Parahyangan: Perbedaan revisi

146 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
(Menolak perubahan teks terakhir (oleh 36.80.86.131) dan mengembalikan revisi 12553594 oleh HsfBot)
k
Sepeninggal [[Prabu Geusan Ulun]], kekuasaan Sumedang Larang diwariskan kepada anak tirinya, Raden [[Aria Suriadiwangsa]] ([[1608]]-[[1624]]). Tahun [[1620]], karena terjepit oleh tiga kekuasaan (Mataram di timur, Banten dan [[VOC|Kompeni]] di barat), Aria Suriadiwangsa memilih menyerahkan diri ke Mataram (ibunya, [[Ratu Harisbaya]], adalah saudara Sutawijaya). sejak saat itu, Sumedang Larang diubah menjadi Kabupaten Sumedang di bawah kekuasaan [[Mataram]], demikian pula wilayah lainnya yang kemudian menjadi bawahan Mataram yang diawasi oleh Wedana Bupati Priangan. Untuk jabatan Wedana Bupati Priangan, [[Sultan Agung]] memilih Aria Suriadiwangsa dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata ([[Rangga Gempol I]], [[1620]]-[[1624]]).
 
Ketika kekuasaan Priangan dipegang oleh Pangeran Rangga Gede (mewakili Rangga Gempol yang ditugaskan untuk menaklukkan daerah Sampang, Madura), Sumedang diserang Banten. Karena tidak mampu mengatasi serangan Banten, Rangga Gede kemudian ditahan di Mataram, sedangkan Priangan diserahkan kepada [[Dipati Ukur]], dengan syarat harus merebut Batavia dari VOC. Dipati Ukur saat itu menjabat Wedana Bupati Priangan di wilayah Bandung saat ini, yang membawahi wilayah Sumedang, [[Sukapura]], Bandung, [[Limbangan]], serta sebagian Cianjur, Karawang, [[Pamanukan, Subang|Pamanukan]], dan Ciasem. namun, karena gagal memenuhi syarat merebut Batavia ([[1628]]), dan sadar bahwa dirinya akan dihukum oleh Sultan Agung, Dipati Ukur berontak. Pemberontakan Dipati Ukur baru bisa dilumpuhkan pada tahun [[1632]], setelah Mataram dibantu oleh beberapa pemimpin Priangan. Jabatan Wedana Bupati Priangan selanjutnya diserahkan kembali kepada Rangga Gede.
 
Akibat pemberontakan Dipati Ukur, dalam Piagam Sultan Agung bertanggal 9 Muharam tahun Alip (menurut [[F. de Haan]], tahun Alip sama dengan tahun [[1641]] Masehi, tetapi ada beberapa keterangan lain yang menyebutkan bahwa tahun Alip identik dengan tahun [[1633]]), daerah Priangan di luar Galuh dibagi lagi menjadi empat kabupaten:
* Sumedang (Rangga Gempol II, sekaligus Wedana Bupati Priangan),
* Sukapura (Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, bergelar [[Wiradadaha|Tumenggung Wiradadaha]]),
* Bandung (Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, bergelar [[Tumenggung Wiraangun-angunWiraangunangun]]),
* Parakan Muncang (Ki Somahita [[Umbul Sindangkasih]], bergelar [[Tumenggung Tanubaya]]).
 
Wilayah Priangan kemudian dimekarkan dengan diubahnya Karawang menjadi kabupaten mandiri, sedangkan wilayah Galuh (Priangan Timur) dibagi empat kabupaten: Utama, Bojonglopang (Kertabumi), Imbanagara, dan Kawasen.
 
Sepeninggal Sultan Agung ([[1645]]), Mataram dipimpin oleh anaknya, Sunan Amangkurat I (Sunan Tegalwangi, [[1645]]-[[1677]]). Antara tahun [[1656]]-[[1657]], wilayah '''Mataram Barat''' (Mancanegara Kilen) dibagi menjadi dua belas ''ajeg'' sekaligus menghapus wedana bupati di Priangan: Sumedang, Parakan Muncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaja ([[Kerajaan Sunda|Galuh]]), Sekacé ([[Sindangkasih, Majalengka, Majalengka|Sindangkasih]]), Banyumas, Ayah (Dayeuhluhur), jeung Banjar (Panjer).
 
'''Referensi Lain Mengenai dipati Ukur'''
'''Dipati Ukur'''
 
Tanggal 12 Juli 1628, datang utusan Mataram ke Timbanganten ([[Tatar Ukur]]). Membawa surat tugas dari Sultan Agung, untuk memerintahkan Adipati Wangsanata atau disebut juga Wangsataruna alias Dipati Ukur, untuk memimpin pasukannya dan menyerbu [[Vereenigde Oostindische Compagnie|VOC]] di Batavia membantu pasukan dari Jawa. Waktu itu bulan Oktober tahun 1628. Dalam surat tersebut ada semacam perjanjian bahwa pasukan Sunda harus menunggu Pasukan Jawa di Karawang sebelum nantinya bersama-sama menyerang Batavia. Tapi, setelah seminggu ditunggu ternyata pasukan dari Jawa tak juga kunjung datang sementara logistic makin menipis. Karena logistic yang kian menipis dan takut kalau mental prajurit keburu turun maka Dipati Ukur pun memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke Batavia menggempur VOC sambil menunggu bantuan pasukan dari Jawa.
 
Baru dua hari Pasukan Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur berperang melawan VOC, pasukan Jawa datang ke Karawang dan mendapati bahwa Pasukan Sunda tak ada di sana. Tersinggung karena merasa tak dihargai, bukannya membantu pasukan Sunda yang sedang mati-matian menggempur VOC pasukan Jawa ini malah memusuhi Pasukan Sunda.