Kabupaten Pemalang: Perbedaan revisi

117 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
update pemerintahan dan merapikan
(update pemerintahan dan merapikan)
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
(update pemerintahan dan merapikan)
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
Pemalang dan [[Kendal]] pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan [[Tegal]], [[Pekalongan]] dan [[Semarang]]. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan [[Wiradesa, Pekalongan|Wiradesa]] dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.
 
Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga [[abad ke-14|abad XIV]] dan [[Abad ke-15|XV]], dan kemudian berkembang pesat pada [[abad ke-16|abad XVI]], yaitu pada masa meningkatnya perkembangan [[Islam]] di Jawa di bawah Kerajaan [[Demak]], [[Cirebon]] dan kemudian [[Mataram]]. Pada masa itu daerah pantai sekitar Pemalang <!--berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575.--> dan Comal telah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Demak dan Cirebon.<ref>{{Cite book|first1= Hiroyoshi |last1= Kanō |first2= Frans |last2= Hüsken |first2 = Djoko |last3 = Suryo |title= Di bawah asap pabrik gula: Masyarakat desa di pesisir Jawa sepanjang abad ke-20 |url= https://books.google.co.id/books?id=FmZxAAAAMAAJ&q=comal+mag%5Cribi&dq=comal+mag%5Cribi&hl=id&sa=X&ei=RdbJVLChGMb88QXAkYCgCw&redir_esc=y |publisher= Akatiga & Gadjah Mada University Press |year= 1996 |id= ISBN 978979420377, 9794203777 |page= 293}}</ref>
|title= Di bawah asap pabrik gula: Masyarakat desa di pesisir Jawa sepanjang abad ke-20
|url= https://books.google.co.id/books?id=FmZxAAAAMAAJ&q=comal+mag%5Cribi&dq=comal+mag%5Cribi&hl=id&sa=X&ei=RdbJVLChGMb88QXAkYCgCw&redir_esc=y
|publisher= Akatiga & Gadjah Mada University Press
|year= 1996
|id= ISBN 978979420377, 9794203777
|page= 293}}</ref>
 
Terdapat [[babad]] yang menceritakan bahwa [[Pangeran Benawa]], [[Kesultanan Pajang|Sultan Pajang]] yang ketiga (1586–1587), setelah tersingkir dari tahtanya lalu pergi membuka daerah pemukiman baru di sekitar wilayah Pemalang, dan menetap di sana hingga wafatnya.<ref name="Yudiono K.S.">{{Cite book|last= K.S. |first= Yudiono |title= Cerita Rakyat Dari Pemalang (Jawa Tengah) |publisher= Grasindo |date= 2005 |url= http://books.google.co.id/books?id=x2o9H5lyAMsC&pg=PA9&dq=pangeran+benowo+di+pemalang&hl=id&sa=X&ei=HvHJT7PSI8GsiAeYjLzaBg&ved=0CDEQuwUwAA#v=onepage&q=pangeran%20benowo%20di%20pemalang&f=false |isbn= 9797590976 }} Hlm. 9. Diaksés 2 Juni 2012.</ref> Berdasarkan kepercayaan penduduk setempat, Pangeran Benawa dimakamkan di pemakaman kuno di Desa [[Penggarit, Taman, Pemalang|Penggarit]], Kecamatan [[Taman, Pemalang]].<ref name="Yudiono K.S." />
|last = K.S.
|first = Yudiono
|title = Cerita Rakyat Dari Pemalang (Jawa Tengah)
|publisher = Grasindo
|date = 2005
|url = http://books.google.co.id/books?id=x2o9H5lyAMsC&pg=PA9&dq=pangeran+benowo+di+pemalang&hl=id&sa=X&ei=HvHJT7PSI8GsiAeYjLzaBg&ved=0CDEQuwUwAA#v=onepage&q=pangeran%20benowo%20di%20pemalang&f=false
|isbn = 9797590976 }} Hlm. 9. Diaksés 2 Juni 2012.</ref> Berdasarkan kepercayaan penduduk setempat, Pangeran Benawa dimakamkan di pemakaman kuno di Desa [[Penggarit, Taman, Pemalang|Penggarit]], Kecamatan [[Taman, Pemalang]].<ref name="Yudiono K.S." />
 
=== Masa Kadipaten bawahandibawah Kerajaan Mataram ===
Sejak sekitar 1622–1623, wilayah Pemalang sudah menjadi [[apanase]] (daerah kekuasaan) [[Pangeran Purbaya#Pangeran Purbaya dari Mataram|Pangeran Purbaya]] dari [[Mataram]], yang mana seorang ''Kyai Lurah'' mewakilinya sebagai pelaksana pemerintahan setempat (''stads houder'').<ref>{{cite book|title= Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta |author= Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah |url= https://books.google.co.id/books?id=t80BAAAAMAAJ&q=pemalang+1623+Purboyo&dq=pemalang+1623+Purboyo&hl=en&sa=X&ei=__a1VPqWNJepuwSxuoDQDQ&ved=0CCUQ6AEwAQ |publisher= Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah |year= 1976 |page= 93 |accessdate = 14 Januari 2015}}</ref><ref>{{cite book|title= Sejarah Nasional Indonesia: Kemunculan Penjajahan di Indonesia
|first1= Marwati Djoened |last1= Poesponegoro
|accessdate = 14 Januari 2015}}</ref>
 
Seorang tokoh bernama Raden Maoneng diyakini masyarakat Pemalang sebagai salah seorang leluhur mereka.<ref name="SM">{{cite news|accessdatefirst= Saiful |last= Bachri |title= Di Desa Bojongbata, Jalan Mulus Lampu Kencar-kencar |url= http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/10/pan20.htm |newspaper= Suara Merdeka |date= 10 Maret 2005 |accessdate= 15 Januari 2015}} Copyright© 1996–2004 Suara Merdeka.</ref> Makamnya di Dukuh Maoneng, Desa [[Bojongbata, Pemalang, Pemalang|Bojongbata]], di pinggir Kecamatan [[Pemalang, Pemalang|Pemalang]] sebelah selatan banyak dikunjungi peziarah.<ref name="SM" /> Beberapa sumber menyebutkan adanya tokoh bernama Tumenggung Mangun-Oneng, yaitu seorang panglima perang [[Sultan Agung]] yang memimpin pasukan Mataram dalam penaklukkan [[Surabaya]] pada tahun 1625.<ref>{{cite book
Seorang tokoh bernama Raden Maoneng diyakini masyarakat Pemalang sebagai salah seorang leluhur mereka.<ref name="SM">{{cite news|first= Saiful |last= Bachri
|title= Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung |first= Hermanus Johannes |last = de Graaf |url= https://books.google.co.id/books?ei=t2m2VLnNDIipuwSqkYDYBg&hl=id&id=CaQeAAAAMAAJ&dq=Mangun+Oneng&focus=searchwithinvolume&q=Mangun+Oneng |volume= 4 |publisher= Grafitipers |year= 1986 |accessdate= 15 Januari 2015}}</ref> <ref>{{cite book|title= Babad Tanah Jawi Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 |first1= W.L. |last1= Olthof |first2= H.R. |last2= Sumarsono |url= https://books.google.co.id/books?id=TmxxAAAAMAAJ&q=Mangun+Oneng&dq=Mangun+Oneng&hl=en&sa=X&ei=cba3VOr3NtfmuQS3xYCgCw&redir_esc=y |publisher= Narasi |year= 2007 |id= ISBN 978-979-16804-7-9, 9791680477 |accessdate= 15 Januari 2015}}</ref>
|title = Di Desa Bojongbata, Jalan Mulus Lampu Kencar-kencar
|url = http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/10/pan20.htm
|newspaper = Suara Merdeka
|date = 10 Maret 2005
|accessdate = 15 Januari 2015}} Copyright© 1996–2004 Suara Merdeka.</ref> Makamnya di Dukuh Maoneng, Desa [[Bojongbata, Pemalang, Pemalang|Bojongbata]], di pinggir Kecamatan [[Pemalang, Pemalang|Pemalang]] sebelah selatan banyak dikunjungi peziarah.<ref name="SM" /> Beberapa sumber menyebutkan adanya tokoh bernama Tumenggung Mangun-Oneng, yaitu seorang panglima perang [[Sultan Agung]] yang memimpin pasukan Mataram dalam penaklukkan [[Surabaya]] pada tahun 1625.<ref>{{cite book
|title = Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung
|first = Hermanus Johannes|last = de Graaf
|url = https://books.google.co.id/books?ei=t2m2VLnNDIipuwSqkYDYBg&hl=id&id=CaQeAAAAMAAJ&dq=Mangun+Oneng&focus=searchwithinvolume&q=Mangun+Oneng
|volume = 4
|publisher = Grafitipers
|year = 1986
|accessdate = 15 Januari 2015
}}</ref><ref>{{cite book
|title = Babad Tanah Jawi Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647
|first1 = W.L.|last1 = Olthof
|first1 = H.R.|last2 = Sumarsono
|url = https://books.google.co.id/books?id=TmxxAAAAMAAJ&q=Mangun+Oneng&dq=Mangun+Oneng&hl=en&sa=X&ei=cba3VOr3NtfmuQS3xYCgCw&redir_esc=y
|publisher = Narasi
|year = 2007
|id = ISBN 978-979-16804-7-9, 9791680477
|accessdate = 15 Januari 2015
}}</ref>
 
Pada masa [[Sunan Amangkurat I]] memerintah Mataram (1645–1677), Pemalang sudah berkembang menjadi salah satu dari kota-kota niaga maritim di pesisir utara Jawa, yang diatur dan diawasi dengan ketat oleh Mataram.<ref name="Lombards">{{cite book|title= Nusa Jawa: Silang Budaya – Jaringan Asia |url= https://books.google.co.id/books?id=CLF-Q44wza4C&pg=PA110&dq=Pemalang+Van+Goens&hl=en&sa=X&ei=01C2VKlS0Zy6BJT9gaAM&redir_esc=y#v=onepage&q=Pemalang%20Van%20Goens&f=false |first= Denys |last= Lombard |id= ISBN 978-979-605-451-0, 9796054515 |publisher= PT Gramedia Pustaka Utama |volume= 2 |year= 2005 |page= 110 |accessdate= 14 Januari 2015}}</ref>
Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat [[Alun-alun]] [[Pemalang (kota)|Kota Pemalang]]). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.
 
=== Masa kolonialKolonial Belanda dan seterusnya ===
Pada tahun 1918, di Pemalang berdiri organisasi pergerakan wanita ''Wanito Susilo'', yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.<ref>{{Cite book|title= Meneladani Kepahlawanan Kaum Wanita |first= Edi |last= Warsid |url= https://books.google.co.id/books?id=HgKhfY_rB0cC&pg=PA51&dq=Wanito+Susilo&hl=id&sa=X&ei=5tvJVNiCIcSC8gWE1YLABg&ved=0CCIQuwUwAQ#v=onepage&q=Wanito%20Susilo&f=false |publisher= Yudhistira Ghalia Indonesia |id= ISBN 978-979-019-123-5, 9790191235 |page= 51}}</ref>
 
Kabupaten Pemalang mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Sejak tahun 1948, Pusat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Pemalang berkedudukan di [[Pemalang, Pemalang|Pemalang]].<ref>{{Cite book|title= Rencana induk Kota Pemalang tahun 1983–2003 |url = https://books.google.co.id/books?id=jTMAAAAAMAAJ&q=pemalang+di+masa+belanda&dq=pemalang+di+masa+belanda&hl=id&sa=X&ei=9N3JVJjEJNLd8AXM94LoBw&ved=0CCEQ6AEwAQ |publisher= Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Pemalang |year= 1983 |volume= 3}}</ref>
 
=== Hari Jadi dan sesantiSesanti ===
Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk memperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.