Buka menu utama

Perubahan

32 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
 
==== Pembalasan dendam ====
[[Berkas:Tibo Group Movements, May 2000.svg|thumbjmpl|leftkiri|Pergerakan kelompok [[Fabianus Tibo|Tibo]] dari [[Kelei, Pamona Timur, Poso|Kelei]] hingga ke [[Tentena]] pada bulan Mei 2000]]
Pada pagi hari tanggal 23 Mei, sekelompok pasukan bertopeng ala ninja membunuh seorang polisi, [[Sersan]] [[Mayor]] Kamaruddin Ali, dan dua warga sipil Muslim, yang masing-masing bernama Abdul Syukur dan Baba. Kelompok ninja ini kemudian dilaporkan bersembunyi di sebuah gereja Katolik di Kelurahan [[Moengko, Poso Kota, Poso|Moengko]].{{sfn|Aragon|2001|p=66}} Kelompok tersebut, termasuk Tibo, mulai bernegosiasi dengan polisi untuk menyerah.{{sfn|Aragon|2001|p=67}} Kerumunan warga Muslim mulai berkumpul di depan gereja, dan bukannya menyerahkan diri, Tibo serta yang lainnya justru melarikan diri ke perbukitan di belakang kompleks gereja. Gereja tersebut dibakar pada pukul 10.00 pagi dan pertempuran terjadi di seluruh kota, yang paling parah di [[Sayo, Poso Kota Selatan, Poso|Sayo]], dimana sepuluh orang terluka terkena panah dan lemparan batu. Gubernur kembali mengisyaratkan bahwa ada pihak-pihak luar —merujuk kepada status imigran Tibo— yang menjadi provokator, sementara kepolisian mengumumkan bahwa tiga tersangka dari kelompok ninja telah ditahan dan dibawa ke Palu setelah dikeroyok oleh massa Muslim. Dua minggu kemudian tiga orang yang diduga sebagai provokator, diidentifikasi sebagai Yen, Raf, dan Leo, ditahan atas tuduhan menghasut kerusuhan pada tanggal 23 Mei.{{sfn|Human Rights Watch|2002|p=17}}
 
==== Meluasnya pertempuran ====
{{main|Pembantaian pesantren Walisongo 2000}}
[[Berkas:Key locations of May-June 2000 Poso riots.svg|thumbjmpl|rightka|Lokasi-lokasi utama dalam Kerusuhan Mei-Juni 2000 di Poso]]
Pada tanggal 28 Mei, serangan meluas terhadap warga Islam terjadi di beberapa desa di kabupaten ini. Dalam sebuah peristiwa yang paling terkenal, sekelompok orang Kristen —beberapa sumber menyebut bahwa Tibo dan kelompoknya ikut berpartisipasi— mengelilingi Desa [[Sintuwulemba, Lage, Poso|Sintuwu Lemba]], yang juga dikenal sebagai Kilo Sembilan.{{efn|Merujuk kepada jarak desa ini ke ibu kota Poso. Desa ini dihuni oleh para petani [[kakao]] sukses dari [[Jawa]] yang dipindahkan dari wilayah transmigrasi di Sulawesi Selatan.}}{{sfn|Aragon|2001|p=68}} Para wanita dan anak-anak ditangkap dan beberapa di antaranya mengalami [[pelecehan seksual]]. Sekitar tujuh puluh orang berlari ke pesantren terdekat —[[Pesantren Walisongo]]— dimana banyak warga Muslim dibunuh dengan senjata api dan parang, tanpa peduli mereka menyerah atau tidak. Mereka yang kabur, berhasil ditangkap untuk kemudian dieksekusi dan mayatnya dilemparkan ke [[Sungai Poso]].<ref name=SYDNEY29JUNI2000>{{cite web|url=https://www.library.ohio.edu/indopubs/2000/06/29/0030.html|title=Religious killing fields spread across the ugly new Indonesia |website=[[Sydney Morning Herald]]|via=Indopubs|date=29 Juni 2000|access-date=2 Desember 2017}}</ref> Tiga puluh sembilan mayat kemudian ditemukan di tiga kuburan massal, meskipun sebuah sumber Islam memperkirakan total 191 kematian dalam serangan tersebut. Seorang warga yang selamat dari serangan tersebut mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya kembali ditangkap empat hari kemudian dan dibawa ke sungai untuk dieksekusi, namun ia sekali lagi berhasil lolos dan selamat.{{sfn|McBeth|Murphy|2000|p=1}}<!--Serangan terhadap Kilo Sembilan merupakan bagian dari serangan yang lebih luas terhadap desa-desa mayoritas Islam. Seorang warga Muslim di Desa Tabalu terdekat mengatakan kepada Human Rights Watch:-->
 
== Pasca kerusuhan ==
=== Operasi militer dan polisi ===
Setelah kerusuhan mulai surut, Mabes Polri di Jakarta bergerak dengan mendirikan Komando Lapangan Operasi. Melalui kebijakan dari Jakarta, operasi militer di Poso dilaksanakan dengan berbagai sandi operasi. [[Operasi Sadar Maleo]] digelar pada tahun 2000, dengan BKO (badan kendali operasi) Polres Poso. Satuan-satuan TNI yang bergabung dalam operasi tersebut adalah [[Batalyon Infanteri 711|Batalyon Infanteri 711/Raksatama]] Poso, [[Batalyon Infanteri 726|Batalyon Infanteri 726/Tamalatea]] Makassar, [[Batalyon Infanteri 721|Batalyon Infanteri 721/Makassau]] [[Kota Palopo|Palopo]], dan [[Batalyon Zeni Tempur 8|Batalyon Zeni Tempur 8]] Makassar. Di sisi lain, satuan kepolisian termasuk [[Polda Sulsel|Brimob Polres Pare-Pare]], [[Polda Sulsel|Brimob Polres Makassar]], Perintis dan [[Polda Sulteng|Satuan Intel Polda Sulawesi Tengah]].{{sfn|KontraS|2004|p=42}}
 
Mobilisasi kekuatan TNI-Polri melalui sandi [[Operasi Sintuwu Maroso]] terjadi setiap tahunnya, dan pada pertengahan bulan April 2004, operasi ini kembali diperpanjang.{{sfn|LPS-HAM|2004|p=2}} Satuan TNI dan Polri yang dimasukkan ke dalam BKO operasi ini, termasuk [[Polda Papua|Brimob Polda Papua]], [[Polda Kaltim|Brimob Polda Kalimantan Timur]], Brimob Kelapa Dua Bogor, [[Polda Jateng|Brimob Polda Jawa Tengah]], [[Polda Sulut|Brimob Polda Sulawesi Utara]], [[Polda Sultra|Brimob Kendari]], Brimob Polres Pare-Pare, Brimob Polres Makassar, [[Brimob#Pelopor|Resimen Pelopor]] dan [[Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah|Brimob Polda Sulawesi Tengah]]. Untuk TNI, satuan yang di BKO-kan adalah Batalyon Infanteri 711/Raksatama Palu, [[Batalyon Infanteri 712|Batalyon Infanteri 712/Wiratama]] Manado, [[Batalyon Infanteri 713|Batalyon Infanteri 713/Satyatama]] [[Kota Gorontalo|Gorontalo]], Batalyon Infanteri 721/Makassau Palopo, dan [[Batalyon Artileri Medan 6|Batalyon Artileri Medan 6/Tamarunang]] Makassar. Pasukan gabungan ini ditempatkan di 142 pos penjagaan, dimulai dari Desa [[Tumora, Poso Pesisir Utara, Poso|Tumora]] hingga ke perbatasan Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Selatan, Desa [[Mayoa, Pamona Selatan, Poso|Mayoa]].{{sfn|KontraS|2004|p=42}}
 
== Pengungsi internal ==
[[Berkas:Puing-puing Kerusuhan Poso.jpg|thumbjmpl|rightka|Puing-puing rumah dalam Kerusuhan Poso]]
Dengan gelombang kekerasan yang terus-menerus terjadi, masyarakat melarikan diri ke daerah-daerah dengan mayoritas agama yang mereka anut: Muslim pergi ke [[Kota Palu|Palu]], [[Ampana]], [[Parigi, Parigi Moutong|Parigi]], hingga [[Sulawesi Selatan]], sementara [[Kekristenan di Poso|Kristen]] melarikan diri ke [[Tentena]] dan Napu di wilayah pegunungan, atau [[Manado]] di [[Sulawesi Utara]]. Pada bulan Januari 2002, setelah Deklarasi Malino ditandatangani, angka dari kantor pemerintah untuk mengkoordinasikan respon kemanusiaan dalam konflik memperkirakan jumlah total 86.000 pengungsi di Sulawesi Tengah. [[Gereja Kristen Sulawesi Tengah]] memperkirakan 42.000 pengungsi di basis daerah Kristen di kabupaten lainnya.<ref name=PGN1>{{cite web|title=Estimates of the government Implementation Coordination Unit (Satkorlak)|date=Januari 2002|access-date=21 November 2016}}</ref><ref name=PGN2>{{cite web|title=Crisis Center of the Central Sulawesi Christian Church|date=Desember 2001|access-date=21 November 2016}}</ref>