Buka menu utama

Perubahan

95 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
Nama
* Komisi Perikemanusiaan, [[Konstituante]].
|known_for=[[Pelukis]] [[ekspresionisme]] atau [[abstrak]]
|spouse = [[Maryani Affandi|Maryani]]Maryati (istri pertama)<br />Rubiyem (istri kedua)
|partner =
|children = [[Kartika Affandi]]<br />Rukmini Yusuf<br />Agung Kusuma<br />Juki Affandi<br/>
|parents = Raden Koesoema
|relatives=HelfiHelfy Dirix (cucu)
|religion = [[Islam]]
|influences =
|influenced =
|website =www.affandi.org
|monuments= [[Museum Affandi]]
|almamater=* [[HIS|Hollandsch-Inlandsche School (HIS)]]
Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
 
Pada umur 26 tahun, pada tahun [[1933]], Affandi menikah dengan [[Maryati Affandi|Maryati]]Maryani, gadis kelahiran [[Bogor]]. Affandi dan MaryatiMaryani dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu [[Kartika Affandi]].
 
Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.
 
Pada tahun [[1943]], Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai—yang terdiri dari Ir. [[Soekarno]], Drs. Mohammad [[Hatta]], [[Ki Hajar Dewantara]], dan [[Kyai Haji Mas Mansyur]]—memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan [[S. Soedjojono]] sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.
[[Berkas:Boeng, ajo, Boeng! karya Affandi (foto dokumen oleh Dgi.or.id).jpg|jmplthumb|kirileft|280px|Poster propaganda ''Boeng, ajo, Boeng!'' karya Affandi, 1945]]
Ketika republik ini diproklamasikan [[1945]], banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain "Merdeka atau mati!". Kata-kata itu diambil dari penutup pidato [[Soekarno|Bung Karno]], ''[[Lahirnya Pancasila]]'', [[1 Juni]] 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ide [[Soekarno]] itu menggambarkan seseorang yang dirantai tetapi rantainya sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis [[Dullah]]. Kata-kata yang dituliskan di poster itu ("Bung, ayo bung") merupakan usulan dari penyair [[Chairil Anwar]]. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.
 
 
== Affandi dan melukis ==
[[Berkas:Affandi 1997 Indonesia stamp.jpg|jmplthumb|kirileft|280px|Potret diri Affandi diabadikan dalam perangko Indonesia seri Seniman Indonesia tahun 1997.]]
 
Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Pengguna anonim