Buka menu utama

Perubahan

44 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
Menurut Horst Liebner pada awalnya layar pinisi dipasang ke atas lambung perahu padewakang dan sejenisnya; akan tetapi, ketika para pelaut dan pengrajin perahu semakin sadar atas cara pemakaiannya, lambung yang dipilih adalah jenis palari saja – tipe lambung yang sangat runcing dan ‘pelari’ itu memanglah yang paling sesuai dengan layar sekuner.
 
Evolusi ini terjadi dalam beberapa tahap: Tipe lambung padewakang dirancang dengan lebih runcing dan ditingkatkan dengan beberapa papan tambahan yang menyebabkan dek haluan menjadi lebih rendah daripada dek utama dan buritan, dan bahwa konstruksi balok-balok guling seolah-olah ‘terbang’ di belakang buritan perahu (''palari salompong ambeng rua kali'' - istilah ini berasal dari Bahasa Konjo); berikutnya bagian geladak buritan (''ambeng'') diteruskan hingga balok-balok kemudi menyatu dengannya (''palari salompong''); dan tahap terakhir adalah meningkatkan tinggi haluan supaya seluruh geladak menjadi lurus.
 
Tipe lambung terakhir ini digunakan sampai perahu pinisiq diganti dengan tipe-tipe PLM, ‘perahu layar motor’. Pada awal tahun 1970-an ribuan perahu pinisi- berlambung palari yang berukurandapat memuat sampai 200 ton berat muatan, merupakan armada perahu layar komersial terbesar di dunia pada saat itu, sempat menghubungi semua pelosok [[Samudra Hindia|Samudera IndonesiaHindia]] dan menjadi tulang rusuk perdagangan rakyat.
 
== Galeri ==