Buka menu utama

Perubahan

3.873 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
k
Membatalkan 1 suntingan oleh 114.142.168.51 (bicara) ke revisi terakhir oleh HsfBot. (TW)
{{Infobox person
|name = Ratna Sarumpaet
|image =
|image_size =
|caption =
|birth_date = {{birth date and age|1949|7|16}}
|birth_place = [[Tarutung, Tapanuli Utara]], [[Sumatera Utara]]
|birth_name =
|other_name =
|death_date =
|death_place =
|nationality = {{flagcountry|Indonesia}}
|years_active =
|occupation = {{flatlist|
* [[Penulis naskah]]
* [[Sutradara]]
* [[Aktivis sosial|Aktivis HAM]]
* [[Seniman]]
}}
|spouse = {{marriage|Ahmad Fahmy Alhady|25 June 1972|23 November 1985|reason=cerai}}
|partner =
|children = Mohamad Iqbal <br /> Fathom Saulina <br /> Ibrahim <br /> [[Atiqah Hasiholan]]
|parents = Saladin Sarumpaet <br /> Julia Hutabarat
|alma_mater = [[Universitas Kristen Indonesia]]
|influences =
|influenced =
|website = {{URL|http://ratnasarumpaet.com/}}
}}
{{Nama Batak|[[Suku Batak Toba|Toba]]|[[Sarumpaet]]}}
'''Ratna Sarumpaet''' ({{lahirmati|[[Tarutung, Tapanuli Utara]]|16|7|1949}}) adalah seniman berkebangsaan [[Indonesia]] yang banyak mengeluti dunia panggung [[teater]], selain sebagai [[aktivis]] organisasi sosial dengan mendirikan ''Ratna Sarumpaet Crisis Centre''. Ratna terkenal dengan pementasan [[monolog]] ''[[Marsinah]] Menggugat'', yang banyak dicekal di sejumlah daerah pada era administrasi [[Orde baru]].<ref>{{cite web |url=http://www.liputan6.com/news/read/2069342/ratna-sarumpaet-saya-bukan-pendukung-prabowo |title=Ratna Sarumpaet: Saya Bukan Pendukung Prabowo |date=26 Juni 2014 |accessdate=28 Juni 2014 |website=[[Liputan6.com]]}}</ref>
 
Sarumpaet, lahir dalam keluarga [[Kristen]] yang aktif secara politis di [[Sumatera Utara]], awalnya belajar arsitektur di [[Jakarta]]. Setelah melihat drama [[W.S. Rendra]] pada tahun 1969, ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan grup drama tersebut. Lima tahun kemudian, setelah menikah dan masuk Islam, ia mendirikan Satu Merah Panggung; grup tersebut melakukan sebagian besar adaptasi drama asing. Ketika ia menjadi semakin khawatir tentang pernikahannya dan tidak senang dengan adegan teater lokal, dua tahun kemudian Sarumpaet meninggalkan grup dan mulai bekerja di televisi; ia baru kembali pada tahun 1989, setelah menceraikan suaminya.
 
Pembunuhan [[Marsinah]], seorang aktivis buruh, pada tahun 1993 menyebabkan Sarumpaet menjadi aktif secara politik. Dia menulis naskah pementasan orisinal pertamanya, ''Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah'', pada tahun 1994 setelah terobsesi dengan kasus ini. Hal ini diikuti oleh beberapa karya politik lainnya, yang beberapa diantaranya dilarang atau dibatasi oleh pemerintah. Semakin kecewa dengan tindakan otokratik [[Orde Baru]] [[Soeharto]], selama [[Pemilihan umum legislatif Indonesia 1997|pemilihan umum 1997]] Sarumpaet dan grupnya memimpin protes pro-demokrasi. Untuk salah satu di antaranya, pada Maret 1998, ia ditangkap dan dipenjara selama tujuh puluh hari karena menyebarkan kebencian dan menghadiri pertemuan politik "anti-revolusioner".
 
Setelah dibebaskan, Sarumpaet terus berpartisipasi dalam gerakan pro-demokrasi; tindakan ini menyebabkan dia melarikan diri dari Indonesia setelah mendengar desas-desus bahwa dia akan ditangkap karena perbedaan pendapat. Ketika dia kembali ke Indonesia, Sarumpaet terus menulis stageplays yang bermuatan politik. Ia menjadi kepala Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003; dua tahun kemudian dia didekati oleh [[UNICEF]] dan diminta untuk menulis drama untuk meningkatkan kesadaran [[perdagangan anak]] di Asia Tenggara. Pekerjaan yang dihasilkan berfungsi sebagai fondasi untuk debut filmnya tahun 2009, ''[[Jamila dan Sang Presiden]]''. Film ini [[Daftar perwakilan Indonesia pada Penghargaan Akademi untuk Film Berbahasa Asing Terbaik|dikirimkan]] ke ajang [[Academy Awards ke-82]] untuk [[Film Berbahasa Asing Terbaik (Oscar)|Film Berbahasa Asing Terbaik]] namun gagal masuk nominasi. Tahun berikutnya, ia merilis novel pertamanya, ''Maluku, Kobaran Cintaku''.
 
== Latar belakang ==
 
3.471

suntingan