Buka menu utama

Perubahan

2 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
\
Seperti contoh, kajian lebih lanjut terhadap istilah ''tanha'' dan penjabarannya, mengindikasikan manusia tidak boleh serakah dan harus memiliki kontrol dalam mempergunakan atau mengkonsumsi sesuatu, termasuk sumber daya alam.<ref name=":4">Schmithausen, Lambert( 1997)''.[http://www.dharmaflower.net/_collection/earlybuddhist.pdf The Early Buddhist Tradition and Ecological Ethics].'' Journal of Buddhist Ethics. Hlm. 1-42</ref>Konsep ''[[ahimsa]]'' yang terdapat dalam ajaran Buddha yang berarti "tidak menyakiti" mengajarkan setiap manusia untuk tidak menyakiti hewan (termasuk manusia) dan tumbuhan, mengindikasikan perilaku hidup sebagai vegetarian yang harus di jalani umat Buddha. Namun demikian terdapat perbedaan tentang konsep ini sehingga tidak semua umat dan pemuka agama Buddha menjalani hidup sebagai vegetarian.<ref name=":4" />
 
====== Ajaran Buddha dan permasalahpermasalahan yang berkaitan dengan biomedis dan bioetika ======
Pada poin pertama dari empat kebenaran mulia, Sang Buddha mengajarkan aspek-aspek dari dukkha yaitu: kelahiran adalah dukkha, proses penuaan adalah dukkha, kematian adalah dukkha dan lain sebagainya. Ajaran Buddha memberikan perhatian pada kekurangan manusia tidak melalui fantasi mengerikan dari suatu penderitaan atau ''dukkha,'' melainkan penilaian secara realistis dari kondisi yang akan dialami manusia sperti kelahiran, pertambahan usia, kematian dan lain sebagainya. Kesehatan dan keterbebasan dari penyakit merupakan aspek penting dari kebahagiaan manusia, dan juga merupakan poin penting dalam ajaran Buddha. <ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/32052064|title=Buddhism & bioethics|last=1951-|first=Keown, Damien,|date=1995|publisher=St. Martin's Press|isbn=0312126719|location=New York|oclc=32052064}} Hlm. 1-2. "Buddhism draws attention to the shortcomings of human existence not out of a morbid fascination with suffering but in order to encourage a realistic appraisal of the human condition. ..." 
</ref>