Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran, 1 tahun yang lalu
Menolak 2 perubahan teks terakhir (oleh Yoshua Renaldo dan HsfBot) dan mengembalikan revisi 14053433 oleh Veracious
Pada Januari 2013, [[Komisi Pemilihan Umum|KPU]] menetapkan 10 [[partai politik]] yang lolos tahapan verifikasi administrasi dan faktual, dan menjadikan Partai NasDem sebagai satu-satunya partai baru yang lolos sebagai peserta Pemilu [[2014]].<ref>{{cite news|url =http://news.detik.com/read/2013/01/11/101151/2139277/10/partai-nasdem-optimistis-masuk-3-besar-di-pemilu-2014?9911012|title=Partai Nasdem Optimistis Masuk 3 Besar di Pemilu 2014|publisher=detikNews.com|date=11 Januari 2013|accessdate=11 Januari 2013|author=}}</ref> Pada bulan yang sama, partai ini diramaikan oleh isu terjadinya konflik di tataran para elit partai. Ketua Majelis Tinggi Partai Nasional Demokrat, Surya Paloh, kabarnya akan dicalonkan sebagai Ketua Umum Partai NasDem pada Kongres Partai NasDem yang akan diadakan pada 25 Januari 2013 di [[Jakarta]].<ref>{{cite news|url =http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/01/13/6/168696/Surya-Paloh-Diusung-Sebagai-Ketua-Umum-Partai-NasDem|title=Surya Paloh Diusung sebagai Ketua Umum Partai Nasdem|publisher=MetroTVNews.com|date= 13 Januari 2013|accessdate= 13 Januari 2013|author=}}</ref> Pada bulan tersebut juga terjadi aksi pemecatan terhadap Sekjen DPW DKI Garda Pemuda Nasdem, Saiful Haq, sekaligus pembekuan kepengurusan DPW tersebut.<ref>{{cite news|url =http://news.detik.com/read/2013/01/16/170201/2144085/10/garda-nasdem-buka-bukaan-soal-konflik-internal|title= Garda Nasdem Buka-bukaan Soal Konflik Internal|publisher=detikNews.com|date=16 Januari 2013|accessdate= 16 Januari 2013|author=}}</ref> Pada kongres perdana partai ini, yang diadakan pada Januari [[2013]], seluruh peserta kongres Partai NasDem yang berasal dari seluruh Indonesia secara aklamasi sepakat mengangkat Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai NasDem yang baru, menggantikan [[Patrice Rio Capella]].<ref>{{cite news|url =http://news.detik.com/read/2013/01/26/221747/2153065/10/jadi-ketum-nasdem-surya-paloh-salah-salah-saya-dibilang-haus-jabatan|title=Jadi Ketum NasDem, Surya Paloh: Salah-salah Saya Dibilang Haus Jabatan|publisher=detikNews.com|date=26 Januari 2013|accessdate= 26 Januari 2013|author=}}</ref>
 
== LambangSejarah Singkat<ref>Partai ==NasDem
Partai Nasdem berlambangka lingkaran biru dengan dua siluet oranye di tengahnya. Lingkaran biru merupakan simbol perputaran yang dinamis sebagai semangat dan harapan baru, keterbukaan dan ketegasan. Rotasi biru itu juga bermakna kemerdekaan berpikir, gagasan-gagasan baru, kecepatan mengambil keputusan, ketepatan bertindak, keberanian, kewaspadaan, kepercayaan diri dan keteguhan hati dalam berjuang.
 
Sedangkan dua siluet oranye atau jingga yang memeluk adalah lambang kebersamaan, keutuhan dalam bergerak, dan semangat pembaruan yang siap menampung aspirasi zaman. Gestur jingga itu juga memiliki makna gotong royong, harmonisasi antara modernitas dan kearifan lokal, menjunjung tinggi kesetaraan sosial, mengusung percepatan ekonomi dan keadilan distribusi pada saat yang sama. Oranye merupakan lambang kemakmuran seperti warna padi yang siap dipanen, yang juga melambangkan gagasan yang selalu segar dan siap diimplementasikan.
 
== Gambaran Umum ==
Sebagai partai politik, Partai Nasdem merupakan pemain baru dalam ajang kontestasi [[Pemilihan umum legislatif Indonesia 2014|Pemilu 2014]]. Didirikan pada [[1 Februari]] [[2011]], tak sampai tiga tahun kemudian Partai Nasdem telah lolos seleksi administrasi dan faktual [[Komisi Pemilihan Umum]] dan bisa melenggang sebagai peserta Pemilu 2014. Nasdem juga menjadi satu-satunya partai baru dari 18 partai baru lainnya yang turut mendaftar sebagai peserta Pemilu 2014, yang langsung lolos verifikasi administrasi oleh KPU. Jejak langkah ini sangat terkait dengan dua hal yakni pertama, kiprah sosok pendirinya, [[Surya Paloh]] dan kedua, magnet sebagai partai baru.
 
Magnet Partai Nasdem diawali oleh pendirian organisasi kemasyarakatan bernama sama, Nasdem pada [[1 Februari]] [[2010]]. Ormas Nasdem ini muncul pada saat situasi sosial politik negeri ini diwarnai oleh berbagai masalah yang tak kunjung terselesaikan. Di satu sisi, tawaran gerakan perubahan melalui gagasan Restorasi Indonesia yang diusung [[Surya Paloh]] seperti gayung bersambut.
 
Slogan Gerakan Perubahan yang diusung ormas Nasdem tampaknya sejalan dengan gagasan sebagian publik yang menginginkan perubahan. Dalam waktu singkat, ormas Nasdem telah menjadi wadah tempat bergabungnya para kader partai politik yang telah lebih dahulu berkiprah seperti [[Partai Golongan Karya|Golkar]] dan [[PAN]], maupun mereka yang sedang aktif dalam gerakan mahasiswa, kepemudaan dan perempuan.
 
Dua tokoh sentral inisiator ormas Nasdem adalah [[Surya Paloh]] dan [[Sri Sultan Hamengkubuwono X]] yang dikenal sebagai kader dan petinggi [[Golkar]]. Di samping dua nama tersebut, ormas Nasdem juga diisi oleh tokoh-tokoh lintas partai, agama, sektor maupun wilayah.
 
Para deklarator ormas Nasdem pun terdiri dari tokoh berbagai partai politik, agama, budayawan serta aktivis mahasiswa dan kepemudaan. Sedikitnya 45 tokoh ikut membubuhkan tandatangan pada saat pendirian ormas Nasional Demokrat. Beberapa nama di antaranya adalah: Surya Paloh, Sultan Hamengku Buwono X, [[Ahmad Syafii Maarif]], [[Anies Baswedan]], [[Bachtiar Aly]], [[Budi Supriyanto]], [[Patrice Rio Capella]], [[Ferry Mursyidan Baldan]], [[Didik J. Rachbini|Prof. Didik J. Rachbini]], [[Budiman Sudjatmiko]], [[Basuki Tjahaja Purnama]], [[Franky Sahilatua]].
 
Tingginya animo publik terhadap keberadaan ormas Nasdem diperlihatkan melalui hadirnya ratusan orang dalam acara deklarasi di [[Istora Senayan]], [[Jakarta]]. Acara ini juga disaksikan beberapa tokoh teras partai politik. Beberapa di antaranya adalah Ketua Umum PDI-P [[Megawati Soekarnoputri]], Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P [[Taufik Kiemas]], mantan Wakil Presiden [[Jusuf Kalla]], mantan Ketua DPR [[Akbar Tanjung]], Ketua DPP [[Hanura]] [[Wiranto]], Ketua Umum DPP [[Partai Demokrat]] [[Ahmad Mubarok]], Wakil Ketua DPD [[GKR Hemas]] serta tokoh senior PDI-P [[Sabam Sirait]].
 
Di sejumlah daerah, beberapa kader aktif partai politik masuk menjadi anggota Nasdem. Di [[Kepulauan Riau]] misalnya. Seperti diberitakan media lokal ''Tanjungpinang Pos'', hampir 70 persen kepengurusan ormas Nasdem di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) merupakan mantan kader aktif [[PAN]].
 
Demikian pula halnya di [[Bengkulu]], [[Patrice Rio Capella]], Sekretaris Jenderal Partai Nasdem saat ini, adalah mantan kader aktif [[PAN]]. Ia merupakan salah sati pendiri [[PAN]] di provinsi Bengkulu, pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi PAN DPRD Provinsi Bengkulu periode [[2002]]-[[2004]] maupun Wakil Sekjen PAN periode [[2010]]-[[2015]].
 
Masuknya sejumlah kader partai ke ormas Nasdem sempat menimbulkan kekhawatiran dari partai politik terkait. Tak kurang dari Ketua Umum [[Golkar]] [[Aburizal Bakrie]] dan Sekretaris Jenderal Golkar [[Idrus Marham]] perlu mengeluarkan pernyataan terkait keberadaan Nasdem dan pindahnya beberapa kader Golkar ke [[Nasdem]].<ref>Kompas, 25-26 Juni 2010.</ref>
 
Dari [[PDI Perjuangan]], kader dari [[Jawa Tengah]] [[Rustriningsih]], menjadi topik pembicaraan hangat di media massa ketika diberitakan menghadiri acara Nasdem di [[Medan]]<ref>Kompas, 7 Juli 2010.</ref>. Menurut pemberitaan tersebut, kehadiran Rustriningsih di acara Nasdem telah menimbulkan polemik internal di PDI-P. Bentuk kekhawatiran tersebut akhirnya dilembagakan melalui surat larangan resmi dari PDI-P, dan juga [[Golkar]], bagi kader kedua partai tersebut untuk terlibat dalam kegiatan ormas Nasdem<ref>Kompas, 19 Juli 2010.</ref>
 
Hanya setahun setelah deklarasi ormas Nasdem, seperti dugaan banyak pihak, Partai Nasdem dideklarasikan pada [[26 Juli]] [[2011] di Hotel Mercure Ancol, [[Jakarta]]. Berbeda dengan deklarasi ormas Nasdem, deklarasi Partai Nasdem hanya dihadiri oleh beberapa petinggi partai politik lain seperti: Ketua Dewan Pertimbangan Pusat [[PDI Perjuangan]] [[Taufik Kiemas]], Ketua DPP [[PAN]] [[Bima Arya Sugiarto]], anggota Dewan Pembina [[Partai Demokrat]] [[Ahmad Mubarok]], serta dua mantan Ketua Umum [[Partai Golkar]] [[Akbar Tanjung]] dan [[Jusuf Kalla]].
 
Deklarator Partai Nasdem adalah tiga tokoh muda yakni [[Patrice Rio Capella]], [[Sugeng Suparwoto]], dan [[Ahmad Rofiq]]. Patrice Rio Capella adalah mantan Wakil Sekjen [[PAN]] sementara [[Ahmad Rofiq]] merupakan mantan Sekjen [[Partai Matahari Bangsa]] dan mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Sedangkan Sugeng Suparwoto adalah seorang jurnalis sekaligus salah satu petinggi ''Media Indonesia'', surat kabar milik [[Surya Paloh]].
 
Saat itu, Patrice Rio Capella menjadi Ketua Umum Partai Nasdem dengan wakil Sugeng Suparwoto dan Sekretaris Jenderal Ahmad Rofiq. Surya Paloh sebagai inisiator tak hadir dalam deklarasi tersebut. Di dalam buku ''Sang Ideolog, Surya Paloh Matahari Restorasi'' karya [[Usamah Hisyam]], disebutkan bahwa Paloh tak hadir karena belum secara resmi mengundurkan diri dari [[Partai Golkar]] yang turut membesarkannya. Di samping itu, seperti ditulis dalam buku itu, kelahiran Partai Nasdem diiringi sejumlah kontroversi sehingga ia ingin lebih dulu mencermati berbagai opini yang mencuat.
 
Deklarasi Partai NasDem hanyalah salah satu tahapan dari satu rangkaian proses panjang perjalanan partai ini guna mendapatkan status resmi sebagai badan hukum, Partai NasDem didaftarkan ke Kemeterian Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia pada bulan Maret 2011. Kelahiran Partai NasDem tidak bisa dipisahkan lepas dari visi dan misi utama organisasi kemasyarakatan (ormas) Nasional Demokrat, yaitu menggalang Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.
 
Opini publik bahwa Partai Nasdem merupakan kelanjutan ormas Nasdem tak terelakkan, selain karena sebagian personelnya sama, nama, lambang, platform dan visi misi relatif serupa. Lambang Partai Nasdem merupakan bentuk terbalik dari lambang ormas Nasdem. Baik ormas maupun Partai Nasdem mengusung cita-cita Restorasi Indonesia. Bahkan kantor ormas Nasdem berada di kompleks gedung Partai Nasdem di wilayah Gondangdia Menteng. Hal tersebut membuat sebagian aktivis ormas Nasdem yang merupakan kader partai politik lain, menolak kemunculan ataupun bergabung ke Partai Nasdem. Mereka inilah yang menginginkan Nasdem tetap konsisten sebagai ormas dengan kekuatan moral dan kultural untuk mengubah keadaan bangsa. [[Khofifah Indar Parawansa]], salah seorang anggota ormas Nasdem dan juga Ketua [[Muslimat Nahdlatul Ulama]], menyatakan bahwa ia lebih senang kalau Nasdem tetap konsistem sebagai ormas.
 
Meskipun demikian, partai baru ini terus menerima anggota baru, mulai dari mantan kader partai politik lain, aktivis kepemudaan, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, kaum profesional, pengusaha maupun warga biasa. [[Hary Tanoesoedibjo]], CEO jaringan televisi [[MNC]] grup memutuskan bergabung dengan Partai Nasdem pada [[9 Oktober]] [[2011]]. Hary Tanoe kemudian memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Pakar. Bergabungnya Hary Tanoe semakin memperkokoh basis finansial Partai Nasdem yang sangat dibutuhkan untuk membangun mesin politik partai baru.
 
Partai Nasdem berhasil membentuk beberapa organisasi sayap partai yang meliputi sejumlah sektor yaitu perempuan (Garda Wanita Malahayati), petani (Petani Nasional Demokrat), buruh (Gerakan Massa Buruh Nasional Demokrat), pemuda (Garda Pemuda Nasional Demokrat), mahasiswa (Liga Mahasiswa Nasional Demokrat) serta mendirikan semacam lembaga bantuan hukum, Badan Advokasi Hukum Nasional Demokrat (Bahu Nasdem). Melalui organisasi sayap partai inilah Partai Nasdem melebarkan kaki-kaki mesin politiknya.
 
Sebagai partai politik baru, Nasdem tak lepas dari dinamika internal yang mewarnai tumbuh kembangnya. Setelah dinyatakan lolos verifikasi dan menjadi peserta [[Pemilihan umum legislatif Indonesia 2014|Pemilu 2014]], isu perpecahan internal merebak, terutama menjelang diselenggarakannya Kongres I Partai Nasdem tanggal 25-26 Januari 2013 di Jakarta. Dikabarkan terdapat pertentangan antar faksi di dalam partai. Faksi [[Hary Tanoesoedibjo]] berseberangan pendapat dengan faksi [[Surya Paloh]]. Beberapa waktu sebelumnya dikabarkan bahwa Surya Paloh memecat Sekretaris Jenderal Garda Pemuda Nasdem [[Saiful Haq]]. Tak lama setelah pemecatan, Hary Tanoe secara resmi menyatakan mundur dari Nasdem pada [[21 Januari]] [[2013]]. Di sejumlah media online, Hary Tanoe menyatakan alasan mundur yaitu karena perbedaan pendapat dengan Surya Paloh. Sejumlah kader Partai Nasdem pun berturut-turut memutuskan keluar dari keanggotaan. Jajaran pimpinan partai terdapat [[Ahmad Rofiq]] (Sekjen), [[Saiful Haq]] (Wasekjen), [[Endang Tirtana]] (Ketua Internal Dewan Pimpinan Pusat), [[Rustam Effendi]] (Ketua DPW Jawa Barat), [[Armyn Gulton]] (DPW Jawa Barat), [[Muhammad Isa Raharusun]] (Ketua DPW Maluku).
 
Inti penolakan sejumlah kelompok di dalam partai adalah kecenderungan partai akan memusatkan kekuasaan di tangan Surya Paloh dengan menjadikannya Ketua Umum Partai Nasdem, berdasarkan hasil Kongres I. Menurut mereka, posisi Surya Paloh sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai dan komposisi pengurus di tangan kaum muda seperti sebelumnya, merupakan format yang sudah sesuai dengan gagasan perubahan Nasdem. Sebaliknya, menjadikan Surya Paloh sebagai ketua umum dan menyerahkan pemilihan pengurus sepenuhnya ke tangan Surya Paloh membuat gagasan perubahan yang didengungkan Nasdem menjadi sekadar retorika belaka. Mundurnya Hary Tanoe disikapi kader Nasdem dengan mendua. Di satu sisi mereka mengakui bahwa Nasdem sedikit banyak kehilangan basis finansial penting untuk menopang mesin politik partai. Di sisi lain, finansial bukan satu-satunya faktor penentu jalannya mesin politik. Seperti yang diungkapkan Wasekjen [[Willy Aditya]] bahwa Hary Tanoe bukan tokoh politik, tetapi memang memberi topangan secara finansial. Kenyataannya bukan finansial saja yang penting tetapi juga komitmen dan gagasan politik. Nasdem tetap akan berjalan walaupun Hary Tanoe mundur.
 
Di samping mundurnya sejumlah kader Nasdem, partai baru ini tetap mendapat kader-kader baru yang bergabung, baik dari mantan kader partai politik lain mauoun dari kelompok-kelompok masyarakat. [[Enggartiasto Lukito]], kader Golkar, memutuskan bergabung dengan Partai Nasdem. Demikian pula dengan [[OC Kaligis]], pengacara kondang, yang diikuti oleh sejumlah pengacara muda. Tak hanya itu, sekitar 43 orang yang menamakan diri aktivis 1998 menyatakan bergabung dengan Nasdem.
 
== Menjelang Pemilu 2014<ref>Partai NasDem
 
"Sejarah Singkat Partai NasDem". ''Partai NasDem.'' (n.d.). Web. 8 Jun 2016.
 
Surya Paloh lalu menunjuk Rio Capella yang berhasil memimpin partai hingga menggelar kongres partai yang pertama pada 25-26 Januari 2013. Jika kemudian Rio Capella menyerahkan kepemimpinan partai periode berikutnya kepada Surya Paloh, “Amanah kongres ini merupakan kepercayaan yang harus saya pertanggungjawabkan,” kata Surya Paloh.
 
=== Prakongkres I : Deklarasi Partai NasDem ===
Partai NasDem sendiri dideklarasikan kelahirannya pada tanggal 26 Juli 2011 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Deklarasi Partai NasDem hanyalah salah satu tahapan dari satu rangkaian proses panjang perjalanan partai ini.
 
Guna mendapatkan status resmi sebagai badan hukum, Partai NasDem didaftarkan ke Kemeterian Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia pada bulan Maret 2011.
 
Deklarasi Partai NasDem hanyalah salah satu tahapan dari satu rangkaian proses panjang perjalanan partai ini guna mendapatkan status resmi sebagai badan hukum, Partai NasDem didaftarkan ke Kemeterian Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia pada bulan Maret 2011. Kelahiran Partai NasDem tidak bisa dipisahkan lepas dari visi dan misi utama organisasi kemasyarakatan (ormas) Nasional Demokrat, yaitu menggalang Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.
 
=== Lolos Verifikasi Administrasi ===
 
Keputusan KPU meloloskan Partai NasDem merupakan hasil dari rapat pleno terbuka yang digelar di Gedung KPU Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2013. Rapat pleno dihadiri Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), perwakilan KPU tingkat provinsi se-Indonesia, dan pemantau Pemilu.
 
=== Target Pemilu 2014 ===
Selain mengukuhkan [[Surya Paloh]] sebagai Ketua Umum baru, Kongres juga mengamanatkan DPP di bawah Surya Paloh untuk menetapkan strategi pemenangan Pemilu 2014 dan rekrutmen calon legislatif. Dalam sejumlah pernyataan di media massa, DPP Partai Nasdem menargetkan bisa masuk tiga besar partai pemenang pemilu dan memperoleh 100 kursi DPR. Jika target itu berhasil dicapai, Nasdem akan mengusung calon presidennya sendiri. Optimisme tim pemenangan yang diketuai Ferry Mursyidan Baldan ditopang oleh strategi pemenangan yang salah satunya menggunakan metode MLM (''multilevel marketing''). Awalnya, anggota mengikuti proses rekrutmen dengan mendaftar melalui sistem online. Lalu mereka merekrut anggota baru dengan metode MLM, ada semacam ''upliner'' dan ''downliner'' dalam proses penjaringan. Nama-nama yang sudah masuk dalam database bisa mencetak kartu anggota secara ''online''. Ia mengklaim saat itu sudah terdaftar 14 juta orang.
 
== Hasil Pemilu ==
Namun, hasil Pemilu Legislatif berbicara lain. Nasdem tidak berhasil masuk tiga besar pemenang pemilu tetapi masuk 10 besar partai yang berhasil lolos ''parliamentary threshold'' dan mendudukkan wakilnya di [[Senayan]]. Hasil ini tak terlalu mengecewakan bagi sebuah partai baru. Dengan hasil ini, Nasdem tak bisa mengajukan capresnya sendiri.
{| class="wikitable"
|-
|-
|}
 
== Pemilihan Presiden 2014 ==
Dalam Pemilu Presiden 2014, Nasdem memutuskan mendukung [[Jokowi]]-[[Jusuf Kalla]] bersama [[PDI Perjuangan]], [[PKB]], [[Hanura]], dan [[PKPI]]. Keputusan ini diambil karena Nasdem melihat adanya kesamaan platform dengan PDI-P maupun Jokowi. Dalam wawancara dengan Patrice Rio Capella dinyatakan bahwa melalui koalisi tersebut, Nasdem tetap bisa bersikap sebagai lokomotif perubahan dan menjalankan "politik gagasan" Restorasi Indonesia. Alasan lainnya adalah karena [[Jokowi]] menunjuk [[Jusuf Kalla]] sebagai wakilnya. Jusuf Kalla telah lama menjadi kawan politik Surya Paloh. Saat Jusuf Kalla bertarung memperebutkan jabatan Ketua Umum Golkar, Surya Paloh memberikan dukungan untuk Jusuf Kalla. Pada Pemilu 2009, Surya Paloh (dan [[Golkar]]) memberi dukungan kepada pasangan [[Jusuf Kalla]]-[[Wiranto]]. Dukungan Nasdem terhadap Jokowi-Jusuf Kalla tak hanya disetujui elite partai.
 
Menurut Capella, "mesin politik Nasdem justru menjadi hidup dari Aceh sampai Papua. Sosialisasi Jokowi-JK ibaratnya seperti orang Nasdem sendiri yang ''nyapres''. Tidak ada keberatan sama sekali dari bawah sampai ke atas karena semangat perubahan dan pembaruan yang diusung Jokowi sama dengan semangat restorasi bangsa yang mendasari gerak Nasdem."
 
Untuk komitmen dukungan tersebut, menurut Capella Nasdem rela memberi dukungan dana hingga Rp 600 miliar sejak keputusan mendukung hingga pelaksanaan Pilpres [[9 Juli]] [[2014]]. Dana berasal dari bermacam sumber termasuk [[Surya Paloh]]. Nasdem juga menerbitkn tabloid ''Kawan Jokowi'' untuk melawan kampanye hitam dan negatif terhadap Jokowi-JK dan mencetuskan slogan ''Jokowi adalah Kita''. Nasdem juga membentuk organisasi relawan, Pusat Informasi Relawan (PIR) yang diketuai [[Martin Manurung]]. PIR menghimpun individu relawan, baik simpatisan Nasdem maupun yang bukan.
 
== Kepemimpinan dan Organisasi ==
Keberadaan dan tumbuh kembang Nasdem tak bisa dilepaskan dari sosok Surya Paloh. Ia merupakan penggagas awal dan pendiri ormas dari Partai Nasdem. Oleh karena itu, jejak dan pengaruh Surya Paloh sangat kental dan perjalanan Nasdem. Berdasarkan buku ''Sang Ideolog, Surya Paloh Matahari Restorasi'', ide mendirikan partai politik baru didesakkan kepada Surya Paloh oleh tiga aktivis muda, yakni Patrice Rio Capella, [[Jeffrie Geovanie]] dan [[Ichsan Loulemba]] pada [[2009]].
 
Capella saat itu masih menjadi kader [[PAN]] sementara Geovanie adalah kader [[Golkar]] dan Loulemba merupakan mantan anggota DPD dari [[Sulawesi Tengah]] serta aktivis [[HMI]].
 
Ketika itu Paloh baru saja kalah melawan Aburizal Bakrie dalam perebutan ketua umum Golkar. Paloh menolak membuat parpol baru karena tidak mau dianggap mendirikan partai karena kecewa terhadap kekalahannya.
 
Akan tetapi, Paloh setuju terhadap usulan mendirikan ormas. Maka, berbekal dukungan Paloh, ketiga aktivis muda itu menggalang dukungan untuk pendirian ormas baru. Proses rekrutmen mendapat sambutan positif. Banyak tokoh muda lintas partai, profesi, suku dan agama bergabung. Tak butuh waktu lama, ormas Nasdem dideklarasikan dan Paloh menjadi ketua umum.
 
Pendirian Partai Nasdem bertolak dari kesadaran bahwa gagasan Restorasi Indonesia sulit terlaksana jika hanya mengandalkan anggota ormas Nasdem yang tersebar di berbagai partai politik. Sulit berharap para aktivis tersebut mampu memengaruhi kebijakan partai masing-masing untuk menjalankan Restorasi Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan partai politik baru yang mengusung agenda Restorasi Indonesia.
 
Surya Paloh lantas meminta tiga fungsionaris ormas Nasdem untuk mempersiapkan pendirian partai. Ketiganya adalah Patrice Rio Capella, Sugeng Suparwoto, dan Ahmad Rofiq. Dalam proses pembentukan partai tersebut, muncul pro dan kontra di antara para pengurus ormas Nasdem. Mereka yang kontra mempersoalkan mengapa kelahiran Partai Nasdem tidak dirapatkan terlebih dahulu.
 
Menurut Capella, Partai Nasdem tidak melibatkan institusi ormas Nasdem secara langsung. Namun, kader ormas secara pribadi diperkenankan bergabung dengan Partai Nasdem. Sesuai kebijakan Surya Paloh sejak awal, Partai Nasdem bukan metamorfosis ormas Nasdem. Anggota ormas tidak harus menjadi anggota partai. Sebaliknya, anggota Partai Nasdem wajib menjadi anggota ormas Nasdem. Partai dilahirkan dari nol sebagai partai baru sehingga tidak perlu dirapatkan dahulu.
 
Rencana pendirian partai tersebut mengakibatkan [[Sri Sultan Hamengkubuwono X]] mengundurkan diri dari ormas Nasdem pada [[6 Juli]] [[2011]]. Alasannya, ia merasa tidak pernah punya komitmen untuk menjadikan Nasdem sebagai partai. Sultan menyatakan telah berkomitmen sejak lama untuk menjadi kader [[Golkar]].
 
Meskipun sejumlah anggota ormas Nasdem mundur dari keanggotaan, proses pembentukan berjalan terus karena mereka berkejaran dengan waktu pendaftaran sebagai peserta Pemilu 2014. Dalam waktu kurang dari setahun, Capella dan beberapa aktivis muda berhasil membentuk kepengurusan partai di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota. Pada [[6 April]] [[2011]], Partai Nasdem didaftarkan ke Kemenkumham untuk keperluan pendaftaran Pemilu Legislatif 2014.
 
Saat deklarasi 26 Juli 2011 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Capella menjadi Ketua Umum, Ahmad Rofiq sebagai Sekretaris Jenderal dan Surya Paloh sebagai Ketua Majelis Pertimbangan. Sebagai ketua umum, Capella dianggap berhasil mengonsolidasikan pengurus partai sehingga lolos verifikasi administrasi maupun faktual oleh Komisi Pemilihan Umum.
 
Keberhasilan tersebut ikut ditopang oleh ormas Nasdem. Terlepas dari penolakan sebagian anggota ormas, keberadaan ormas Nasdem sedikit banyak membantu percepatan pembentukan kepengurusan partai di daerah-daerah. Anggota ormas yang setuju pendirian Partai Nasdem kemungkinan juga bersedia menopang pembentukan cabang partai di daerahnya.
 
Faktor lain yang cukup penting memengaruhi pendirian partai adalah basis masa Golkar. Beberapa partai baru seperti [[Partai Keadilan dan Persatuan]] (Edi Sudrajat), [[Partai Gerindra]] (Prabowo Subianto), dan [[Partai Hanura]] (Wiranto) didirikan oleh mantan kader Golkar. Meskipun partai-partai itu juga merekrut orang-orang baru, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa sebagian kader Golkar hijrah ke situ.
 
Demikian pula halnya yang terjadi pada Nasdem. Surya Paloh merupakan salah satu kader utama Golkar. Setelah kalah dari pertarungan memperebutkan kursi ketua umum dengan Aburizal Bakrie, Surya Paloh merasa gagasan Restorasi Indonesia tak mungkin bisa direalisasikan kecuali mendirikan partai baru. Sejumlah kader Golkar pun mengikutinya, mundur dari Golkar dan bersama Paloh berupaya membesarkan Nasdem.
 
Kekuatan Nasdem pun bertambah ketika Hary Tanoe bergabung ke Nasdem pada [[9 Oktober]] [[2011]]. Dua pemilik jaringan media massa bersatu di dalam sebuah partai politik baru tak ada arti lain kecuali mempercepat popularitas partai baru tersebut. Dalam waktu singkat Partai Nasdem telah dikenal publik karena kampanye gencar melalui iklan, publisitas, maupun berbagai program yang diciptakan khusus. Bahkan perpecahan internal partai, merupakan tema ampuh untuk menarik perhatian media. Hary Tanoe sendiri merupakan CEO MNC Grup yang menguasai jaringan televisi, radio maupun media cetak.
 
Penelitian Inco Hary Perdana dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa media televisi milik kedua tokoh tersebut, merupakan alat ampuh untuk ''marketing'' politik Partai Nasdem. Praktis, tidak ada partai lain, apalagi partai baru, yang frekuensi kemunculannya di media massa sesering seperti Partai Nasdem di masa menjelang Pemilu Legislatif 2014.
 
Jaringan televisi MNC Grup sangat membantu mempercepat penyebaran informasi Partai Nasdem hingga pelosok negeri. Sementara Metro TV dengan pangsa pasar menengah atas membantu memperkuat "brand image" Partai Nasdem di kalangan tersebut. Tak mengherankan jika Partai Nasdem menjadi satu-satunya partai baru yang bisa lolos verifikasi administrasi maupun faktual oleh KPU, meninggalkan belasan partai baru lainnya.
 
Seperti halnya partai pada umumnya, tak lepas dari dinamika internal. Pasca penetapan Partai Nasdem sebagai peserta Pemilu 2014, peristiwan perpecahan internal terus terjadi. Hal ini terutama dipicu oleh kabar pergantian jabatan Ketua Umum dari Capella ke Surya Paloh menjelang Kongres pertama Nasdem. Saat itu terbentuk dua faksi yaitu faksi Hary Tanoe dan faksi Surya Paloh. Faksi Hary Tanoe menolak Surya Paloh sebagai ketua umum Nasdem. Bagi mereka, kepengurusan Nasdem seharusnya tetap di tangan kaum muda seperti sebelumnya. Jika tidak, gagasan perubahan yang mendasari gerak atau cita-cita Nasdem akan tinggal retorika belaka.
 
Sejarah mencatat bahwa Hary Tanoe akhirnya mengundurkan diri dari Nasdem dan Surya Paloh menjadi Ketua Umum menggantikan Capella. Keputusan pemilihan ketua umum baru itu merupakan hasil Kongres I. Meskipun pendirian Partai Nasdem digawangi oleh para pemimpin muda, tetapi partai yang masih mengandalkan ketokohan ini sulit melepaskan pengaruh Surya Paloh sebagai penggagas awal sekaligus penyandang dana utama partai.
 
Di bawah Ketua Umum Surya Paloh, Partai Nasdem memasuki arena kontestasi pertamanya dalam Pemilu 2014. Hasilnya belum sesuai target meskipun tidak terlalu mengecewakan. Waktu yang akan membuktikan apakah Partai Nasdem berhasil mewujudkan gagasan Restorasi Indonesia ataukah sekadar sebuah partai baru yang meramaikan jagat perpolitikan Indonesia.
 
Ujian berat Partai Nasdem justru lahir setahun setelah pemilu dengan ditetapkannya Ketua Mahkamah Partai Prof.Dr.[[O.C. Kaligis]], S.H.,M.H. dan Sekretaris Jenderal [[Patrice Rio Capella]] sebagai tersangka kasus suap yang juga melibatkan Gubernur Sumatera Utara [[Gatot Pujo Nugroho]]. Sorotan publik pun mau tidak mau dihadapi oleh partai yang mengusung jargon Restorasi Indonesia ini.
 
== Susunan Dewan Pimpinan Pusat ==
* Persatuan Petani Nasional Demokrat (Petani NasDem)<ref>http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/01/18/1/169023/Partai-NasDem-Deklarasikan-Petani-NasDem</ref>
* [[Garda Pemuda NasDem]], diketuai oleh Martin Manurung
 
== Literatur ==
* Aditya, Willy. 2013. ''Indonesia Di Jalan Restorasi, Politik Gagasan Surya Paloh''. Jakarta: Populis Institute.
* Hisyam, Usamah. 2014. ''Sang Ideolog, Surya Paloh Matahari Restorasi''. Jakarta: PT Dharmapena Citra Media.
* Perdana, Inco H. 2014. "Political Marketing Partai Politik Baru Menuju Pemilu 2014, Kasus: Strategi Pemenangan Partai Nasdem", Tesis Jurusan Komunikasi, Universitas Indonesia.
* Dokumen Partai Nasdem dalam laman www.partainasdem.org
* Dokumen kepartaian dalam laman resmi www.kpu.go.id
* Pusat Informasi Kompas, pemberitaan ''Kompas'' mengenai Partai Nasdem 2012-2014.
 
== Referensi ==
{{Parpol2014}}
 
[[Kategori:Partai NasDem| ]]
[[Kategori:Partai politik di Indonesia|NasDem]]
[[Kategori:Partai NasDem| ]]
3.446

suntingan