Wikipedia:Daftar artikel hoaks di Wikipedia/Kerajaan Sindangkasih: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi ''''Kerajaan Sindangkasih''' adalah kota kecamatan Majalengka Jawa Barat. Keberadaannya disebut sebagai cikal bakal sejarah Kabupaten Majalen...')
Tag: VisualEditor tanpa kategori
 
'''Kerajaan Sindangkasih''' adalah kota [[Majalengka, Majalengka|kecamatan Majalengka]] Jawa Barat. Keberadaannya disebut sebagai cikal bakal sejarah Kabupaten Majalengka. Sementara itu, dalam kewilayahan Kabupaten Majalengka sekarang ini berdasarkan besluit Pemerintah Belanda; Besluit Gubernur Jenderal D. J. de Eerens No. 11 Februari tahun 1840 Mengubah Kabupaten Maja menjadi Majalengka serta memindahkaj ibukota ke Sindangkasih dan mengubah nama Sindangkasih menjadi Majalengka. Secara de facto dalam wilayah yang disebutkan mencakup Kerajaan Sindangkasih, [[Kerajaan Talaga Manggung|Kerajaan Talaga]], [[Kerajaan Rajagaluh]] dan Kerajaan Jatiraga.<ref name=":0">Kartika, N. 2008. Sejarah Majalengka; Sindangkasih – Maja – Majalengka. Jatinangor: Uvula Press.</ref>
 
== Asal Usul ==
Tersebutlah sebuah kisah Istri Sultan Cirebon, mengalami sakit dan setelah diterawang oleh seorang ahli keraton ternyata obatnya adalah buah maja. Utusan Cirebon datang menghadap Ratu Sindangkasih untuk meminta buah Maja sebagai obat, tetapi Sang Ratu tidak memberikannya. Sang Ratu tidak peduli dan menunjukkan rasa benci terhadap orang Cirebon.
 
Kisah ini menjadi kontroversi karena tidak menggambarkan suasana kebudayaan Sunda sama sekali. Banyak pihak menganggap ketidakmukinan adanya pengabaian dari seorang ratu Sindangkasih ketika dimintai sebutir buah Maja untuk mengobati seseorang. hanyaSuatu tindakan yang mustahil dilakukan oleh orang Sunda serta sikap yang tidak menunjukkan sikap orang Sunda. Menurut pupuhu Sunda Majalengka, hal tersebut ''"henteu Nyunda"'' tak menunjukkan layaknya perilaku Sunda. Jadi peristiwa itu ditenggarai sebagai dongeng semata.
 
Selanjutnya kerajaan Sindangkasih berganti nama menjadi Majalengka berdasarkan ucapan para prajurit Cirebon yang mengatakan Maja Langka. Maksudnya buah Maja hilang atau tidak ada. Disusul dengan sang Ratu Sindangkasih yaitu Nyi Rambut Kasih ngahiyang. Kejadian ini diperkirakan pada tahun 1480 Masehi.
 
Kisah dari Cirebon tersebut hanya beruba babad atau epik kepahlawan tentang penggamabaran betapa sulitnya menyebarkan Islam di wilayah Majalengka. Kisah yang diragukan kebenarannya. Seperti umumnya sejarah yang ditulis oleh pemenang, tentu menimbulkan bias. kiniBanyak munculhal lagiyang versiirasional lainserta daritidak Cirebonmenunjukan dalamkronologi [[Naskahkejadian Mertasinga]],mengenai bahwaKisah kerajaanNyi SindangkasihRambut Kasih yang dimaksudberasal adalah wilayahdari beberdongeng-dongeng Cirebon.
 
kini muncul lagi versi lain dari Cirebon dalam [[Naskah Mertasinga]], bahwa kerajaan Sindangkasih yang dimaksud adalah wilayah beber Cirebon.
 
== Kerajaan Sindangkasih berupa Mandala ==
 
== Guru Resi Wangsa Ungkara ==
Seperti disinggung di atas, penulisSindangkasih adalah keturunansebuah WangsaMandala Ungkara.atau Siapakahtempat dia?suci Iadan adalahkawasan perdikan. Mandala ini dipimpin Guru Resi di Mandala Sindangkasih Majalengka.Keberadaanya sedangKeberadaanya ditelitidiidentifikasi oleh "Komara Sunda" -Komunitas Masyarakat Arkeologi Sunda, Bandung sejak tahun 2014.
 
Nama keluarga dari keturunan Wangsa Ungkara tidak dipergunakan lagi. Alasannya sebagai penegas dan pembeda antara Islam abangan dan Islam putih. Islam abangan biasanya masih berpengaruh di kalangan pelaksana pemerintahan sebagai kelanjutan kerajaan-kerajaan di masa itu. Akhirnya, keberadaan Wangsa Ungkara "hilang ditelan bumi". Alasan meraka sesuai pepatah Sunda ''"ulah Agul ku Payung Butut"'' jangan membangga-bangkan silsilah. Zaman telah berganti, penulisan silsilah dan ditunjukan kepada orang lain dianggap tidak sesuai zaman. Menurut Ekadjati (1988: 9), naskah yang berisi silsilah, sejarah leluhur, dan sejarah daerah pada masanya merupakan pegangan kaum bangsawan. Selain itu, naskah tersebut juga menjadi alat legitimasi bagi raja yang berkuasa. Pada masa lalu raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar sekali memamerkan silsilah atau asal-usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasa-annya. Namun, kini fungsi tersebut mengalami proses pelunturan, bahkan tidak berfungsi lagi.
 
Keturunan wangsa Ungkara semenjak Guru Resi Wang Ungkara tetap menjadi Para Ungkara atau pemberi nasihat keagamaan. Yang membedakannya adalah agamanya. Putra-putri Kyai Abhari (pengajar PUI masa kepemimpinan KH Abdul Halim), seperti Kyai Muchsin memperdalam Ilmu agama Islam di Pesantren-pesantren di Cirebon, diantaranya pesantren Ciwaringin.
 
== Sindangkasih dalam Wilayah Tatar Ukur ==
Sindangkasih merupakan salah satu umbul dalam pemerintahan Bupati Wedana Dipati Ukur. [[Dipati Ukur]] (Wangsanata atau Wangsataruna) adalah seorang bangsawan penguasa Tatar Ukur pada abad ke-17.
 
Tatar dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Sedangkan dipati (adipati) adalah gelar bupati sebelum zaman kemerdekaan.Dipati Ukur adalah Bupati Wedana Priangan yang pernah menyerang [[Vereenigde Oostindische Compagnie|VOC]] di Batavia atas perintah [[Sultan Agung dari Mataram|Sultan Agung]] dari [[Kesultanan Mataram]] pada tahun 1628. Serangan itu gagal, dan jabatan Dipati Ukur dicopot oleh Mataram. Untuk menghindari kejaran pasukan Mataram yang akan menangkapnya, Dipati Ukur dan pengikutnya hidup berpindah-pindah dan bersembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dihukum mati di Mataram. [[Umbul Sindangkasih]] yang dipimpin Ki Somahita atau [[Tumenggung Tanubaya]] terlibat dalam penangkapan Dipati Ukur.
 
[[Tumenggung Tanubaya]] (ki Somahita) menjadi Umbul Sindangkasih, yaitu Garda pertahan Mataram di Tatar Pasundan yang merupakan Wilayah Ukur dengan Bupati Wedana Dipati Ukur. Umbul Sindang Kasih adalah 1 dari 3 Umbul wilayah Ukur yang tidak patuh pada Dipati Ukur, hingga melaporkan Dipati Ukur ke Sultan Agung Mataram. Tumenggung Tanubaya menjadi Bupati di Kabupaten Parakanmuntjang dan membawahi Sindangkasih. Selanjutnya Parakanmuntjang oleh pemerintah kolonial Belanda digabungkan menjadi Kabupaten Sumedang.<ref>{{Cite web|url=https://sejarah-nusantara.anri.go.id/pagebrowser/icaatom-dasa-anri-go-id_339-ead-xml-1-2495/#page=0&accessor=thumbnails&source=1|title=(EN) Archive of the Governor-General and Councillors of the Indies (Asia), the Supreme Government of the Dutch United East India Company and its successors (1612 - 1811)|website=sejarah-nusantara.anri.go.id|access-date=2018-04-22}}</ref>
 
Sesepuh dan Budayawan Majalengka, Deddy Ahdiat pernah menggali asal usul Kota Majalengka secara supranatural yang diliput SCTV dalam program Potret, dan dikatakan bahwa Majalengka adalah Mataram peralihan. Awalnya membingungkan, ternyata benar bila mengikuti kisah penangkapan Dipati ukur tahun 1632.
 
Penangkapnya adalah tiga umbul dari Priangan Timur, yaitu Umbul Sukakerta (Ki Wirawangsa) atau [[Wiradadaha|Tumenggung Wiradadaha]], Umbul Cihaurbeuti (Ki Astamanggala) atau [[Tumenggung Wiraangunangun|Tumenggung Wirangunangun]] dan [[Umbul Sindangkasih]] (Ki Somahita) atau [[Tumenggung Tanubaya]]. Dipati Ukur kemudian dibawa ke Mataram dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati pada tahun [[1632]].
 
Berdasarkan data yang dikirimkan Raja Kerajaan Sumedang Larang, PrabuRangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.
 
* Batas di sebelah Timur adalah Garis Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
* Di sebelah Barat garis Citarum - Cisokan.
* Batas di sebelah Selatan laut.
* Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayahnya karena telah dikuasai oleh Cirebon.
 
== Sindangkasih bagian dari Kerajaan Sumedang Larang ==
Sejarah Kerajaan Sumedanglarang sangat berkaitan dengan Sindangkasih. Peta wilayah kekuasaan Sumedanglarang berubah-ubah beriringan dengan situasi politik yang menentukannya.
 
Cikal bakal kerajaan Sumedang larang adalah Kerajaan Tembong Ageung. [[Kerajaan Tembong Agung]] (Tembong artinya tampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh [[Prabu Guru Adji Putih|Prabu Guru Aji Putih]] pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang berasal dari kata Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan; aku menerangi dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya).
 
Prabu Guru Haji Putih berputra Prabu Resi Tadjimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410 Tadjimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340 - 1350) penguasa di Kawali dan tokoh Surya Dewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Talaga, Majalengka.
 
Masa keemasan Kerajaan Sumedang Larang di bawah pemerintahan Prabu Geusan Ulun. Masa kekuasaan [[Prabu Geusan Ulun]] (1578 - 1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
 
Sebelum [[Sri Baduga Maharaja|Prabu Siliwangi]] meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandaga Lante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yang pada dasarnya Kerajaan Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.
 
Dalam surat Rangga Gempol II menyebutkan Sindangkasih dengan kalimat "ditambah Sindangkasih" daerah muara Cideres ke Cilutung. Jadi wilayah ini berada di seberang Cilutung bila dilihat dari Sumedang. Sungai biasanya menjadi batas wilayah di tatar pasundan.
 
Sewaktu Kerajaan Sumedanglarang di bawah Mataram, terdapat Umbul Sindangkasih (bagian dari kabupaten[?] Parakanmuncang. [[Umbul Sindangkasih]] dipimpin Somahita. Saat itu, Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang Larang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedang Larang berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten atau VOC yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan VOC dan konflik dengan Kesultanan Banten.
 
Gambaran bahwa Kerajaan Sindangkasih tak jauh dari Cideres dan Cilutung. Daerah yang termasuk Kerajaan Sindang dengan wilayah kekuasaanya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakan Jawa, Munjul, dan Cijati. Bila dilihat kondisinya sekarang ini, menunjukkan Kecamatan Majalengka Sekarang. karena perkembangan zaman wilayahnya bertambah Tarikolot (mungkin dulu dimasukan ke Cijati), Cicurug, Sidamukti (mungkin dulu dimasukan ke Munjul), Cibodas (Mungkin dulu sudah dimasukan ke Sindangkasih), Cikasarung, Kawunggirang (mungkin dulunya perbatasan, dan yang masuk ke Sindangkasih hanya Kawunghilir? karena dahulu kawunghilir dan kawunggirang adalah satu desa yakni: Kawungluwuk).
 
Majalengka.
 
== Sindangkasih Diserahkan ke Cirebon ==
Sindang kasih adalah bagian [[Kerajaan Sumedang Larang]], hingga diserahkannya Sindangkasih ke Cirebon dalam kasus Putri Harisbaya dan Prabu Geusan Ulun. Drama dimulai ketika Raja Sumedang era 1578-1610, Prabu Geusan Ulun, berkunjung ke Cirebon dalam perjalanan pulang dari Kesultanan Pajang yang berpusat di Kartasura, dekat Solo. Pusat pemerintahan dan pendidikan Islam di Jawa kala itu telah dipindahkan dari Demak yang sudah runtuh tahun 1548 ke Pajang –tidak jauh dari Surakarta. Demak dan Pajang adalah penerus Majapahit dari wangsa Mataram.
 
Di Kraton Cirebon, Geusan Ulun bertemu dengan Ratu Harisbaya yang konon pernah menjadi kekasihnya. Dari situlah cinta lama bersemi kembali walau terlarang. Harisbaya secara diam-diam meminta kepada Geusan Ulun agar membawanya kabur meskipun ia masih istri sah Panembahan Ratu.
 
Prabu Geusan Ulun mengiyakan permintaan putri Harisbaya. Kemudian, Harisbaya dilarikan ke Sumedang (versi lain, sang putri ngumpet di kereta Geusan Ulun) pada tahun 1585 (Naskah Pustaka Kertabhumi 1-2). Tentu saja peristiwa ini memicu murka Panembahan Ratu yang segera mengirimkan pasukan untuk menyerbu. Konflik ini berakhir dengan perjanjian damai kendati Sumedang Larang harus menyerahkan wilayah Sindangkasih sebelah timu Cilutung sampai muara Cideres ke Kesultanan Cirebon. Penyerahan ini juga dimaksudkan sebagai pengganti talak Panembahan Ratu kepada Harisbaya<ref name=":0" />.
 
Cerita perselisihan antara Cirebon dan Sumedang ini pernah dituliskan oleh beberapa peneliti Barat, termasuk Veth, van Deventer, de Roo da Le Faille, dan juga dari cerita (babad) di Sumedang dan Cirebon dari Kraton Kasepuhan dan Kacirebonan (Asikin Wijayakusuma & R. Mohammad Saleh, Rucatan Sajarah Sumedang, 1960:51).
 
== Peninggalan ==
 
# Petilasan Nyi Rambut Kasih di DesaLeuwilenggik, desa Sindangkasih Kabupaten Majalengka
# Petilasan Gurupertapaan Gururesi Prabu Guru Adji Putih Kerajaan Tembong Agung di Gunung Balay Pancurendang Majalengka
# Kramat atau Kabuyutan mbah Bagala atau Bhagara di desa Sidomukti Cilutung Majalengka