Gelpke ([[1914]]-[[1918]]) kepada atasannya. Secara teratur ia mendapati Pakubuwana X memerlukan terjemahan berita-berita penting dari ''De Locomotief'', surat kabar ber[[bahasa Belanda]] yang terbit di [[Semarang]]. Khususnya berita mengenai [[Perang Dunia I]], Gelpke mendapati Pakubuwana X bersimpati pada [[Jerman]] sebagaimana banyak orang [[Indonesia]] saat itu, termasuk orang-orang [[Sarekat Islam]]. Peranan Pakubuwana X sebagai [[imam]] bagi masyarakat [[Muslim]] di [[Surakarta]], juga sangat diperhitungkan [[Belanda]].
 
Sementara itu, Residen L.Th. Schneider ([[1905]]-[[1908]]) berpendapat bahwa potensi subversif Pakubuwana X patut diperhitungkan. Schneider merupakan salah seorang yang pertama kali mencurigai pengaruh perjalanan Pakubuwana X ke luar daerah. Walaupun perjalanan dan kunjungan itu secara teoretis bersifat ''incognito'', kunjungannya ke [[Semarang]], [[Surabaya]], [[Ambarawa]], dan [[Salatiga]] (antara tahun [[1903]] dan [[1906]]) benar-benar dapat disebut sebagai kunjungan resmi. Kunjungan itu dapat dianggap sebagai pencerminan tujuan [[politik]] Pakubuwana X yang hendak memperluas pengaruhnya sebagai [[raja]] [[Jawa]]. IaDi luar [[Jawa]], ia juga melawat ke [[Bali]] dan [[Lombok]], serta [[Lampung]].
 
Pada bulan [[Desember]] [[1921]], Pakubuwana X melakukan perjalanan ke daerah [[Priangan]], diiringi oleh 52 bangsawan dan abdi dalem. Setelah singgah di [[Semarang]], [[Pekalongan]], dan [[Cirebon]], Pakubuwana X menetap cukup lama di [[Garut]] dan [[Tasikmalaya]]. Di [[Garut]], ratusan orang berkumpul menanti kehadiran Pakubuwana X, sehingga merepotkan [[polisi]] [[Belanda]]. Pada bulan [[Februari]] [[1922]], Pakubuwana X mengadakan perjalanan lagi ke [[Madiun]], disertai oleh 58 bangsawan dan abdi dalem. Perjalanan itu resminya sekali lagi disebut ''incognito'', tetapi justru benar-benar membuat citra Pakubuwana X semakin meningkat. Ia mengobral banyak hadiah tanda mata dengan lambang monogram ''PB X''. Bupati-bupati menerima [[keris]] dengan hiasan [[permata]], serta para wedana dan asisten wedana memperoleh berbagai arloji emas.
 
Demi mendukung dan membangkitkan semangat [[nasionalisme]] masyarakat ([[Jawa]]), Pakubuwana X terus mengadakan perjalanan ke daerah-daerah. [[Belanda]] keberatan, dengan alasan biaya. Padahal, sebenarnya [[Belanda]] hendak membatasi popularitas Pakubuwana X. Sekalipun perjalanan ituperjalanannya bersifat ''incognito'', tetapi Pakubuwana X selalu mengesankan di mata rakyat sebagai '''Kaisar Tanah Jawa'''. Setelah perjalanannya ke [[Jawa Barat]] dan [[Jawa Timur]] pada tahun [[1922]], yang bersamaan dengan meningkatnya semangat radikalisme [[Budi Utomo]], Pakubuwana X tidak mengadakan perjalanan lagi pada tahun [[1923]]. Baru pada tahun berikutnya, ia mengadakan kunjungan besar ke [[Malang]]. Penampilannya yang mengalihkan perhatian rakyat disana menyebabkan [[Gubernur Jenderal]] [[Dirk Fock]] bahkan menyuruh Residen Nieuwenhuys mempersilahkan Pakubuwana X untuk segera pulang. Alasannya, persyaratan ''incognito'' telah dilanggar. Setelah Nieuwenhuys pindah dari [[Surakarta]], Pakubuwana X mengadakan perjalanan lagi pada tahun [[1927]]. Diiringi 44 orang bangsawan dan abdi dalem, ia mengadakan kunjungan ke [[Gresik]], [[Surabaya]], dan [[Bangkalan]] selama seminggu. Jumlah pengiringnya kala itu bahkan mencapai tiga kali lipat dari jumlah dalam persyaratan yang dibuat oleh [[Belanda]].
 
Setelah Nieuwenhuys pindah dari [[Surakarta]], Pakubuwana X mengadakan perjalanan lagi pada tahun [[1927]]. Diiringi 44 orang bangsawan dan abdi dalem, ia mengadakan kunjungan ke [[Gresik]], [[Surabaya]], dan [[Bangkalan]] selama seminggu. Jumlah pengiringnya kala itu bahkan mencapai tiga kali lipat dari jumlah dalam persyaratan yang dibuat oleh [[Belanda]].
 
== Akhir Pemerintahan ==
1.533

suntingan