Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran ,  1 tahun yang lalu
| title = Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim
| pages = 53-124
| publisher = Pusat Riset WilayahaWilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia
| place = Jakarta
| year = 2005
| contribution-url = https://www.academia.edu/7780936/Perahu-Perahu_Tradisional_Nusantara_Suatu_Tinjauan_Perkapalan_dan_Pelayaran_-_-_Ini_sudah_agak_outdated_ada_tulisan_barunya_Beberapa_Catatan_akan_Sejarah_Pembuatan_Perahu_dan_Pelayaran_Nusantara_ }}
</ref>
 
== Evolusi ke Pinisi ==
Menurut Horst Liebner pada awalnya layar pinisi dipasang ke atas lambung perahu padewakang dan sejenisnya; akan tetapi, ketika para pelaut dan pengrajin perahu semakin sadar atas cara pemakaiannya, lambung yang dipilih adalah jenis palari saja – tipe lambung yang sangat runcing dan ‘pelari’ itu memanglah yang paling sesuai dengan layar sekuner.
7

suntingan