Bahasa Mandailing: Perbedaan revisi

12 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
(+conten)
Tag: mengosongkan halaman
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Dibedakan atas temanya. Ende merupakan ungkapan hati, ekspresi kesedihan karena berbagai hal, misalnya kesengsaraan hidup karena kematian, ditinggalkan, dan lain-lain. Selain itu juga berisi pengetahuan, nasehat, ajaran moral, sistem kekerabatan, dan sebagainya. Ende ungut-ungut menggunakan pola pantun dengan persajakan ab-ab atau aa-aa. Sampiran biasanya banyak mengadopsi nama tumbuhan, karena adanya bahasa daun.
 
Contoh :
{{Verse translation|
{{lang|btm|'''[[Bahasa Mandailing]]'''
Beberapa tonggak sastra yang berkembang di masa kolonial antara lain:
* [[Willem Iskander]] (1840-1876) menulis buku
# “Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)
# “Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
# “Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)
# “Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)
 
* Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
# “Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)
# “Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.” (1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
# “Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.
 
* Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:
# Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)
# “Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut. Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.
# “Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.
* Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.
 
* Drama musikal tahun 1970an dalam kepingan tape kaset recorder.
* Drama "[[Sampuraga]] namaila marina".
* Album lagu Mandailing dalam kepingan vcd periode awal.
* Album lagu Tapsel, Madina, Palas dan Paluta.<ref name=askolani>{{citeweb |url=http://www.jendelasastra.com/wawasan/artikel/kesusastraan-mandailing |title =Kesusatraan Mandailing |publisher =www.jendelasastra.com |author=Askolani Nasution |date =27 Januari 2014}}</ref>
 
== Ragam bahasa ==
Berdasarkan klasifikasi bahasa yang ditawarkan Slamet Mulyana, Bahasa Mandailing termasuk [[rumpun bahasa Austronesia]].
Pangaduan Lubis ada mengemukakan bahwa di dalam bahasa Mandailing terdapat lima ragam bahasa yang masing-masing kosakatanya berbeda satu sama lain yaitu :<ref name =tulila/>
# ''Hata somal'' yaitu ragam bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.