Sejarah pemikiran evolusi: Perbedaan revisi

3.105 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
Konsep evolusi banyak diterima di lingkup saintifik dalam beberapa tahun publikasi ''Origin'', namun penerimaan seleksi alam sebagai mekanisme penggeraknya kurang tersebar. Empat alternatif besar untuk seleksi alam pada akhir abad ke-19 adalah [[evolusi teistik]], [[neo-Lamarckisme]], [[ortogenesis]], dan [[saltationisme]]. Alternatif-alternatif yang didukung oleh para biologis pada waktu yang lain meliputi [[strukturalisme]], [[teleologi dalam biologi|teleologi]] dari [[Georges Cuvier]] selain fungsionalisme non-evolusi, dan [[vitalisme]].
 
Evolusi teistik adalah gagasan bahwa Allah ikut campur tangan dalam proses evolusi, untuk memandunya dalam cara semacam itu agar makhluk hidup masih dapat layak untuk dirancang. Istilah tersebut dipromosikan oleh advokat Amerika terbesar dari Charles Darwin [[Asa Gray]]. Namun, gagasan tersebut secara bertahap kurang diminati di kalangan ilmuwan, karena mereka menjadi makin tertarik dengan gagasan [[Naturalisme (filsafat)#Naturalisme metodologi|naturalisme metodologi]] dan meyakini bahwa banding langsung dengan keterlibatan supranatural tidaklah produktif secara saintifik. Pada 1900, evolusi teistik sebagian besar hilang dari diskusi saintifik profesional, meskipun masih sangat populer.<ref name="Larson105-129">{{harvnb|Larson|2004|pp=105–129}}</ref><ref name="Bowler196-250">{{harvnb|Bowler|2003|pp=196–253}}</ref>
 
Pada akhir abad ke-19, istilah neo-Lamarckisme menjadi diasosiasikan dengan posisi para naturalis yang memandang pewarisan karakteristik menonjol sebagai mekanisme evolusi paling berpengaruh. Para advokat dari posisi tersebut meliputi penulis Inggris dan kritikus aDarwin [[Samuel Butler (novelis)|Samuel Butler]], pakar biologi Jerman [[Ernst Haeckel]], dan pakar paleontologi Amerika [[Edward Drinker Cope]]. Mereka menganggap Lamarckisme lebih tinggi secara filsafat ketimbang gagasan seleksi Darwin yang bertindak pada variasi acak. Cope memandang, dan melalui yang ia temukan, susunan-susunan progresi linear dalam jejak fosil. Pewarisan karakteristik menonjol adalah bagian dari [[teori rekapitulasi]] evolusi Haeckel, yang menyatakan bahwa perkembangan embriologi dari sebuah organisme mengulang riwayat evolusinya.<ref name="Larson105-129" /><ref name="Bowler196-250" /> Para kritikus neo-Lamarckisme, seperti pakar biologi Jerman [[August Weismann]] dan Alfred Russel Wallace, menekankan bahwa tak ada orang yang pernah memproduksi bukti solid untuk pewarisan karakteristik menonjol. Disamping kritikan tersebute, neo-Lamarckisme menjadi menjadi alternatif paling populer untuk seleksi alam pada akhir abad ke-19, dan masih dipegang beberapa naturalis pada abad ke-20.<ref name="Larson105-129" /><ref name="Bowler196-250" />
 
Ortogenesis adalah hipotesis bahwa kehidupan memiliki tendensi untuk berubah, dalam mode unilinear, menuju kesempurnaan yang lebih besar. Ini memiliki pengikutan signifikan pada abad ke-19, dan para pemegangnya meliputi pakar biologi Rusia [[Lev Berg|Leo S. Berg]] dan pakar paleontologi Amerika Henry Fairfield Osborn. Ortogenesis menjadi populer di kalangan beberapa pakar paleontologi, yang meyakini bahwa jejak fosil menunjukkan perubahan unidireksional bertahap dan konstan.
 
Saltationisme adalah gagasan bahwa spesies baru timbul sebagai hasil dari mutasi besar. Ini dipandang sebagai alternatif yang lebih cepat untuk konsep Darwinian dari proses bertahap variasi acak kecil yang terjadi pada seleksi alam, dan populer di kalangan pakar genetik awal seperti [[Hugo de Vries]], [[William Bateson]], dan pada awal karirnya, [[Thomas Hunt Morgan]]. Ini menjadi dasar dari [[mutasionisme|teori mutasi]] evolusi.<ref name="Larson105-129" /><ref name="Bowler196-250" />
[[Berks:Sexlinked inheritance white.jpg|right|thumb|Diagram dari buku 1919 [[Thomas Hunt Morgan]] ''The Physical Basis of Heredity'', menunjukkan pewarisan terkait jenis kelamin dari mutasi mata putih pada ''[[Drosophila melanogaster]]'']]
 
=== Mendelian genetik, biometrik, dan mutasi ===