Ernest Douwes Dekker: Perbedaan revisi

382 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
Menolak 12 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 11481560 oleh Rachmat-bot
(rv)
(Menolak 12 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 11481560 oleh Rachmat-bot)
|death_place= {{flagicon|Indonesia}} [[Kota Bandung|Bandung]], [[Jawa Barat]], [[Indonesia]]
|occupation= [[Politikus]], [[Wartawan]], [[Aktivis]], [[Penulis]]
|spouse= Clara Charlotte Deije<br />[[Johanna PetronellaP. Mossel]]<br />Haroemi Wanasita (Nelly Kruymel)
|childen=Koesworo Setiabuddhi
}}
'''Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker''' (umumnya dikenal dengan nama '''Douwes Dekker''' atau '''Danudirja Setiabudi'''; {{lahirmati|[[Kota Pasuruan|Pasuruan]], [[Hindia Belanda]]|8|10|1879|[[Kota Bandung|Bandung]], [[Jawa Barat]]|28|8|1950}}) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan [[Daftar pahlawan nasional Indonesia|pahlawan nasional]] [[Indonesia]].
 
== Kehidupan pribadi ==
Douwes Dekker terlahir di [[Pasuruan]], [[Jawa Timur]], pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di [[Universitas Zurich]], September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker, adalah seorang agen di bank kelas kakap ''[[Nederlandsch Indisch Escomptobank]]''. Auguste ayahnya, memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik [[Eduard Douwes Dekker]]) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di [[Pekalongan]], [[Jawa Tengah]], dari pasangan Jerman-Jawa.{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}} Dia terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara, dan keluarganya pun sering berpindah-pindah. Saudaranya yang perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) terlahir sewaktu keluarga Dekker berada di [[Surabaya]], dan adik laki-lakinya lahir di [[Meester Cornelis]], [[Batavia]] (sekarang [[Jatinegara]], [[Jakarta Timur]]) pada tahun 1883. Dari situ, keluarga Dekker berpindah lagi ke [[Pegangsaan]], [[Jakarta Pusat]].{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}}
 
Douwes Dekker menikah dengan [[Clara Charlotte Deije]] (1885-1968), anak dokter campuran [[Jerman]]-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (keduanya laki-laki). Yang bertahan hidup semuanya perempuan. Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai.
 
Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan [[Johanna Petronella Mossel]] (1905-1978), se[[orang Indo]] keturunan [[Yahudi]], pada tahun 1927. Johanna adalah guru yang banyak membantu kegiatan kesekretariatan [[Ksatrian Instituut]], sekolah yang didirikan Douwes Dekker. Dari perkawinan ini mereka tidak dikaruniai anak. Di saat Douwes Dekker dibuang ke [[Suriname]] pada tahun 1941 pasangan ini harus berpisah, dan di kala itu kemudian Johanna menikah dengan Djafar Kartodiredjo, yang juga merupakan seorang Indo (sebelumnya dikenal sebagai Arthur Kolmus), tanpa perceraian resmi terlebih dahulu. Tidak jelas apakah Douwes Dekker mengetahui pernikahan ini karena ia selama dalam pengasingan tetap berkirim surat namun tidak dibalas.[http://m.kompasiana.com/ibuseno/nyadran-bertemu-makam-istri-douwes-dekker-di-utoro-loyo_552ff9896ea834f5798b4577]
 
Sewaktu Douwes Dekker "kabur" dari Suriname dan menetap sebentar di Belanda (1946), ia menjadi dekat dengan perawat yang mengasuhnya, Nelly Alberta Geertzema née Kruymel, seorang Indo yang berstatus janda beranak satu. Nelly kemudian menemani Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran pulang ke Indonesia agar tidak ditangkap [[intelijen]] Belanda. Mengetahui bahwa Johanna telah menikah dengan Djafar, Douwes Dekker tidak lama kemudian menikahi Nelly, pada tahun 1947. Douwes Dekker kemudian menggunakan nama Danoedirdja Setiabuddhi dan Nelly menggunakan nama Haroemi Wanasita, nama-nama yang diusulkan oleh Sukarno. Sepeninggal Douwes Dekker, Haroemi menikah dengan Wayne E. Evans pada tahun 1964 dan kini tinggal di [[Amerika Serikat]].
 
=== Dalam pembuangan di Eropa ===
[[Berkas:Ki Hadjar Dewantara, with Dekker and Mangunkusuma (page 40).jpg|jmpl|ki|200px|[[Ki Hadjar Dewantara]], Douwes Dekker dan [[Tjipto Mangoenkoesoemo]] ([[Tiga Serangkai]]) tahun 1914 saat diasingkan di Negeri Belanda]]
[[Berkas:Zürich - Universität Zürich IMG 1204.JPG|thumb|200px|Universitas Zurich, tempat Ernest Douwes Dekker menempuh pendidikan tingginya.]]
Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di [[Universitas Zürich]], [[Swiss]], dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya. Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura (1918). Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920.