William Godwin: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-Nampak, +Tampak; -nampak, +tampak; -Nampaknya, +Tampaknya; -nampaknya, +tampaknya)
k (Bot: penggantian teks semi otomatis (-Obyek, +Objek; -obyek, +objek))
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Nampak, +Tampak; -nampak, +tampak; -Nampaknya, +Tampaknya; -nampaknya, +tampaknya))
...Pendidikan publik selama ini selalu mencurahkan energinya dalam mendukung prasangka; ia bukan mengajarkan kepada murid-muridnya kegigihan yang akan membawa setiap dalil kepada pembuktiannya, melainkan mengajarkan seni untuk mensucikan ajaran-ajaran seperti itu karena berpeluang untuk dimapankan. Kita mempelajari Aristoteles, atau Thomas Aquinas, atau Bellarmine, atau hakim ketua Coke, bukan agar kita bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan mereka, tetapi agar pikiran kita bisa dipenuhi dengan absurditas-absurditas mereka. Ciri ini tampak di setiap spesies kemapanan publik... pelajaran-pelajaran utama yang diajarkan adalah pemujaan yang bersifat tahayul kepada gereja Inggris, dan membungkuk hormat kepada setiap orang yang mengenakan jas necis. Semua ini bertentangan dengan kepentingan umat manusia yang sesungguhnya. (Keadilan Politik, VI, viii.)
 
Milton telah menulis sebuah puisi sublim tentang cerita konyol perihal memakan sebuah apel, dan tentang dendam abadi yang dideklarasikan oleh Sang Maha Kuasa terhadap seluruh umat manusia, karena nenek moyang mereka bersalah atas pelanggaran yang kelam dan menjijikkan ini. Tujuan puisi ini, sebagaimana dikatakan Milton kepada kita, adalah untuk menjustifikasi cara-cara Tuhan kepada manusia. (B. I, ver. 25). Namun, salah satu hal paling mengesankan yang dengan sendirinya terlihat dari topik ini ialah, bahwa moral yang sesungguhnya dan kesimpulan jelas dari sebuah karangan seringkali tersembunyi selama berabad-abad dari para pembacanya yang paling giat. Kitab-kitab telah diturunkan dari generasi ke generasi sebagai guru sejati yang suci dan perwujudan cinta Tuhan, yang mewakili dia sebagai sesosok ''despot''[1] yang bersifat tirani dan tanpa belas kasihan, sehingga apabila kitab tersebut dipertimbangkan dengan cara-cara selain lewat medium prasangka, maka kitab tersebut tidak bisa mengilhamkan apapun selain kebencian. NampakTampak bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku bergantung kurang-lebih pada isi sebenarnya, ketimbang pada situasi pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
== Apa yang sebaiknya dipelajari anak-anak? ==