Buka menu utama

Perubahan

12 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
==== Faktor perang ====
{{utama|Perang Padri|Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia}}
[[Berkas:Portret van Tuanku Imam Bonjol.jpg|jmpl|kiri|150px|[[Tuanku Imam Bonjol]], salah seorang pemimpin [[Perang Padri]], yang diilustrasikan oleh [[Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers|de Stuers]].]]
<blockquote class="toccolours" style="text-align:justify; width:30%; margin:0 0em 1em .25em; float:right; padding: 10px; display:table; margin-left:10px;">"Orang Minang merupakan masyarakat yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik dari Jawa maupun Eropa".<ref name="Kahin"/><p style="text-align: right;">— Pendapat dari [[Audrey R. Kahin]].</blockquote>
Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah [[Perang Padri]],<ref name="Nain"/> muncul [[Pemberontakan di Pantai Barat Sumatera (1841)|pemberontakan di Batipuh]] menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan [[Siti Manggopoh]] dalam [[Perang Belasting]] menentang ''belasting'' dan pemberontakan komunis tahun 1926–1927.<ref name="Kahin">{{cite book|last=Kahin|first=Audrey R.|authorlink=|coauthors=|title=Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998|year=2005|publisher=Yayasan Obor Indonesia|location=|url=|doi=|ISBN=978-979-461-519-5|pages=|ref=Kahin}}</ref> Setelah kemerdekaan muncul [[PRRI]] yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain.<ref name="Syam">{{cite book|last=Syamdani|first=|authorlink=|coauthors=|title=[[PRRI]], Pemberontakan atau Bukan|year=2009|publisher=Media Pressindo|location=|url=|doi=|ISBN=978-979-788-032-3|pages=}}</ref> Dari beberapa perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman ([[merantau]]). [[Orang Sakai]] berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan bahwa mereka berasal dari Pagaruyung.<ref>{{cite book|last=Suparlan|first=Parsudi|title=Orang Sakai di Riau|edition=|year=1995|publisher=|location=|doi=|pages=73|ref=Suparlan}}</ref> [[Suku Kubu|Orang Kubu]] menyebut bahwa orang dari Pagaruyung adalah saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk masyarakat Minang yang melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman mereka karena tidak mau menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka. [[Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers|De Stuers]] sebelumnya juga melaporkan bahwa masyarakat ''[[Dataran Tinggi Padang|Padangsche Bovenlanden]]'' sangat berbeda dengan masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat begitu percaya diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk lokal lalu lalang begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah ada penduduk lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok tersebut.<ref name="Stuers"/>
1.458

suntingan