Buka menu utama

Perubahan

1.069 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
butuh konfirmasi dan statistik berapa banyak yang convert
'''Suku Kubu''' atau juga dikenal dengan '''Suku Anak Dalam''' atau '''Orang Rimba''' adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau [[Sumatra]], tepatnya di Provinsi [[Jambi]] dan [[Sumatera Selatan]]. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.
 
Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, [[Taman Nasional Bukit Duabelas]]. Mereka kemudian dinamakan ''Moyang Segayo.'' Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari [[Kerajaan Pagaruyung|wilayah Pagaruyung]], yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan [[suku Minangkabau]], seperti sistem kekeluargaan [[matrilineal]].
 
Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang [[jalan lintas Sumatra]]). Mereka hidup secara [[nomaden]] dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.
Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya [[hutan]] yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang [[Melayu]]) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.
 
untukMayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke [[Agama Kristen]] atau [[Islam]]. Untuk suku Kubu yang tinggal menetap di daerah sumateraSumatera selatanSelatan terutama daerah rawas rupit dan musi lakitan ,disana di sana banyak terdapat suku Kubu yang menggantungkan hidup di persawitan, bahkan ada di antara yang memanfaatkan lahan sawit perusahaan Lonsum untuk mereka curi dan mereka jual ke lapak lapak setempat. Mereka seperti itu karena memegang prinsip dasar apa yang tumbuh di alam adalah milik mereka bersama. Namun, banyak juga orang kubu di daerah Musi dan Rawas yang menerima modernisasi termasuk penggunaan kendaraan bermotor dan senjata api rakitan (''kecepek''). Pakaian dan fisik mereka yang agak sedikit kumal biasanya menjadi stereotipe yang membuat orang-orang sekitar bisa membedakan suku Kubu dan masyarakat sekitar.
Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke [[Agama Kristen]] atau [[agama islam]]
untuk suku Kubu yang tinggal menetap di daerah sumatera selatan terutama daerah rawas rupit dan musi lakitan ,disana banyak terdapat suku Kubu yang menggantungkan hidup di persawitan, bahkan ada di antara yang memanfaatkan lahan sawit perusahaan Lonsum untuk mereka curi dan mereka jual ke lapak lapak setempat. Mereka seperti itu karena memegang prinsip dasar apa yang tumbuh di alam adalah milik mereka bersama. Namun, banyak juga orang kubu di daerah Musi dan Rawas yang menerima modernisasi termasuk penggunaan kendaraan bermotor dan senjata api rakitan (''kecepek''). Pakaian dan fisik mereka yang agak sedikit kumal biasanya menjadi stereotipe yang membuat orang-orang sekitar bisa membedakan suku Kubu dan masyarakat sekitar.
 
Baru-baru ini, Suku Anak Dalam telah merubah beberapa unsur dalam kehidupan sosial mereka. Perubahan tersebut tidak terlepas dari peran pemerintah yang diwujudkan melalui beberapa kebijakan. Beberapa perubahan yang mereka alami sekarang adalah hidup menetap dan memeluk agama Islam. Banyak di antara Suku Anak Dalam yang lebih memilih untuk hidup menetap dalam pemukiman dan meninggalkan budaya nomaden-nya. Di antara mereka juga tidak sedikit yang meninggalkan kepercayaan animisme dan dinamisme-nya dan lebih memilih untuk memeluk agama Islam. Alasannya tidak lain adalah untuk memperoleh KTP sehingga dapat mengakses pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Jaminan sosial tersebut tidak akan diberikan apabila Suku Anak Dalam tidak memiliki identitas agama dan tempat tinggal yang melas superti yang tertera di dalam KTP. Perubahan cara hidup tersebut tentunya membawa konsekuensi yang tidak sedikit, seperti perubahan pola kekerabatan dan perkawinan, hingga lunturnya kearifan lokal seperti berburu, meramu, hingga kepercayaan animisme-dinamisme.
 
== Pranala luar ==